PAMEKASAN, RadarMadura.id – Kabupaten Pamekasan memiliki beragam potensi wisata desa untuk dikembangkan.
Namun hingga saat saat ini, Kota Gerbang Salam tersebut belum mampu mengelolanya menjadi desa wisata.
Kabid Pariwisata Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Pamekasan Moh. Zahrie mengatakan, tidak mudah untuk membentuk desa wisata.
Sebab, membutuhkan pemetaan dan kelengkapan beberapa persyaratan.
”Jadi untuk dikatakan desa wisata itu tidak cukup hanya memiliki satu destinasi wisata,” katanya.
Pria berkacamata itu menjelaskan, pemetaan yang dimaksud adalah bagaimana semua potensi yang ada di desa dapat dikelola dengan baik dan menjadi daya tarik wisata.
Dengan begitu, tercipta satu kesatuan objek wisata yang menarik.
”Mulai keseniannya, kebudayaannya, kuliner dan termasuk keunikan-keunikan yang dimiliki desa tersebut. Beberapa desa di Pamekasan punya potensi untuk dijadikan desa wisata,” tuturnya.
Zahrie mengeklaim saat ini telah melakukan pemetaan terhadap 12 desa yang memiliki potensi untuk dijadikan desa wisata.
Pihaknya sudah melakukan sosialisasi dan bimbingan teknis (bimtek) sebagai persiapan.
Akan tetapi, dari 12 desa potensi itu hanya akan dipilih dua desa untuk dikelola dan dijadikan pilot project.
Setelah penjaringan selesai, calon desa wisata itu akan dilakukan pendampingan dengan melibatkan tenaga ahli.
”Tahun depan kami anggarkan untuk pengelolaan desa wisata karena memang butuh proses yang panjang,” sebutnya.
Dia berharap pasca dilakukan pemetaan dan pembentukan desa wisata, bisa berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat desa.
”Untuk menjadi desa wisata yang sah dan legal harus ada SK bupati. Baru kami bantu pendampingan dalam hal pengelolaannya,” pungkasnya.
Pengamat pembangunan desa Ahmad Faidi Haris berharap program tersebut dapat dikawal dengan serius.
Mulai dari eksekusi pembangunan sarana dan prasarana (sarpras) hingga penguatan sumber daya manusianya (SDM).
”Sehingga, desa-desa yang memiliki potensi itu benar-benar mampu berdaya saing. Anggaran yang dikucurkan nantinya berdampak jangka panjang, jadi tidak sia-sia,” pesan dosen IAIN Madura itu. (lil/yan)
Editor : Fatmasari Margaretta