Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kelebihan Konsep Rumah Kaca, Tak Bergantung Cuaca, Warga Sumenep Kembangkan Wisata Edukasi Petik Buah Melon

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 4 Mei 2025 | 16:40 WIB
MODERN: Pengelola Agrowisata Green Aries Akh. Arifin menunjukkan cara memetik buah melon di Desa Karangbudi, Kecamatan Gapura, Sumenep, Sabtu (26/4). (MOH. LATIF/JPRM)
MODERN: Pengelola Agrowisata Green Aries Akh. Arifin menunjukkan cara memetik buah melon di Desa Karangbudi, Kecamatan Gapura, Sumenep, Sabtu (26/4). (MOH. LATIF/JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Potensi pertanian di Kabupaten Sumenep cukup besar. Apalagi bila dikelola dengan konsep modern. Salah satunya adalah Agrowisata Green Aries yang menyajikan petik buah melon.

Wisata edukasi yang terletak di Desa Karangbudi, Kecamatan Gapura, itu menjadi bukti bahwa inovasi di sektor pertanian bisa melahirkan potensi besar.

Baik untuk ekonomi lokal maupun pendidikan generasi muda. Wisata petik buah itu setiap hari banyak dikunjungi oleh masyarakat.

Baik masyarakat umum maupun berbagai organisasi yang ingin belajar budi daya melon dengan sistem rumah kaca (greenhouse).

Pengelo wisata Akh. Arifin menuturkan, terdapat 680 pohon yang dia tanam. Ratusan pohon itu terbagi menjadi dua varietas yang saat ini coba dikembangkan.

Yakni, jenis alisha dan honey globe. Ke depannya, dia akan mencoba mengembangkan varietas lain yang belum banyak dikenal oleh masyarakat.

”Di dalam greenhouse seperti ini semuanya bisa direkayasa. Misalnya, 10 hari hampir panen pengairan itu bisa dikurangi agar kadar gulanya lebih tinggi. Kalau di luar kan tidak bisa begitu. Artinya, saya mau menghasilkan buah segar yang berkualitas, karena tujuan jangka panjang, bukan hanya sekarang, tapi untuk harga memang lebih mahal,” terangnya.

Arifin membagi buah melon yang dikelolanya menjadi beberapa kelas. Kelas premium dia banderol dengan harga Rp 22 ribu per kilogram dan Rp 18 ribu untuk grade A.

Sementara untuk grade B dengan harga Rp 15 ribu. Namun, masyarakat lebih memilih yang premium dan grade A karena rasanya lebih enak.

Mantan penyuluh pertanian Kacamatan Gapura itu menjelaskan, rumah kaca itu di selatan Jalan Raya Gapura itu dirancang untuk membantu pertumbuhan tanaman dengan menciptakan lingkungan yang terkendali.

MANIS: Pengunjung berpose dengan melon yang dibeli di Agrowisata Green Aries di Desa Karangbudi, Kecamatan Gapura, Sumenep, Sabtu (26/4). (MOH. LATIF/JPRM)
MANIS: Pengunjung berpose dengan melon yang dibeli di Agrowisata Green Aries di Desa Karangbudi, Kecamatan Gapura, Sumenep, Sabtu (26/4). (MOH. LATIF/JPRM)

Fungsi utamanya mengoptimalkan pertumbuhan tanaman dengan mengatur suhu, kelembapan, pencahayaan, dan sirkulasi udara di dalamnya.

”Di sini kami menggunakan cocopeat atau serbuk sabut kelapa sebagai media tanam, dengan sistem pengairan tetes. Untuk pupuk, kalau budi daya di luar itu paling cuma Rp 2 jutaan. Tapi, kalau di dalam greenhouse seperti ini, bisa sampai Rp 7 juta. Karena pupuk hidroponik harganya satu paket Rp 300 ribu,” ungkapnya.

Arifin menambahkan, ada beberapa keunggulan ketika menggunakan sistem pertanian seperti ini.

Salah satunya tidak bergantung pada cuaca. Selain itu, untuk budi daya melon, kalau budi daya di dalam greenhouse, setahun bisa empat kali masa penanaman.

”Sedangkan untuk di luar itu mungkin hanya bisa sampai tiga kali masa penanaman dalam setahun. Kami berencana tidak hanya akan membudidayakan melon, tapi juga akan ada sayur dan berbagai buah lainnya,” tandasnya. (tif/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Melon #rumah kaca #Cocopeat #greenhouse #Pertanian #media tanam #Agrowisata Green Aries