SUMENEP, RadarMadura.id– Masyarakat Kampung Pocang Timur, Desa Cangkreng, Kecamatan Lenteng, mengekspresikan kecintaan kepada tanah air dengan beberapa cara.
Seperti pembuatan bendera dan umbul-umbul, kerja bakti bersihkan jalan, pemasangan lampu hias di taneyan lanjang, lomba, dan doa bersama.
Jenis lomba dipilih berdasar beberapa pendekatan.
Seperti lomba nyunggi tampah (nyo’on gaddhang) untuk mengingat bahwa Kampung Pocang Timur itu dulu sentra kerajinan tangan berbahan bambu.
Namun, saat ini kerajinan itu tidak banyak diminati.
Sementara saat ini warga banyak yang menjadi tukang jahit.
Karena itu, kampung ini juga dikenal sebagai Kampung Penjahit.
Bendera dan umbul-umbul yang menghiasi jalan kampung sekitar 400 meter merupakan produk mereka.
Atas dasar itulah lomba memasang baju digelar untuk memeriahkan agustusan.
Kekompakan warga dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-80 Republik Indonesia itu mendapat apresiasi dari Pengasuh Ponpes Tanwirul Hija KH A. Dumairi Asy’ari.
Pernyataan itu diungkapkan ketika menyampaikan orasi kebangsaan dalam acara doa bersama Sabtu (16/8).
Menurut dia, kebersamaan itu harus terus dipupuk agar hidup guyub.
”Ketika ikut lomba, sejenak lupa pada tembakau yang mati,” katanya disambut tawa hadirin.
”Saya apresiasi karena semua kegiatan diikuti laki-laki dan perempuan, baik anak-anak maupun dewasa,” imbuhnya.
Kiai Dumairi berharap kegiatan yang juga diikuti warga Kampung Pocang Timur, Desa Meddelan, itu digelar secara rutin.
Sebab, melalui kegiatan ini masyarakat mendoakan para pahlawan, sesepuh, guru, dan orang-orang yang telah berjasa ”membabat alas”.
”Mereka memiliki jasa luar biasa kepada negeri ini. Kita yang menikmati kemerdekaan ini harus banyak bersyukur,” jelas Kiai Dumairi sebelum doa bersama dimulai. (luq)
Editor : Amin Basiri