SUMENEP, RadarMadura.id – Pucuk kepemimpinan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II-B Sumenep berubah mulai Kamis (12/6). Sosok yang dipercaya menakhodai hotel prodeo tersebut adalah Heri Sutriadi. Dia menggantikan Ridwan Susilo.
Ridwan Susilo dipindahtugaskan untuk menjadi kepala Rutan Kelas II-B Purbalingga, Jawa Tengah. Jabatan baru itu dia emban setelah empat tahun menakhodai Rutan Kelas II-B Sumenep.
Sedangkan Heri Sutriadi diketahui sebelumnya merupakan kepala Rutan Kelas II-B Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penugasannya sebagai kepala Rutan Kelas II-B Sumenep dikeluarkan Kementerian Hukum pertengahan Mei lalu.
”Surat keputusannya sudah lama yang turun. Saya kaget, karena seluruh Karutan di NTT hanya saya yang dipindah ke luar,” katanya.
Heri masih belum mengenal wilayah Kabupaten Sumenep. Sebab, selama kariernya banyak dihabiskan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). ”Saya sebelumnya menjadi Karutan Kelas II-B Ruteng, Manggarai,” ujarnya.
Pihaknya akan mempelajari karakter masyarakat Sumenep. Termasuk kebijakan yang ada di rutan, institusinya yang baru. Pihaknya juga berusaha mengenal personel sipir di bawah naungan institusi yang dipimpin.
”Yang jelas saya akan melanjutkan kebijakan yang sudah berjalan dengan baik,” tukasnya.
Sementara mantan kepala Rutan Kelas II-B Sumenep, Ridwan Susilo, mengaku kariernya di Kota Keris terbilang cukup lama, yakni empat tahun. Sehingga, sudah sepatutnya mendapat tugas baru.
Pihaknya berterima kasih kepada semua petugas sipir di Rutan Kelas II-B Sumenep. Sebab, personelnya berperan besar terhadap dirinya menjalankan tugas selama di Sumenep.
”Saya mengucapkan terima kasih banyak, baik kepada masyarakat, forkopimda, dan personel,” kata Karutan Kelas II-B Purbalingga itu.
Ridwan menambahkan, Sumenep merupakan kabupaten yang indah. Masyarakatnya juga menjaga betul etika. Juga mengutamakan musyawarah saat menghadapi permasalahan. ”Masyarakat Sumenep ramah-ramah,” ucapnya.
Selama ini sudah banyak melaksanakan berbagai kegiatan di Rutan Kelas II-B Sumenep. Mulai dari kegiatan yang bernuansa keagamaan maupun peningkatan skill warga binaan.
”Warga binaan sudah bisa membatik, termasuk bercocok tanam, dan juga mengelola sektor perikanan,” sambung Ridwan. (iqb/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti