SUMENEP, RadarMadura.id – Giat vaksinasi massal atau outbreak response immunization (ORI) di Kabupaten Sumenep telah berlangsung selama dua pekan. Namun, upaya tersebut belum mampu menekan angka kasus yang terus meninggi.
Program vaksinasi ini dilaksanakan setelah kasus campak ditetapkan sebagai kajadian luar biasa (KLB) pada Agustus 2025. Data terbaru menunjukkan lonjakan kasus yang signifikan. Sebelumnya, pada Minggu (24/8), jumlah kasus campak tercatat sebanyak 2.105.
Terbaru, hingga Selasa (9/9) jumlah kasus melonjak menjadi 2.741. Jadi, dalam kurun waktu 16 hari terdapat tambahan sebanyak 636 kasus, dengan rata-rata terdapat tambahan 40 kasus setiap harinya.
Bahkan, pada Senin (8/9) jumlah pasien yang dirawat sempat menyentuh 100 anak. Mereka dirawat di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit rujukan dan puskesmas. Namun, pada Selasa (9/9), jumlah tersebut menurun menjadi 86 anak.
”Ini menjadi perhatian serius karena sebagian besar korban adalah anak-anak yang belum lengkap imunisasinya,” kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Sumenep Achmad Syamsuri, Rabu (10/9).
Dijelaskan, turunnya angka pasien rawat ini belum bisa disebut tren aman. Sebab, penularan di lapangan masih tinggi. Menurutnya, mulai Senin (8/9) petugas sudah melakukan penyisiran pada sasaran yang belum terimunisasi, penyisiran itu akan berakhir pada Senin (15/9).
”Vaksinasi ORI harus lebih cepat, terutama di wilayah kepulauan dan desa-desa,” ucapnya.
Syamsuri menambahkan, saat ini tim World Health Organization (WHO) turun langsung ke Kota Keris untuk membantu penanganan KLB campak. Mereka membantu mencari penyebab persebaran atau transmisi campak di Sumenep. Selain itu juga mengedukasi masyarakat soal imunisasi.
”Besok mereka akan melaksanakan evaluasi serentak dengan seluruh kepala puskesmas untuk memantau hasil imunisasi serentak, mereka sudah ketiga kalinya ke Sumenep,” imbuhnya. (tif/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti