SUMENEP, RadarMadura.id — Mimpi Ramadani yang ingin membuat roti menul-menul terwujud menjadi kenyataan.
Bahkan, berhasil menjadi sumber pendapatan yang lebih dari sekadar cukup.
Pada bulan pertama membuat outlet pada 2021 hanya memproduksi 50 kotak roti tiap hari.
Namun, sebulan kemudian naik menjadi 100–150 kotak setiap hari.
Tahun berikutnya berkembang dengan membuka outlet kedua di Kecamatan Lenteng yang saat itu sekaligus peluncuran varian kotak mini.
Lalu, disusul Ganding. Kini, Roti Gembong Menul memiliki sembilan outlet di beberapa kecamatan (lihat grafis). Rencana selanjutnya buka outlet di Pamekasan.
Dari sembilan outlet itu, delapan di antaranya dijalankan dengan sistem kerja sama.
Namun, semua pengelolaannya tetap dalam pantauan Fawaid dan Dani.
Mereka rutin melakukan supervisi ke tiap outlet untuk memastikan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Terutama terkait jaminan produksi, kebersihan, dan layanan.
Produksi roti sembilan oulet itu dikerjakan di enam dapur.
Tiap dapur bisa memproduksi 600 kotak tiap hari dengan berbagai varian rasa (lihat grafis) yang awalnya hanya rasa cokelat, tiramisu, dan taro.
Karena itu, kini tidak kewalahan memenuhi permintaan pelanggan seperti saat awal merintis yang bahan dan alat masih serba terbatas.
Belum lama ini ada pembeli yang memesan 2.200 kotak roti. Ribuan kotak roti itu berhasil dipenuhi semua dengan kondisi baru.
Biasanya pesanan terbanyak tiap Ramadan dan momen Maulid Nabi Muhammad SAW.
Sementara itu, dalam menjalankan usaha ini, Fawaid dan Dani dibantu 33 karyawan.
Mereka terdiri atas seorang teknisi, seorang di bidang teknologi dan informasi (TI), seorang kepala gudang serta 30 karyawan di bagian produksi dan layanan.
”Omzet bulanan berkisar antara Rp 70 juta hingga Rp 80 juta di satu outlet,” ungkap Fawaid.
”Tentu biaya operasionalnya juga tidak sedikit,” imbuh alumnus STKIP PGRI Sumenep itu.
Berdasar catatan transaksi, usaha roti pasutri ini menunjukkan grafik pertumbuhan.
Fawaid mengakui dalam dunia bisnis selalu ada pasang surut atau fluktuasi. Namun, dia tetap optimistis dan semangat.
Selain tetap mengembangkan outlet, Dani masih punya mimpi lain. Yakni, punya toko bakery yang menjual berbagai macam jenis roti.
”Orang Islam harus sukses. Hrus kaya. Spirit mengubah nasib. Berbagi dan dan berbakti,” tegas Fawaid mengingat pesan salah seorang gurunya. (luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti