Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Beban Kerja Petugas Dapur MBG Terlalu Berat, Pekerja Memilih Berhenti

Ina Herdiyana • Rabu, 29 Januari 2025 | 09:59 WIB
BEKERJA: Para pekerja memasukkan nasi kotak program MBG ke mobil untuk didistribusikan ke sekolah-sekolah di Desa Kebonagung, Kecamatan Kota Sumenep, Kamis (16/1). (MOH. LATIF/JPRM)
BEKERJA: Para pekerja memasukkan nasi kotak program MBG ke mobil untuk didistribusikan ke sekolah-sekolah di Desa Kebonagung, Kecamatan Kota Sumenep, Kamis (16/1). (MOH. LATIF/JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Beban kerja yang harus dijalani petugas dapur program makan bergizi gratis (MBG) sangat berat. Tidak heran, banyak petugas dapur MBG yang memutuskan untuk berhenti.

Sumber koran ini menyatakan, pekerja dapur MBG memiliki tugas masing-masing. Petugas bagian masak mulai bekerja pukul 01.00 hingga pukul 10.00. Sementara petugas bagian persiapan mulai bekerja pukul 04.00–11.00 siang.

Yang bertugas mempersiapkan bahan makanan mulai pukul 15.00–02.00. ”Sedangkan yang paling berat itu bagian mencuci kotak makanan. Yakni, mulai pukul 14.00–01.00 dini hari,” ujar sumber yang enggan namanya disebut tersebut.

Sumber itu menambahkan, pihaknya tidak pernah diberi tahu tentang upah yang akan didapat. Sebab, tidak ada dokumen kontrak pekerjaan yang disodorkan. ”Karena menurut mereka para pekerja ini hitungannya adalah relawan,” ungkapnya.

Di hari pertama program MBG diluncurkan, empat pekerja di bagian mencuci kotak makan berhenti.

Alasannya, mereka tidak sanggup dengan beban kerja yang dilaksanakan. Akibatnya, dari 16 petugas cuci kotak makan, tersisa 12 orang. ”Salah satu alasannya tidak kuat dengan jam kerjanya,” tuturnya.

Mirisnya lagi, pekerja pernah tidak dikasih makan sehingga terpaksa makan sisa nasi yang tidak dihabiskan siswa.

”Karena lapar, teman-teman makan sisa makanan siswa seperti telur. Kalau saya tidak bisa seperti itu, jadi meskipun sangat lapar tetap saya tahan. Karena itu, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti,” tandasnya.

Kepala Satu Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumenep Mohammad Kholilurrahman tidak menampik adanya pekerja yang memilih berhenti menjadi bagian dari program pemerintah pusat itu. Pihaknya tidak tahu-menahu alasan di balik berhentinya para pekerja tersebut.

”Tidak banyak yang berhenti, hanya satu dua orang. Tetapi, saya tidak tahu alasannya kenapa, ya mau gimana lagi kalau sudah mau berhenti,” ucapnya.

Kholil menerangkan, pekerja menyiapkan segala kebutuhan program SPPG berstatus sebagai relawan sehingga tidak perlu ada kontrak. Sementara sistem pembayaran upahnya akan diberikan setiap bulan.

Baca Juga: Bupati Fauzi Pastikan Stok Pupuk Subsidi Aman, Kuota 2025 Capai 70.835 Ton, Janji Perketat Distribusi

”Untuk insentifnya insyaallah ada, tetapi memang tidak ada kontrak. Sebab, mereka hanya relawan. Jadi, yang mau bekerja ya silakan, mau berhenti juga silakan,” tandasnya. (tif/jup)

 

Editor : Ina Herdiyana
#pekerja #petugas #Makan Bergizi Gratis #program #dapur #Beban Kerja