SUMENEP, RadarMadura.id – Santri Ponpes At-Taufiqiyah, Desa Aengbaja Raja, Kecamatan Bluto, berupaya mencetak santri yang bermanfaat untuk bangsa, negara dan masyarakat.
Karena itu, Pengasuh Pondok Pesantren KH Imam Hasyim menekankan santri menjaga moral dan ahlaknya, serta selalu mengutamakan salat berjemaah serta rajin mengaji.
Kiai Imam menuturkan, pihaknya berupaya mendidik santri sebaik mungkin. Meningkatkan nilai keagamaan mereka agar bisa bermanfaat untuk banyak orang. Sehingga, mereka bisa mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari di pesantren.
”Alhamdulillah sampai saat ini kegiatan pesantren berjalan dengan baik. Yang saya tekankan pada para santri itu masalah ahlak, rajin salat berjemaah, dan mengaji Qur’an serta kitab kuning,” ucap KH Imam Hasyim.
Alumnus Ponpes Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, mengungkapkan, lembaga pendidikan di pesantren sudah lengkap, baik formal dan nonformal.
Para santri bisa berlajar berbagai ilmu pengetahuan. Jumlah santri yang mondok terus bertambah.
”Santri kami mayoritas orang Sumenep. Ada dari Kepulauan Gili Raja, Gili Genting, Raas, Sapeken, Kangean, dan Masalembu. Kalau yang luar sumenep dari Pamekasan, Sampang, Situbondo, Bondowoso, Kalimantan, dan Jakarta,” ungkapnya.
Kiai Imam menyebut, para santri banyak yang mendapatkan prestasi. Baik tingkat kabupaten maupun Jawa Timur. Utamanya kegiatan ekstrakurikuler.
Di antaranya, Pramuka, PSNU Pagar Nusa, Banjari Al-Hasyimi, UKS Teater Aliens, paduan suara, dan Jam’iyyatul Muballighin.
”Yang paling sering itu kegiatan kepramukaan. Bahkan, dapat juara bergilir tingkat Jawa Timur,” tuturnya.
Meski begitu, pihaknya tidak segan memberikan sanksi kepada para santrinya yang keluar dari kaidah aturan yang sudah dibuat.
Itu semata-mata agar mereka bisa disiplin dan memiliki tanggung jawab selama mondok. Termasuk juga untuk membentuk karakter mereka menjadi orang yang baik.
”Di pesantren ini ada tindakan yang ringan dan berat. Kalau yang berat itu dosa besar bilamana ada santri yang keluar dari norma kesantrian seperti mencuri, pacaran, dan lainnya.
Kalau sudah dibina dan tetap berbuat hal yang kurang baik, baru kami pasrahkan ke orang tuanya,” tegasnya. (iqb/bil)
Editor : Achmad Andrian F