Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Tekan Angka Stunting, Program Gemarikan Diskan Sumenep Hanya Dianggarkan Rp 100 Juta

Hera Marylia Damayanti • Rabu, 22 Januari 2025 | 14:35 WIB
ISTIRAHAT: Perahu nelayan ditambatkan usai melaut di Desa Aeng Panas, Kecamatan Pragaan, Sumenep, Sabtu (18/1). (ERWIN MAULIDIN MM/JPRM)
ISTIRAHAT: Perahu nelayan ditambatkan usai melaut di Desa Aeng Panas, Kecamatan Pragaan, Sumenep, Sabtu (18/1). (ERWIN MAULIDIN MM/JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.idDinas Perikanan (Diskan) Sumenep juga punya peran dalam menekan angka stunting atau tengkes.

Di antaranya melalui program gemar makan ikan (gemarikan). Tahun ini anggaran yang disiapkan sekitar Rp 100 juta untuk merealisasikan program tersebut.

Kabid Pengolahan dan Pemasaran Diskan Sumenep Heru Faizal mengaku belum mengetahui lokasi khusus (lokus) penanganan stunting 2025.

Meski begitu, pihaknya sudah menyiapkan program gemarikan. Program ini akan direalisasikan di 15 desa.

”Kami merencanakan program gemarikan menyasar 15 desa yang tersebar di Kabupaten Sumenep,” ujarnya Senin (20/1).

Heru mengutarakan, lokasi sasaran program belum ditentukan.

Pihaknya harus koordinasi dengan sejumlah pihak, seperti Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep.

Termasuk dengan Fforum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Sumenep.

”Tidak semua desa yang masuk lokus stunting nanti bisa dilaksanakan program gemarikan. Sebab, tahun ini anggarannya terbatas,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, saat ini pihaknya masih fokus koordinasi dengan sejumlah pihak.

Yakni, untuk menentukan lokasi sasaran program. Ditargetkan, sasaran program sudah rampung paling akhir Mei.

”Mungkin Maret atau Mei sudah ada keputusan mengenai lokus dan pelaksanaan kegiatan itu,” ungkapnya.

Heru menjelaskan, program gemarikan bertujuan untuk mencegah angka stunting di Kota Keris. Anggaran yang disiapkan hanya Rp 100 juta.

”Program ini untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sehingga membantu mencegah stunting,” tandasnya.

Kepala Dinkes P2KB Sumenep Ellya Fardasah menyampaikan, penanganan stunting menjadi perhatian khusus.

Tahun ini ada 15 desa di 11 kecamatan telah ditetapkan sebagai lokus stunting.

Ellya mengungkapkan, desa yang masuk dalam lokus stunting ditentukan oleh pemerintah pusat berdasarkan penelitian tahun sebelumnya.

Konsultan stunting Provinsi Jatim juga membantu dalam menentukan lokus stunting yang dilihat dari jumlah prevalensi stunting setiap desa.

Pada 2021, angka prevalensi stunting di Sumenep 29 persen. Pada 2022 angkanya turun 7,4 persen sehingga tersisa 21,6 persen.

Data itu semakin turun menjadi 16,7 persen pada 2023. Sementara pada 2024, prevalensi stunting berada di angka 14 persen.

”Untuk hasil di 2024 masih menunggu data kementerian, karena acuan datanya dari sana,” ungkapnya.

Untuk menekan angka stunting, pihaknya membuat program pemberian makanan tambahan (PMT) yang dilakukan oleh semua puskesmas di Kota Keris.

”Upaya pengentasan stunting juga dilakukan posyandu binaan. Intinya, kasus stunting ini akan segera dituntaskan,” ujarnya.

Terpisah, anggota Komisi IV DPRD Sumenep M. Ramzi menyatakan, penetapan lokus stunting di Kota Keris tersebut penting sebagai acuan bagi OPD dalam merealisasikan program.

”Dalam upaya pengentasan kasus stanting ini, OPD perlu bermitra dengan pihak desa,” sarannya. (tif/bil)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#anggaran #angka prevalensi #Forikan #program #sasaran #Dinkes P2KB #gemarikan #Lokus Stunting