Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Produksi Bawang Merah Capai 13 Ribu Ton

Amin Basiri • Jumat, 24 Oktober 2025 | 14:17 WIB
KOMODITAS UNGGULAN: Petani sedang menanam bawang merah di Desa/Kecamatan Rubaru, Sumenep.
KOMODITAS UNGGULAN: Petani sedang menanam bawang merah di Desa/Kecamatan Rubaru, Sumenep.

SUMENEP, RadarMadura.id - Produksi bawang merah di Kabupaten Sumenep meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir.

Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, total produksi bawang merah hingga September mencapai 13.552,8 ton.

Kepala DKPP Sumenep Chainur Rasyid mengatakan, produksi bawang merah pada 2020 tercatat sebanyak 6.876,1 ton.

Pada 2021 meningkat tajam menjadi 11.945,9 ton. Namun, tahun 2022, data produksi menurun menjadi 11.553,4 ton.

Produksi bawang merah kembali naik pada 2023 menjadi 14.377 ton dan 14.442,2 ton pada 2024.

Peningkatan ini tidak terlepas dari berbagai faktor, termasuk cuaca yang relatif mendukung,” katanya kemarin (23/10).

Dia mengutarakan, pada masa tanam petani bisa mengendalikan hama dan penyakit sehingga harga bawang merah di pasar stabil.

Meski begitu, terdapat tantangan seperti potensi alih komoditas oleh petani dan perubahan kebijakan pemerintah, termasuk bantuan pemerintah.

Pria yang akrab disapa Inung itu menyebut, bawang merah termasuk komoditas penentu inflasi.

Karena itu, bawang merah memiliki peran penting dalam stabilitas ekonomi daerah.

Menurutnya, permintaan pasar yang terus tinggi menjadikan komoditas ini memiliki prospek yang baik untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga maupun pasokan pasar nasional.

Untuk mendukung peningkatan produksi, pihaknya terus mendorong berbagai program strategis.

Di antaranya melalui Program Upland. Program ini fokus pada peningkatan produktivitas melalui ekstensifikasi lahan baru yang potensial dan intensifikasi tanaman. 

Inung juga menekankan perbaikan prasarana pendukung pertanian serta menjadikan sejumlah kawasan sebagai sarana pembelajaran bagi petani lain di berbagai kecamatan.

Program Upland tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tapi juga meningkatkan kapasitas petani agar lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan dinamika pasar.

”Kami harap sektor ini terus memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga pangan di daerah, harapnya. (tif/bil)

Editor : Amin Basiri