Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kisah Sukses Fawaid Sulaiman-Ramadani Bangun Usaha Roti Menul, Tak Hanya Berbisnis, tapi Juga Berbagi dan Berbakti

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 19 Januari 2025 | 13:25 WIB
INSPIRATIF: Pasangan suami istri Fawaid Sulaiman dan Ramadani menceritakan kisah usaha Roti Gembong Menul di outlet Kalianget, Sumenep, Jumat (17/1). (LUKMAN HAKIM AG/JPRM)
INSPIRATIF: Pasangan suami istri Fawaid Sulaiman dan Ramadani menceritakan kisah usaha Roti Gembong Menul di outlet Kalianget, Sumenep, Jumat (17/1). (LUKMAN HAKIM AG/JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Suatu ketika, saat pagebluk korona melanda, Fawaid yang bepergian ke Jember membawa oleh-oleh roti untuk sang kekasih.

Ramadani senang mendapat buah tangan suami. Sebab, roti yang dibawanya cocok di lidah perempuan yang akrab disapa Dani tersebut.

Dari peristiwa pada 2021 itu kemudian memunculkan keinginan Dani untuk membuka usaha.

Saat itu dia belum punya pandangan usaha apa yang cocok dan potensial. Dia tidak berdiam diri.

Dani berpikir mencari peluang usaha yang masih jarang tapi diminati banyak orang. Terutama di Madura.

Setelah melalui proses panjang dan pertimbangan matang, Dani memutuskan untuk membuka usaha roti.

Keputusan itu bukan karena punya latar belakang jago masak atau memproduksi makanan dan minuman.

Sebab, dia tidak punya pengalaman tata boga. Hanya bermodal tekad untuk mewujudkan mimpi. Bahkan, saat itu belum tahu roti apa yang akan diproduksi.

Perempuan kelahiran Sumenep, 15 Februari 1988 itu merupakan ibu rumah tangga yang bertekad kuat keluar dari frame ”kebiasaan” budaya partriarki tanpa lupa jadi diri.

Moto yang menjadi komitmennya itu bukan pepesan kosong.

Mimpi membangun usaha itu disampaikan kepada Fawaid. Suaminya itu mengamini keinginan istrinya.

Karena tak punya keterampilan tentang pembuatan roti, Dani mulai berselancar di internet untuk mencari referensi.

DISUKAI PELANGGAN: Pemilik usaha Roti Gembong Menul Ramadani (kiri) dan kasir Elma menunjukkan roti dalam kotak sebelum diboyong pembeli di outlet Kalianget, Sumenep, Jumat (17/1).
DISUKAI PELANGGAN: Pemilik usaha Roti Gembong Menul Ramadani (kiri) dan kasir Elma menunjukkan roti dalam kotak sebelum diboyong pembeli di outlet Kalianget, Sumenep, Jumat (17/1).

Setelah dirasa cukup, dia mulai mencoba secara otodidak. Produk pertama dicicipi Fawaid. Dengan jujur Fawaid mengatakan roti buatan istrinya sudah enak.

Namun, perlu diperbaiki dari segi bentuk dan tampilan. Juga dari sisi tekstur dan kelembutan.

”Tester pertama dia,” kenang Dani sambil melihat dan menunjuk Fawaid yang duduk bersila di sampingnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di outlet Kalianget, Sumenep, Jumat (17/1) pagi. ”Karena bahan masih kurang dan fasilitas belum memadai,” tambah perempuan berkerudung yang berulang tahun tiap 15 Februari itu.

Menurut dia, bahan dan alat menentukan hasil. Saat itu, sekali produksi hanya bisa tiga kotak roti tiap 20 menit. Dalam sehari memproduksi 20–30 kotak roti.

Fawaid yang namanya disebut segera menimpali. Bahwa, setelah beberapa kali mencoba akhirnya diunggah ke media sosial.

Pasangan suami istri asal Desa Sera Timur, Kecamatan Bluto, Sumenep, itu menerima jasa antar roti para pembeli.

”Modal awal Rp 1,5 juta buat beli oven itu kami ngutang,” imbuh Fawaid.

Suatu ketika Fawaid dan Dani buka stan di bazar kegiatan pesantren di Kecamatan Bluto.

Mereka membawa 25 kotak roti. Sebelum berangkat, mereka ragu roti yang mereka bawa akan laku.

Namun, ketidakyakinan mereka dapat ditepis kenyataan. Sebab, puluhan kotak roti itu ludes hanya dalam dua jam.

JAMINAN MUTU: Pemilik usaha Roti Gembong Menul Ramadani (kiri) melakukan supervisi di kasir outlet Kalianget, Sumenep, Jumat (17/1). (LUKMAN HAKIM AG/JPRM)
JAMINAN MUTU: Pemilik usaha Roti Gembong Menul Ramadani (kiri) melakukan supervisi di kasir outlet Kalianget, Sumenep, Jumat (17/1). (LUKMAN HAKIM AG/JPRM)

”Konsumen bilang enak dan suruh buat lagi,” tutur Dani. Bahkan, pada bulan puasa 2021 ada pesanan 200 kotak. Karena peralatan masih sangat terbatas, pesanan itu dikerjakan dari subuh hingga ketemu subuh hari berikutnya.

Dari situlah dia makin mantap untuk mengembangkan usahanya. Dari usaha rumahan berkembang dengan buka outlet. Saat itu mengeluarkan modal Rp 40 juta untuk biaya modal dan alat.

Tepat pada 18 Juli 2022 resmi buka outlet pertama di Kecamatan Bluto.

Pada tahun yang sama keluar nomor induk berusaha (NIB) dan sertifikat halal untuk brand Roti Gembong Menul.

”Outlet pertama setelah setahun bereksperimen dan mematangkan persiapan,” jelas Dani.

Fawaid menegaskan, usaha yang dijalankan ini tidak semata untuk tujuan bisnis.

Dia dan istri punya prinsip berbagi dan berbakti dalam bingkai 3F. Yakni, family (keluarga), friends (teman), faith (iman).

Spirit itulah yang terus dipegang dalam menjalankan usaha. Dia bersyukur Roti Gembong Menul memberikan manfaat dalam penyediaan lapangan kerja.

Selain itu, delapan dari sembilan outlet saat ini dijalankan dengan bekerja sama berkat jaringan pertemanan.

”Alhamdulillah, produk kami disambut baik,” tutur ketua Perkumpulan Guru Madrasah Nasional Indonesia (PGMNI) Sumenep itu. (luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#3F #Prinsip #Ramadani #Fawaid #roti #usaha #berbagi dan berbakti #bermodal tekad #Roti Gembong Menul