SUMENEP, RadarMadura.id – Rencana peningkatan kapasitas kepala desa (Kades) Sumenep yang dikemas dengan kegiatan studi banding ke Bandung itu kini menjadi perbincangan banyak pihak.
Bahkan, diduga kegiatan tersebut kental dengan motif bisnis dinas pemberdayaan masyarakat dan desa (DPMD).
Apalagi, tidak sedikit Kades di Kota Keris yang tidak setuju dengan kegiatan tersebut.
Sebab, dinilai buang-buang anggaran. Setiap Kades diwajibkan membayar Rp 7,5 juta untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Seorang Kades mengatakan, informasi yang diterima, kegiatan studi banding tersebut akan diselenggarakan beberapa hari.
Namun, hingga sekarang konsepnya belum jelas. Meskipun, pelaksanaannya tinggal 10 hari lagi.
”Terus terang saya tidak bisa ikut dalam kegiatan studi banding ke Bandung itu. Karena ada acara yang lebih penting bersama masyarakat,” katanya.
Dirinya mengungkapkan, kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kepala desa.
Apabila Kades berhalangan hadir, bisa diwakilkan sekretaris desa (Sekdes). Jika itu benar, tentu kegiatannya bukan peningkatan kapasitas Kades.
”Kabarnya, kegiatannya bisa diwakilkan Sekdes. Jika seperti itu, ini bukan peningkatan kapasitas Kades namanya,” ucap narsum yang minta identitasnya dirahasiakan.
Sementara Sekretaris Komisi I DPRD Sumenep Suroyo menyatakan, kegiatan peningkatan kapasitas Kades tersebut memang penting dilakukan.
Dengan catatan, kegiatannya harus jelas. Artinya, bukan sekadar liburan yang dikemas dengan studi banding.
”Studi banding kan untuk menimba ilmu. Untuk menambah pengetahuan Kades dalam membangun desanya. Jadi, konsep kegiatannya harus diperjelas,” ucapnya.
Suroyo mengaku sudah mengetahui informasi setiap Kades ditarik biaya Rp 7,5 juta untuk kegiatan studi banding tersebut.
Dirinya berharap, penggunaan anggaran tersebut harus transparan. ”Penggunaan anggarannya harus jelas untuk biaya apa saja,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala DPMD Sumenep Anwar Syahroni Yusuf belum bisa dimintai keterangan berkenaan program tersebut.
Koran ini sudah berupaya menghubungi ke nomor handphone yang bersangkutan, namun tidak direspons. Begitu juga dengan pesan WhatsApp yang dikirim juga tidak dibalas. (iqb/bil)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti