Oleh: Akhmadi Yasid (Anggota DPRD Sumenep)
Saya masih ingat betul. Medio pertengahan tahun 2009. Seorang anak muda datang melamar jadi wartawan di Jawa Pos Radar Madura, biro Sumenep. Namanya Faisal Warid.
Tampilannya waktu itu, jujur saja: tidak meyakinkan. Saya yang saat itu menjabat Kepala Biro sempat berpikir: masak bisa anak ini jadi wartawan?
Tubuhnya kurus kering, wajahnya kalem, senyumnya irit khas. Tapi ada sesuatu yang lain: tatapan matanya tenang. Tidak banyak bicara, tapi seperti menyimak setiap kata.
Ternyata, itulah modal utamanya.
Bukan gaya, bukan suara keras, bukan pula keberanian asal nekat. Tapi ketelatenan dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa.
Dalam waktu singkat, dia bisa menyelami ritme dunia wartawan yang keras dan cepat. Tak banyak protes, tapi hasil liputannya rapi. Tak menonjol di keramaian, tapi tiba-tiba muncul di halaman utama.
Sayang, tak lama dia memilih resign. Saat ada tugas baru di luar Sumenep. Iklim dan ruang kerja kehilangan satu anak muda kalem tapi efektif, ketika itu.
Belakangan saya dengar dia pindah ke RRI Sumenep. Dunia yang sama kerasnya, tapi lebih rapi. Di sana, Warid terus menapaki karier dengan ciri khasnya: tidak banyak bicara, tapi tahu kapan harus bicara.
Dan hari ini, saya kembali terkejut.
Dia terpilih menjadi Ketua PWI Sumenep periode 2025–2028.
Lebih terkejut lagi karena saya tahu betul: dia begitu dekat dengan Syamsul Arifin, ketua PWI sebelumnya — yang juga kandidat dalam konferensi yang berlangsung hari ini.
Keduanya itu ibarat dua sisi mata uang: berbeda, tapi tak bisa dipisahkan. Dalam urusan organisasi, termasuk urusan luar bahkan. Termasuk urusan “paha dan pahala” — meminjam istilah para wartawan yang sering ngopi sore di depan kantor dulu.
Tapi bukan Warid namanya kalau tidak nyentrik. Ketika banyak orang bertarung untuk kursi, dia justru melangkah pelan. Ketika banyak orang bicara keras, dia malah tersenyum.
Dan tiba-tiba—aklamasi! Syamsul sendiri mendukungnya.
Itulah Warid. Orang yang kadang tidak tampak, tapi selalu ada di saat penting. Yang tidak menonjol, tapi menancap di ingatan. Yang dulu saya ragukan bisa jadi wartawan, kini memimpin wadah wartawan di Sumenep.
Sekarang dia di puncak organisasi wartawan di Sumenep. Tempat saya dulu menempa diri. Kawah candradimuka yang penuh tawa, debat, dan idealisme.
Kini giliran dia menjaga bara itu.
Kini tinggal satu tugas besar: membuktikan tangan dinginnya.
Bahwa PWI bukan sekadar organisasi. Tapi rumah bagi para wartawan untuk belajar. Ruang untuk bersuara, dan menjaga marwah profesi.
Selamat, Faisal Warid. Kalemmu adalah karaktermu. Dan karakter, lebih dari sekadar gaya, adalah yang membuat seorang wartawan tetap hidup di tengah segala perubahan zaman. (*)
Editor : Hendriyanto