SUMENEP, RadarMadura.id – Tarian hadrah gendung merupakan salah satu tarian tradisional khas Sumenep. Kesenian tersebut masih eksis dan dilestarikan oleh masyarakat Desa Mantajun, Kecamatan Dasuk.
Anwari selaku seniman Sumenep menyampaikan, tarian dan hadrah gendung adalah sepasang tarian yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya menjadi satu kesatuan. Tarian klasik itu memiliki pesan spiritual yang dalam.
”Mengingatkan hamba untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, tarian perekat manusia dengan Tuhan,” ucapnya.
Dalam tarian hadrah gendung, terdapat tiga jenis klaster yang disatukan. Meliputi seni musik, tari, dan tarik suara alias menyanyikan syair islami berbahasa Madura.
Lirik tersebut menyampaikan pesan tentang perjuangan para rasul dan nabi atau utusan Allah. ”Di sela syair, juga dilantunkan salawat kepada para rasul,” jelasnya.
Menurut dia, pesan sosial dan keagamaan yang disampaikan menggunakan media kesenian cenderung lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Sebab, penerapannya bisa lebih disukai. Tarian gendung juga menjadi bukti bahwa orang Madura, khususnya Sumenep, sangat terbuka terhadap budaya luar.
”Dari sisi tarian mirip sekali dengan gerakan silat. Bahkan, mirip dengan tari saman di Aceh dan tari sapin di Riau. Ini menjadi bukti keterbukaan penduduk Madura terhadap tradisi dari luar,” tuturnya. (bus/yan)
Editor : Ina Herdiyana