SUMENEP, RadarMadura.id – Tiga mayat laki-laki ditemukan mengapung di tepi pantai Pulau Kangean.
Sementara seorang yang lain ditemukan terdampar di tepi pantai Kecamatan Batuputih, Sumenep.
Sebelum penemuan mayat dan orang terdampar tersebut, terjadi kecelakaan (laka) laut di perairan Sumenep.
Sebanyak 15 anak buah kapal (ABK) KMN Putra Sumber Mas menjadi korban dalam insiden Rabu (24/1) itu.
Kemudian, 12 orang di antaranya ditemukan di perairan Selat Bali atau utara Pulau Lombok.
Mereka berhasil diselamatkan oleh awak kapal tugboat (TB) Kharisma Bahari 168. Sedangkan tiga ABK yang lain belum ditemukan saat itu.
Koordinator Unit Siaga SAR Sumenep Basarnas Surabaya Nanang Pujo Prasetiyo menginformasikan, mayat itu ditemukan terdampar di pesisir pantai Dusun Bantelan, Desa Sergang, Kecamatan Batuputih.
Pria tersebut adalah Bagus Triyono, 33, warga Dusun Tanjung Sari, Desa Sugiwaras, Kecamatan/Kabupaten Pemalang. Penemuan korban berlangsung Jumat (26/1) sekitar pukul 22.30.
”Pria itu diduga korban laka laut. Itu berdasar keterangan polsek setempat kepada kami,” ungkapnya.
Pada Jumat (26/1) pukul 22.30 malam, kepala desa (Kades) Sergang mendapat laporan mengenai seorang laki-laki yang terdampar di pesisir Pantai Dusun Bantelan.
”Saat ditemukan, kondisi korban lemas,” ujarnya.
Kades bersama masyarakat Desa Sergang sempat membawa korban ke Puskesmas Batuputih supaya dilakukan penanganan medis karena kondisi korban sangat lemas.
Berdasar hasil pemeriksaan, tidak ditemukan luka pada tubuh korban. Hanya sedikit mengalami trauma mental.
Bagus Triyono berlayar dari Pelabuhan Banjar, Kabupaten Tuban, pada Sabtu (20/1) pukul 22.00. Dia bermaksud mencari ikan di peraian Bonang, Kabupaten Tuban.
”Korban bersama 13 rekannya berangkat menggunakan KM Berkah Amina 2 milik Huri,” tutur Nanang.
Kemudian pada Minggu (21/1) pukul 17.30, ABK tersebut mulai menaikkan jaring ikan.
Namun, pada waktu bersamaan, salah seorang ABK berteriak memberitahukan bahwa bagian belakang kapal mengalami kebocoran.
Sontak, kejadian tersebut membuat Eko, yang berperan sebagai tekong, menghentikan kapal dan ABK yang lain mulai memasang jangkar.
Semakin lama, air laut yang masuk kapal semakin banyak. Akibatnya, kapal terombang-ambing di tengah laut.
”Kejadian tersebut mengakibatkan mesin kapal mati dan tidak bisa menyala,” ujarnya.
Sekitar satu jam kemudian, kapal mulai tenggelam. ABK berupaya menyelamatkan diri dengan mengikat badan masing-masing menggunakan tali yang tersambung satu sama lain.
Tiga ABK memegang pelampung seadanya seperti galon dan tripung ikan. Selama tiga hari bertahan di tengah laut, Bagus Triyono terpisah dari 13 temannya.
Dia terombang-ambing sendirian di tengah laut selama dua hari hingga kemudian terdampar di pesisir Batuputih, Sumenep.
”Keluarga korban sudah dihubungi dan korban langsung dipulangkan,” ungkap Nanang.
Baca Juga: Pemkab Sumenep Bangun Kantin dalam KIHT Guluk-Guluk, Tahap Keempat Rp 2,5 Miliar
Sementara itu, mayat laki-laki ditemukan di pesisir Pantai Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, Sumenep, pada Minggu (28/1) pukul 08.00.
