SUMENEP, RadarMadura.id - Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Sumenep berlangsung di Pondok Pesantren (Ponpes) Annuqayah Latee, Guluk-Guluk, kemarin (7/12). Konferensi berlangsung dengan penuh khidmat.
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep periode 2020 - 2025, KH A. Pandji Taufik menyatakan, banyak dinamika sosial yang terjadi di masa kepengurusan. Mulai dari kesenjangan sosial, hingga persoalan ekologis.
Nyaris seluruh garis pantai di pesisir Sumenep kini terancam aktivitas budi daya udang.
Kegiatan itu dapat mencemari lingkungan. Selain itu, masyakarat juga dihadapkan dengan aktivitas pertambangan di berbagai daerah di Kota Keris.
”Mereka bergerak tanpa analisis dampak lingkungan (amdal) yang benar-benar substantif. Secara administratif mungkin ada, tetapi prosesnya sering kali minim. Ini menjadi kekhawatiran kita bersama,” terangnya.
Kabupaten Sumenep sering kali dibanggakan sebagai daerah yang kaya sangat paradoks. Namun kenyataannya masih menyisakan masalah.
”Jika tidak salah, kemiskinan menempati peringkat ketiga termiskin di Jawa Timur,” ucapnya.
Maka, ke depan NU harus terus berdampak. ”Tinggal bagaimana kita merangkai langkah-langkahnya dengan baik. Insyaallah, ini akan kita bahas dan perbaiki bersama dalam konferensi ini,” jelasnya.
Pihaknya berharap konfercab dapat melahirkan ketua PCNU yang lebih baik, progresif dan visioner. Sehigga, pengelolaan NU di Sumenep semakin baik ke depannya.
”Yang menjadi tantangan kita berikutnya bagaimana mendorong dari wakil cabang hingga ranting tidak hanya hadir secara struktural, tapi juga aktif dan berdaya dalam menggerakkan jamiyah,” tandasnya. (tif/jup)
Editor : Amin Basiri