Warkop Cuan Digandrungi Anak Muda, Tempat Tongkrongan Nyaman untuk Garap Tugas, Diskusi, dan Kreativitas
Hera Marylia Damayanti• Sabtu, 6 Desember 2025 | 20:31 WIB
RAMAH: Salah satu pelayan Warkop Cuan sedang menyediakan pesanan pelanggannya Jumat (5/12). (CUAN UNTUK JPRM)
SUMENEP, RadarMadura.id – Jika sedang berada di Kota Sumenep, tak perlu bingung bila ingin sekadar bersantai. Di Jalan Adirasa ke arah timur Taman Tajamara berdiri Warkop Cuan. Tempat tersebut cocok untuk dijadikan tempat mengisi waktu luang sambil ngobrol bersama teman.
Daya tarik utama Warkop Cuan adalah suasananya yang nyaman dan cocok untuk semua kalangan. Warkop ini juga menjadi tempat favorit untuk komunitas lokal yang ingin mengadakan gathering ataupun diskusi. Warkop dengan konsep lesehan ini sering dijadikan tempat diskusi komunitas, nonton bareng pertandingan sepak bola, dan workshop kreatif.
Owner Warkop Cuan Andy Eka Fantri menuturkan, tempat usahanya dibangun sebagai tempat nongkrong yang tidak hanya menyajikan menu lezat dengan harga terjangkau. Tetapi, juga dapat memberikan pengalaman bersantai yang nyaman dengan pelayanan prima.
Dia mendirikan kafe tersebut lantaran berpandangan, di Sumenep belum ada pilihan tempat nongkrong yang sesuai dengan selera anak muda, terutama mahasiswa. ”Tempat ini memang didesain untuk menjadi pilihan tempat bagi yang ingin menghabiskan waktu bersama teman maupun keluarga,” terangnya.
Kata Andy, warkop yang telah didirikan pada 2020 itu sejak awal memang dikonsep berbeda dengan kebanyakan kafe di Sumenep. ”Kami ingin memberikan kesan berbeda bagi pengunjung, terutama mahasiswa yang menjadi sasaran utama kami. Karena konsep lesehan ini banyak disenangi mahasiswa,” jelasnya.
AKTIF: Sejumlah mahasiswa tengah mengerjakan tugas di Warkop Cuan, Jalan Adirasa, Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep, Jumat (5/12). (MOH. LATIF/JPRM)
Dia menuturkan, tujuan dipertahankannya konsep lesehan ini agar warungnya bisa memuat banyak orang. Sehingga, enak dijadikan tempat diskusi oleh mahasiswa. Dengan duduk lesehan, banyak yang suka, terutama mahasiswa.
”Terkadang mahasiswa melakukan kerja kelompok, pertemuan, dan diskusi di sini. Itu yang jadi pembeda dari kafe yang lain,” ujarnya.
Sebagai tempat nongkrong yang mengusung konsep tak menguras cuan, tempat ini menawarkan beragam pilihan menu yang ramah di kantong. Mulai dari minuman, makanan ringan, hingga makanan berat.
”Kalau dari menu kita tidak ada yang istimewa. Seperti biasa, ada kopi, es teh, dan lainnya. Kalau makanan ada bakso bakar, gorengan dan lainnya. Intinya yang bisa dijangkau oleh teman-teman mahasiswa. Saya senang ketika didatangi mahasiswa, melihat mereka mengerjakan tugas dan berdiskusi di Warkop Cuan,” ulasnya.
Andy menjelaskan, untuk mempertahankan eksistensi tempat usahanya, ada beberapa strategi yang dilakukan. Yakni, memasarkan produk secara online dan offline. Untuk offline, cara untuk menarik pelanggan yakni dengan mengadakan live music, dan nonton bareng pertandingan sepak bola.
”Sementara pemasaran produk secara online, yakni melalui media sosial yang bekerja sama dengan jasa ekspedisi. Kami buka mulai pukul 09.00 pagi hingga pukul 12.00,” ucapnya.
Warkop Cuan yang berlokasi di pusat Kota Sumenep selalu menjadi pilihan utama bagi kawula muda dan mahasiswa. Alasannya, harga menu yang ditawarkan tidak menguras kantong.
Selain itu, lokasinya yang strategis dan lahan parkir representatif juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. ”Dengan membawa uang Rp 10.000 sudah bisa ngopi dengan nyaman di sini,” kata Owner Warkop Cuan Andy Eka Fantri.
NGOBROL: Sejumlah mahasiswa tengah melakukan pertemuan di Warkop Cuan, Jalan Adirasa, Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep, Jumat (5/12). (MOH. LATIF/JPRM)
Dijelaskan, Rp 10.000 itu sudah bisa mendapatkan secangkir kopi lokal dan sebotol air kemasan untuk melepas dahaga. Warkop minimalis ini juga menyediakan berbagai makanan ringan hingga berat.
”Untuk makanan ringan itu disuplai oleh penduduk sekitar. Seperti bakso bakar, aneka gorengan, dan berbagai snack lainnya. Dengan begitu, bisa membantu perekonomian masyarakat sekitar,” terangnya.
Menurutnya, jajanan ringan itu cukup murah. Mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 3.000. Sementara untuk makanan berat, tersedia mi goreng, nasi goreng dan ayam geprek yang dibanderol dengan harga Rp 15.000.
”Kebetulan, di sini pelanggannya rata-rata mahasiswa. Jadi, tarifnya disesuaikan dengan kantong mereka,” tandasnya. (tif/yan)