Berdasar identitas yang ditemukan, korban bernama Zainal Abidin, 47, warga Dusun Sidokumpul, Desa Blimbing, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.
”Kami sudah mengonfirmasi keluarga korban ABK KMN Putra Sumber Mas. Ternyata, mayat tersebut dipastikan koban laka laut kapal itu,” ujarnya.
Di pesisir pantai Kecamatan Kangayan juga ditemukan dua mayat laki-laki pada hari yang sama, Minggu (28/1) pukul 17.00.
Namun, identitas kedua mayat sama-sama tidak diketahui. ”Setelah dikonfirmasi kepada keluarga korban ABK KMN Putra Sumber Mas, tidak ada yang mengakui ciri-ciri dari dua mayat tersebut,” terangnya.
Kasihumas Polres Sumenep AKP Widiarti mengungkapkan, mayat Zainal Abidin, ABK KMN Putra Sumber Mas, ditemukan di pesisir Dusun Saghubing, Desa Buddhi, Kecamatan Arjasa.
Awalnya, Insiya, 35, warga setempat, pergi ke pinggir pantai untuk menunggu suaminya yang memancing di laut.
Saat itu, dia melihat boks atau drum di perairan pantai, kurang lebih berjarak 500 meter dari tepi pantai.
Karena penasaran, Insiya meminta Kadus Saghubing Subeiri untuk mengecek boks tersebut. ”Setelah dicek, ternyata benda itu bukan drum, melainkan mayat laki-laki,” terangnya.
Penemuan mayat tersebut dikonfirmasikan kepada keluarga korban ABK KMN Putra Sumber Mas. Salah satu keluarga korban membenarkan ciri-ciri mayat Zainal Abidin tersebut.
”Keluarga korban meminta agar korban dikuburkan di TPU (tempat pemakaman umum) Dusun Saghubing, Desa Buddi, dan menerima dengan ihklas atas kejadian tersebut,” tuturnya.
Baca Juga: Air Terjun Gedad, Tempat Wisata di Gunung Kidul yang Ditemukan oleh Kiai Abu Dardak
Sedangkan dua mayat laki-laki di perairan Dusun Pondok Kelor, Desa Torjek, Kecamatan Kangayan, Minggu (28/1) pukul 16.30 ditemukan Mat Dasan.
Sore itu dia memmancing di pesisir pantai sekitar. Tidak lama dari itu, dia melihat benda mengapung di perairan tepi pantai.
Setelah didekati, ternyata benda itu adalah dua mayat laki-laki. Peristiwa tersebut langsung dilaporkan kepada perangkat Desa Torjek dan Polsek Kangayan.
”Dua mayat itu dibawa ke puskesmas pembantu Dusun Pondik Kelor, Desa Torjek, untuk dilakukan pemeriksaan medis dan visum,” sebutnya.
Mayat pertama berjenis kelamin laki-laki. Memakai kaus ungu yang di punggungnya bertulis Shimano Real Angler Lets Fishing. Memakai celana pendek ungu, tubuh sudah membengkak, dan sebagian kulit mengelupas.
”Wajah bengkak dan rusak. Sidik jari tangan dan kaki rusak mengelupas serta tidak ditemukan ciri-ciri khusus,” tuturnya.
Sementara itu, mayat kedua ditemukan dalam keadaan telanjang, kulit tubuh mengelupas, wajah bengkak, dan rusak.
Sidik jari tangan dan kaki mengelupas. Mayat tersebut juga tidak ditemukan ciri-ciri khusus.
Polisi sudah berupaya mengonfirmasi keluarga korban kapal nelayan dari Lamongan yang tenggelam.
Namun, ciri-ciri mayat tersebut tidak ada yang mengakui sebagai anggota keluarga.
”Karena kondisi mayat mulai membusuk, maka segera dikuburkan di pemakaman Dusun Pondok Kelor, Desa Torjek,” jelas Widi. (bus/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti