Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pancarkan Sinar Terang ke Langit, Makam Sayyid Yusuf Ditemukan Raja Sumenep

Hera Marylia Damayanti • Jumat, 4 April 2025 | 15:33 WIB
KHUSYUK: Peziarah nyekar ke Asta Yusuf bin Ali bin Abdullah Al Hasani di Desa/Kecamatan Talango, Sumenep, Jumat (28/3). (MOH. IQBAL/JPRM)
KHUSYUK: Peziarah nyekar ke Asta Yusuf bin Ali bin Abdullah Al Hasani di Desa/Kecamatan Talango, Sumenep, Jumat (28/3). (MOH. IQBAL/JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Kabupaten Sumenep memiliki sederet wisata religi. Salah satunya Asta Yusuf bin Ali bin Abdullah Al Hasani. Lokasinya di Desa/Kecamatan Talango.

Secara geografis, Asta Yusuf bin Ali bin Abdullah Al Hasani berjarak sekitar 11 kilometer dari pusat Kota Sumenep. Konon, makam penyebar Islam itu ditemukan Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat. Yakni, raja Sumenep yang hidup pada abad ke-18.

Pengurus Asta Yusuf Talango, Mu’tasim Billah menceritakan, Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat awalnya melihat sinar yang sangat terang di sebelah timur pelabuhan. Seperti ada benda yang jatuh dari langit. Kejadian itu dilihat sekembalinya Sri Sultan Abdurrahman dari Bali setelah melakukan syiar Islam.

”Waktu itu beliau melihat sinar yang memancar ke langit,” katanya.

Karena penasaran, akhirnya Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat menyeberang ke Pulau Talango. Yakni, untuk mencari sumber sinar tersebut. Setiba di sebuah tempat yang ditumbuhi semak belukar itu, terlihat sebuah kuburan.

”Beliau lalu mengucapkan salam. Kemudian, mendengar suara yang menjawab salamnya. Setelah dicari, tidak ada orang di tempat itu,” ucap Mu’tasim.

Waktu itu, Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat bermunajat kepada Allah SWT meminta petunjuk siapa yang dimakamkan. Tiba-tiba ada selembar daun sukun jatuh di pangkuannya. Di daun itu terdapat tulisan Arab yang menyebutkan nama dan nasab orang  kuburan. Yaitu, Hadza Maulana Sayyid Yusuf bin Ali bin Abdullah Al Hasani.

KERAMAT: Peziarah saat keluar dari Asta Yusuf bin Ali bin Abdullah Al Hasani di Desa/Kecamatan Talango, Sumenep, Jumat (28/3). (MOH. IQBAL/JPRM)
KERAMAT: Peziarah saat keluar dari Asta Yusuf bin Ali bin Abdullah Al Hasani di Desa/Kecamatan Talango, Sumenep, Jumat (28/3). (MOH. IQBAL/JPRM)

”Setelah dibaca, tulisan itu hilang. Kemudian, dipasang batu nisan dengan nama yang tertera di daun sukun itu,” ceritanya.

Sebelum meninggalkan kuburan untuk menyebarkan agama Islam ke tanah Bali lagi, Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat menancapkan tongkat. Tongkat itu kemudian tumbuh menjadi pohon besar yang rindang, yang hingga kini masih kokoh berdiri.

Bahkan, saat itu Sri Sultan juga berencana memberi cungkup atau pendopo kecil di atas kuburan. ”Setelah pulang dari Bali, beliau memasang cungkup. Tapi, setelah dicek keesokan malamnya, cungkup itu tiba-tiba sudah berpindah tempat,” ujarnya.

Lambat laun pesarean tersebut tersohor hingga sekarang. Banyak orang yang berziarah ke tempat itu. ”Kini sudah menjadi wisata religi yang didatangi banyak wisatawan dari berbagai wilayah,” imbuh Mu’tasim.

Baca Juga: Pesta Petasan Hari Raya Renggut Nyawa Remaja, Polisi Lakukan Serangkaian Penyelidikan

Grafis wisata religi Asta Yusuf Talango. (SIGIT AP/JPRM)
Grafis wisata religi Asta Yusuf Talango. (SIGIT AP/JPRM)

Pengunjung Capai Ratusan Tiap Hari

Objek wisata religi Asta Yusuf di Desa/Kecamatan Talango selalu ramai pengunjung. Bahkan, setiap harinya mencapai ratusan wisatawan yang datang ke tempat itu. Bahkan, sebagian ada yang dari luar negeri.

Untuk sampai ke Asta Yusuf, wisatawan harus menyeberangi laut. Namun, jaraknya tidak begitu jauh. Sebab, Pulau Talango bisa dilihat dengan mata telanjang dari Pelabuhan Kalianget.

Wisatawan yang akan berkunjung harus menyiapkan uang transpor yang cukup. Sebab, harus membayar uang sebesar Rp 3.000 untuk melewati pintu gerbang milik Pelindo. Setelah itu, harus menaiki perahu atau kapal tongkang sebesar Rp 2.500 per orang.

KOKOH: Gapura wisata religi Asta Yusuf bin Ali bin Abdullah Al Hasani di Desa/Kecamatan Talango, Sumenep, Jumat (28/3). (MOH. IQBAL/JPRM)
KOKOH: Gapura wisata religi Asta Yusuf bin Ali bin Abdullah Al Hasani di Desa/Kecamatan Talango, Sumenep, Jumat (28/3). (MOH. IQBAL/JPRM)

Berbeda lagi dengan pengendara yang membawa mobil harus membayar Rp 15.000 saat naik kapal tongkang. Jika menggunakan kendaraan roda dua cukup membayar Rp 5.000.

Pengurus Asta Yusuf Talango, Mu’tasim Billah mengatakan, awal mula Asta Yusuf terkenal karena ada seseorang yang bermimpi agar datang ke Asta Yusuf. Orang itu pun datang dan mengucapkan keinginannya, setelah itu niatnya itu terijabah.

”Dari situlah kemudian banyak orang datang ke tempat ini. Ada yang dari Jawa Barat, Sumatera, dan daerah lainnya,” katanya.

Tidak hanya itu, wisatawan yang datang ke tempat ini ada juga yang dari luar negeri. Tepatnya wisatawan asal Australia. Mereka ke Asta Yusuf untuk melakukan penelitian.

”Asta Yusuf ramai pengunjung saat hari libur. Kalau hari biasa paling hanya sekitar 200 orang. Itu kami hitung yang pakai bus. Karena ada juga yang pakai mobil dan sepeda motor,” ucap Mu’tasim.

Asta Yusuf dikelola oleh Yayasan Sayyid Yusuf yang juga mengelola lembaga pendidikan secara gratis. Mulai dari madrasah tsanawiyah (MTs) dan madrasah aliyah (MA). ”Yayasan ini sudah berdiri sekitar 30 tahun yang lalu. Yang sekolah saat ini kurang lebih 600 siswa,” imbuh Mu’tasim. (iqb/jup)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#talango #Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat #wisatawan #ramai pengunjung #Pesarean #Asta Yusuf #wisata religi