Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Sadawi Satukan Petani, BUMDes dan Investor, Melon Kalianget Barat Siap Tembus Pasar Ekspor

Hendriyanto • Senin, 15 Desember 2025 | 02:21 WIB

TONGGAK BARU: Petani melon di Kalianget Barat kedatangan pengusaha yang siap membawa melon Sumenep go internasional.
TONGGAK BARU: Petani melon di Kalianget Barat kedatangan pengusaha yang siap membawa melon Sumenep go internasional.

SUMENEP, RadarMadura.id – Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, mencatat tonggak penting dalam perjalanan transformasi ekonomi desa. Sadawi, yang dikenal luas dengan nama Awiek Sanders, menginisiasi pertemuan strategis bersama para petani melon di Kecamatan Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget, pada hari ini. Pertemuan tersebut menjadi momentum awal perubahan arah pengembangan komoditas unggulan desa menuju pasar nasional dan internasional.

Selama puluhan tahun, Kalianget dikenal sebagai sentra produksi garam. Identitas wilayah ini lekat dengan tambak-tambak garam yang membentang luas. Namun kini, narasi itu mulai diperluas. Kalianget Barat bersiap menegaskan identitas baru sebagai penghasil melon premium yang berorientasi ekspor.

Pertemuan yang digelar tidak sekadar diskusi rutin petani, melainkan forum pengambilan keputusan bisnis strategis. Fokus utama pembahasan adalah penguatan budidaya melon berbasis sistem green house, metode pertanian modern dengan pengendalian iklim, cahaya, kelembapan, dan nutrisi secara presisi.

Sistem green house dinilai sebagai solusi atas berbagai tantangan klasik pertanian, mulai dari cuaca ekstrem, serangan hama, hingga ketidakseragaman kualitas hasil panen. Dengan pendekatan ini, petani Kalianget Barat mampu menghasilkan melon dengan tingkat kemanisan terukur, bentuk seragam, kualitas stabil, serta daya simpan lebih panjang sesuai standar pasar ekspor.

“Ini bukan sekadar teknologi, tapi lompatan cara berpikir petani. Dari bertani musiman menuju industri pertanian berbasis mutu dan keberlanjutan,” ujar Sadawi selaku Praktisi Financial Market & Founder PT. AM Capital International.

Baca Juga: SMK Darul Amin Suguhkan Wisata Petik Melon

Dalam pertemuan tersebut, Sadawi mengambil peran strategis dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan kunci. Hadir BUMDes Setia Makmur yang diwakili Dani, Direktur PT AM Capital International Zaini, serta Direktur Legal PT Ekspor Indonesia Jaya, perusahaan eksportir yang telah menjangkau pasar di lebih dari 150 negara.

Kehadiran para pihak tersebut menegaskan bahwa pengembangan melon Kalianget Barat diarahkan pada skema bisnis nyata. Petani tidak lagi berjalan sendiri. BUMDes berfungsi sebagai penguat kelembagaan desa, pengelola tata niaga, dan distribusi. PT AM Capital International berperan sebagai penghubung pembiayaan dan jejaring bisnis, sementara mitra eksportir membuka akses langsung ke pasar global.

“Sudah saatnya melon dari Kalianget Barat tidak hanya berhenti di pasar lokal. Melon ini harus hadir di rak-rak pasar internasional, membawa nama desa, Sumenep, dan kebanggaan Madura,” tegas Sadawi.

Ia menambahkan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya jangka panjang membangun kedaulatan ekonomi desa. Pertanian, menurutnya, tidak boleh lagi diposisikan sebagai sektor subsisten, melainkan harus naik kelas menjadi industri desa bernilai tambah tinggi.

“Melon adalah pintu masuknya. Kita punya tanah, petani yang ulet, dan sekarang kita punya arah,” ungkapnya.

DUDUK BARENG: Sadawi menfasilitasi petani, BUMDes dengan pengusaha melon.
DUDUK BARENG: Sadawi menfasilitasi petani, BUMDes dengan pengusaha melon.

Sadawi juga mengajak seluruh petani melon se-Kabupaten Sumenep, khususnya di Kalianget Barat, untuk mengembangkan budidaya secara profesional. Ia menekankan pentingnya disiplin kualitas, konsistensi produksi, dan kesiapan beradaptasi dengan standar global.

“Pasar internasional tidak bisa ditipu. Yang dicari adalah produk yang terstandar, aman, dan berkelas. Kualitas bukan pilihan, tapi kewajiban,” ujarnya.

Pertemuan tersebut tidak berhenti pada tataran wacana. Para pihak secara tegas menyepakati realisasi transaksi perdana (pecah telur) yang akan dimulai pada Januari 2026 dan berlangsung kontinu hingga Desember 2026.

Dalam fase awal, telah disepakati tonase pengiriman sebagai langkah uji pasar dan penguatan kepercayaan antar pihak. Kesepakatan ini menjadi instrumen penting dalam menjaga disiplin produksi, kualitas panen, dan kesinambungan suplai.

Langkah tersebut mencerminkan pendekatan bisnis berbasis eksekusi. Setiap keputusan diturunkan menjadi agenda kerja dan diterjemahkan dalam transaksi nyata. Kalianget Barat pun resmi memasuki fase implementasi agribisnis berorientasi nasional dan ekspor.

Baca Juga: Ajak Masyarakat Peduli Ekosistem Pesisir, GEA Akan Gelar Festival Mangrove di Kalianget

Apa yang dimulai hari ini menjadi fondasi jangka panjang transformasi ekonomi desa. Dari wilayah yang selama ini dikenal sebagai sentra garam, kini Kalianget Barat menyiapkan diri sebagai penghasil melon premium yang siap bersaing di pasar dunia.

Ketika petani, BUMDes, dan pelaku usaha bergerak dalam satu arah, desa tidak hanya bertahan, tetapi melompat jauh ke depan. Melon Kalianget Barat bukan sekadar komoditas, melainkan simbol perubahan dan keberanian desa berbicara di panggung global. (*/dry)

Editor : Hendriyanto
#ekspor #Melon #sumenep #green house #kalianget