SUMENEP, RadarMadura.id – Warga Binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II-B Sumenep selama ini melahirkan karya batik catra.
Bahkan, hasil buah tangan penghuni rutan ini dipamerkan di Gebyar Wisata Nusantara Expo 2024 di Jakarta Convention Center pada Kamis (13/6).
Hasil kerajinan itu mampu menyita perhatian para pengunjung.
Dalam pameran tersebut dikawal oleh Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo.
Sebab, dalam kegiatan tersebut Rutan Kelas II-B Sumenep berkolaborasi dengan dinas kebudayaan, kepemudaan olahraga dan pariwisata (disbudporapar).
Itu sebagai bentuk sinergisitas lintas sektor.
Kepala Rutan Kelas II-B Sumenep Ridwan Susilo bangga karena batik catra hasil buah tangan warga binaannya itu dilibatkan dalam acara bergengsi tersebut.
Apalagi, batik yang dihasilkan tersebut mampu mencuri perhatian pengunjung.
”Kami sangat bangga bahwa batik catra, hasil kreativitas warga binaan Rutan Sumenep bisa dipamerkan di ajang besar seperti Gebyar Wisata Nusantara Expo 2024,” katanya.
Karutan yang akrab disapa Ridwan itu menuturkan, batik catra hasil karya warga binaannya itu dikenal dengan motif-motif khas Sumenep.
Bahkan, menjadi salah satu daya tarik utama di stan milik Pemkab Sumenep di cara pameran tersebut.
”Yang pasti, produk batik ini diproduksi melalui proses yang teliti dan penuh kreativitas warga binaan, yang telah menerima pelatihan khusus dalam bidang membatik,” ucapnya.
Ridwan meyampaikan, ini semua dilakukan untuk memberikan kontribusi kepada Sumenep.
Yakni, untuk mengenalkan budaya lokal melalui karya batik catra yang dibuat oleh warga binaan.
”Sekaligus untuk memberikan motivasi bagi warga binaan untuk terus berkarya dan mengembangkan bakat mereka,” ujarnya.
Ridwan mengaku selama ini pihaknya memang aktif memberikan kegiatan positif terhadap warga binaan.
Selain siraman rohani, juga mendorong para penghuni rutan untuk memiliki keahlian lebih. Misalnya bertani, membudidayakan ikan, serta membatik dan lainnya.
”Ini merupakan bukti nyata bahwa pembinaan yang kami lakukan telah menghasilkan karya yang memiliki nilai seni dan ekonomi,” jelas Ridwan.
Pembinaan itu dilakukan agar warga binaan memiliki kemampuan yang bisa dimanfaatkan saat keluar dari rutan.
Dengan harapan, tidak lagi mengulangi perbuatan buruk yang mengakibatkan masuk ke penjara.
Termasuk juga agar mereka bisa diterima oleh masyarakat dan lingkungannya.
”Ini cara kami untuk mendorong para warga binaan agar melakukan aktivitas yang baik dan tidak merugikan dirinya sendiri maupun orang lain,” imbuh Ridwan. (iqb/luq)
Editor : Abdul Basri