SUMENEP, RadarMadura.id – Pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) memang masih lama. Namun, gairah politik sejumlah tokoh mulai hangat diperbincangkan. Salah satunya mengenai sosok yang akan mendampingi Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo.
Sebagai incumbent, Bupati Fauzi merupakan satu-satunya figur yang kuat dalam kontestasi pilkada tahun ini. Bahkan, nyaris tidak ada tandingannya. Ditambah, sejauh ini belum ada tokoh yang terang-terangan siap melawan ketua DPC PDI Perjuangan Sumenep itu.
Baca Juga: MH Said Abdullah Raih Suara Terbanyak Se-Indonesia, Ini Kata Pengamat Politik Adi Prayitno
Bupati Fauzi diyakini akan menang mutlak dalam pelaksanaan pesta demokrasi tahun ini. Dengan modal kuat sebagai petahana, dia hanya butuh pendamping yang tepat dalam melanjutkan estafet pemerintahan selama lima tahun ke depan.
”Fauzi itu butuh figur yang paham birokrasi sebagai pendamping di pilkada tahun ini,” kata pengamat politik Sumenep Wildan Rosaili.
Menurut Wildan, kekuatan Fauzi pada pilbup tahun ini semakin besar. Selain incumbent, dia telah berhasil membuktikan dengan membawa partainya sebagai pemenang pemilu legislatif. Tak hanya itu, dia juga unggul urusan finansial yang berlimpah ruah.
Artinya, lanjut Wildan, jika Bupati Fauzi semakin optimistis dan percaya diri menang dengan investasi program kerja periode pertama, pada periode kedua ini cukup cari sosok teknokrat atau tenaga profesional.
Baca Juga: Luar Biasa! Perolehan Suara Said Abdullah Lebih Setengah Juta, Terbanyak Se-Indonesia
Wildan menyatakan tak perlu jauh-jauh mencari contoh dan bahan pertimbangan. Pada Pilpres 2009, presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memilih Budiono sebagai pasangan. Sementara, pada periode pertamanya, pendiri partai berlogo bintang mercy itu berpasangan dengan Jusuf Kalla.
”Jelas, SBY memilih Budiono tentu bukan orientasi pemenangan, tetapi lebih ke penataan ekonomi dan negara,” terangnya.
Dengan begitu, Bupati Fauzi jika ingin menciptakan pemerintahan yang good governance, tidak ada lagi pilihannya kalau tidak dari kalangan yang memiliki kemampuan teknokratik.
Wildan menyebutkan, sosok yang memiliki kemampuan teknokrat di Sumenep tentu dari jajaran birokrat. Dalam hal ini, bisa Edy Rasiyadi selaku Sekkab dan Yayak Nurwahyudi sebagai mantan Kepala Bappeda Sumenep.
Selaku Sekkab dan mantan Bappeda Sumenep, kata Wildan, kemampuan Edy dan Yayak tidak perlu diragukan. Keduanya paham betul bagaimana pemerintahan yang baik ke depan. Termasuk, misalnya urusan pembenahan bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ekonomi, dan lainnya. Itu nantinya akan terkelola sesuai dengan rencana seorang birokrat.
Dia menyampaikan, pejabat yang sudah mencapai puncak karier sebagai Sekkab dan Bappeda pasti memiliki pengalaman birokrasi yang mumpuni. ”Yang ideal untuk periode kedua ini, ya dari birokrasi. Karena untuk pembuktian dan catatan sejarah pengabdian,” tandasnya. (daf)
Editor : Dafir.