Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Satu Kilogram Tembakau Campalok Dibanderol Rp 5 Juta, Hanya Tumbuh di Dua Petak Lahan

Hera Marylia Damayanti • Kamis, 16 Oktober 2025 | 13:05 WIB
JADI REBUTAN: Suja’i berada di lahan tembakaunya di Desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, Senin (15/9). (MOH. IQBAL/JPRM)
JADI REBUTAN: Suja’i berada di lahan tembakaunya di Desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, Senin (15/9). (MOH. IQBAL/JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Di Pulau Madura terdapat banyak varietas tembakau. Salah satunya, tembakau campalok. Tembakau asal Kabupaten Sumenep itu dikenal dengan kualitasnya yang unggul dan harganya yang mahal. Tembakau yang memiliki aroma dan rasa yang khas itu jadi primadona bagi produsen rokok lokal dan nasional.

Nama campalok tidak asing di telinga pengusaha tembakau. Tembakau dari Desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, tersebut harganya sangat mahal. Sebab, dikenal memiliki cita rasa yang berkualitas.

Harganya bisa tembus sampai Rp 5 juta per kilogram. Tembakau campalok hanya tumbuh di dua petak lahan. Ukurannya 10x20 dan 10x12 meter persegi. Di tengah-tengah dua lahan itu. terdapat kuburan kuno dan tanaman campalok. Letak geografis dua lahan tembakau tersohor itu berada di dataran tinggi. Yakni, berbatasan langsung dengan Kabupaten Pemekasan.

Dua lahan yang dianggap istimewa itu milik keluarga besar Saja’i, warga Desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk.

Pemilik lahan, Suja’i mengatakan, dirinya tidak menegtahui secara pasti asal-usul nama campalok tersebut. Sebab, sebutan ini sudah ada sebelum dirinya lahir. Mungkin karena di lahannya itu ada pohon campalok.

”Di situ (di tengah lahan) kan ada pohon campaloknya. Itu sudah ada sejak dulu,” katanya.

Suja’i menyampaikan, banyak pihak yang melakukan penelitian terhadap dua lahan milik keluarganya itu. Mereka mungkin penasaran mengapa tembakau yang ditanam itu memiliki cita rasa yang berbeda dengan lainnya.

”Dari hasil penelitian menyebutkan, lahan ini mengandung zat kapur yang tinggi. Kemudian, lokasi ini juga menjadi pertemuan udara,” ujarnya.

Sementara penanaman tembakau di dua lahan itu dilakukan seperti biasa. Tidak ada perlakuan khusus. Namun, pihaknya heran kualitas tembakau yang dihasilkan berbeda dengan tembakau tempat lain.

”Kalau perawatannya sama dengan yang lain. Kita juga pakai pupuk. Baik pupuk kandang dan pabrikan,” tukas Suja’i.

Suja’i menuturkan, setiap tahun dirinya selalu menanam tembakau di bulan Juni. Karena itu sudah pertengahan tahun dan cenderung memasuki musim kemarau. ”Saya biasanya menanam di bulan enam, ladang awal, petengahan, dan akhir. Bergantung cuaca,” ucapnya.

Sedangkan bibit yang digunakan sama seperti kebanyakan yang digunakan petani yang lain. Bibit tembakau yang pernah ditanam di ladangnya yang istimewa tersebut bermacam-macam. Antara lain, prancak 95, cangkreng, bojonegoro, dan sebagainya.

”Mau pakai bibit apa pun, hasilnya tetap beda. Rasanya tetap lebih bagus dan berkualitas,” tegas Suja’i.

Tahun ini, tembakau yang ditanam jenis prancak 95. Kini, daun emas yang diproduksi sudah selesai dipanen. Tembakau yang dihasilkan hanya 20 kilogram dari dua lahannya. Sebab, ukurannya memang tidak lebar.

TRADISIONAL: Warga merajang tembakau campalok di Desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, Senin (15/9) malam. (SUJA’I UNTUK JPRM)
TRADISIONAL: Warga merajang tembakau campalok di Desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, Senin (15/9) malam. (SUJA’I UNTUK JPRM)

”Kalau sudah penen sampai kering itu hanya memperoleh 20 kilogram,” imbuhnya.

Sebelum proses panen dilakukan, sudah banyak orang yang menghubunginya untuk memesan. Di tahun ini saja, ada sekitar 20 orang lebih yang memesan. Mereka berasal dari Kabupaten Sumenep, Pamekasan, Sampang. Bahkan, juga ada pemesan yang dari luar Jawa.

”Jadi, selesai panen, saya tinggal melihat catatan, siapa saja yang memesan dan membaginya. Kadang mereka tidak mendapatkan sesuai pesanan. Ada yang pesan dua kilogram, tapi saya beri satu kilogram. Karena memang tembakaunya terbatas, yang penting bagi saya, semuanya kebagian,” jelasnya.

Setiap tahunnya harga tembakau campalok tidak sama. Tahun lalu, setiap satu kilogram tembakau campalok dibanderol dengan harga Rp 4 juta. Sedangkan tahun ini dibanderol dengan harga Rp 5 juta per kilogram.

Harga tersebut mengikuti perkembangan harga tembakau. ”Walaupun harganya mahal, tapi tetap jadi rebutan. Sebagian dari mereka yang membeli ada yang dibuat campuran produksi rokok,” sambungnya.

Dirinya mengaku, dua lahan miliknya itu banyak yang melirik. Bukan hanya di wilayahnya, tapi orang dari berbagai daerah banyak yang akan membeli. Namun, keluarga besarnya mempertahankan lahan tersebut karena sudah menjadi warisan para sesepuh.

”Kalau yang mau beli ini banyak, ada yang menawar sampai Rp 2 miliar. Tapi, kita tidak mau menjualnya,” tukasnya.

Warga yang menanam tembakau di dekat lahan milik Suja’i turut ketiban berkah. Sebab, harga tembakaunya juga ikut mahal. Bahkan, sudah ada yang dinamai. Antara lain tembakau salaka seharga Rp 3,5 juta per kilogram, kapodang Rp 2 juta per kilogram, dan tarebung Rp 3 juta per kilogram.

Kemudian, tembakau yang diberi nama maronggi dibanderol dengan harga Rp 1,5 juta per kilogram. Bahkan, tembakau belum memiliki nama juga dihargai dengan nominal yang relatif tinggi. Yaitu, Rp 500 ribu–Rp 1 juta.

”Jadi harganya ikut naik juga. Yang memberi nama itu para sesepuh dulu,” katanya. (iqb/jup/han)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#kualitas tembakau #unggulan #zat kapur #Tembakau campalok #madura #Primadona #Harga Tembakau