SUMENEP, RadarMadura.id – Jumlah kasus kematian akibat tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Sumenep mencapai puluhan orang. Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep mencatat, sejak Januari hingga November 2025, terdapat 53 warga meninggal akibat penyakit tersebut.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Sumenep Achmad Syamsuri menyampaikan, sebagian besar pasien TBC yang meninggal dunia disertai dengan komplikasi penyakit lain. Menurutnya, mereka rata-rata berusia dewasa dan meninggal di rumah sakit.
”Hampir semua pasien yang meninggal masih dalam proses pengobatan intensif di rumah sakit, karena datang sudah dalam kondisi sakit berat dan pasien memiliki penyakit penyerta,” terangnya.
Dinkes P2KB mencatat ada 2.294 kasus baru TBC hingga Oktober 2025. Meski angka kematian akibat TBC masih mengkhawatirkan, dia menyatakan jumlah kematian tahun ini menurun dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya.
”Tahun ini mencapai 53 orang, sementara pada 2024 130 orang dan tahun 2023 sebanyak 113 orang,” tuturnya.
Dia menegaskan, penurunan angka ini menunjukkan adanya perbaikan dalam penanganan TBC di lapangan. Menurutnya, tim puskesmas terus bergerak untuk mengedukasi meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri.
”Yang paling penting adalah deteksi dini dan pendampingan agar pengobatan pasien dapat tuntas,” ujarnya.
Dijelaskan, kunci keberhasilan pengobatan TBC terletak pada kedisiplinan. Jika pasien berhenti melakukan pengobatan di tengah jalan, maka risiko komplikasi dan kematian akan meningkat. Upaya pengobatan itu harus didukung dengan peningkatan peran keluarga dalam memastikan pasien rutin menjalani pengobatan sesuai jadwal yang telah ditentukan.
”Kami harap penurunan angka kematian akibat TBC di Sumenep dapat terus berlanjut,” harapnya.
Terpisah, Kepala Dinkes P2KB Sumenep Ellya Fardasah memaparkan, meningkatnya jumlah temuan kasus TBC bukanlah pertanda buruk. Menurutnya, hal itu menjadi bukti program deteksi dini berjalan dengan baik.
”Semakin banyak temuan makin baik. Artinya, upaya pengobatan bisa dilakukan lebih masif,” ujarnya.
Ellya menambahkan, untuk menekan potensi penularan, Dinkes P2KB Sumenep terus menggencarkan gerakan: Temukan, Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis (TOS TB) yang dilaksanakan serentak di berbagai daerah di Indonesia. Dia berharap, deteksi dini juga dilakukan mandiri oleh masyarakat.
”Apabila sudah batuk selama tiga minggu dan meriang di malam hari, itu tanda-tanda TBC. Maka, harus segera periksakan diri agar segera mendapatkan penanganan,” pintanya. (tif/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti