SUMENEP, RadarMadura.id – Kapal Motor (KM) Labobar karam di perairan Pulau Karamian, Masalembu, Sumenep, Rabu (20/12). Puluhan nyawa melayang dalam kecelakaan laut tersebut. Salah satu di antaranya anak-anak usia kelas satu sekolah dasar (SD).
Kapal itu milik Nisfu, warga Desa Asam Asam, Kecamatan Jorong, Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Kapal 4 gross tonnage (GT) itu berlayar dari Pelabuhan Masalambu Selasa (19/12). Dari pelabuhan itu mengangkut 10 ekor sapi dan 4 penumpang yang bertugas menjaga sapi.
Kemudian, pukul 20.00 tiba di pelabuhan tradisional Dusun Sudimampir, Desa/Pulau Karamian, Kecamatan Masalembu. Sekitar pukul 23.00 anak buah kapal (ABK) menambah muatan 22 ekor sapi.
Setelah itu kembali menambah 12 penumpang pada Rabu (20/12) pukul 02.00. Belasan orang tersebut dijemput ke kapal penampung ikan di kolam labuh. Sekitar pukul 03.00 kapal berlayar menuju Desa Asam Asam, Kecamatan Jorong, Tanah Laut, Kalimantan Selatan.
Jangkar sudah diangkat. Mesin sudah menderu. Kemudi sudah diarahkan ke pelabuhan tempat kapal akan berlabuh di Pulau Kalimantan. Namun, semua itu gagal setelah kapal beranjak meninggalkan Karamian, pulau terluar Sumenep di sebelah utara Kepulauan Masalembu.
Sekitar 100 meter berlayar, kapal tiba-tiba miring ke kanan. Kru dan penumpang mulai panik. Kapal tak bisa diselamatkan. Terbalik lalu tenggelam. Di bawah langit gelap dini hari, para penumpang berusaha menyelamatkan diri. Namun, Arham terjebak di dalam kabin kapal. Anak yang masih berusia 6 tahun dan duduk di kelas I SD itu meninggal dunia.
Kapal tradisional tersebut mengangkut 19 orang. Perinciannya 16 penumpang, seorang nakhoda yang sekaligus pemilik kapal, dan 2 ABK. Belasan penumpang itu berasal dari Kecamatan Masalembu, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan. Berikut nama-nama penumpang KM Labobar:
1. Hasaniya, 31, warga Desa/Pulau Karamian, Masalembu, Sumenep
2. Arham, 6, warga Desa/Pulau Karamian, Masalembu, Sumenep (meninggal)
3. Marsya, 12, warga Desa/Pulau Karamian, Masalembu, Sumenep
4. Sabaniya, 35, warga Desa/Pulau Karamian, Masalembu, Sumenep
5. Maya, 16, warga Desa/Pulau Karamian, Masalembu, Sumenep
6. Mahesa, 13, warga Desa/Pulau Karamian, Masalembu, Sumenep
7. Arpan, 7, warga Desa/Pulau Karamian, Masalembu, Sumenep
8. Tang, 33, warga Desa Asam Asam, Kecamatan Jorong, Tanah Laut, Kalimantan Selatan
9. Amiruddin, 28, warga Desa Asam Asam, Kecamatan Jorong, Tanah Laut, Kalimantan Selatan
10. Henra, 26, warga Sulawesi Selatan
11. Jumaidi, 25, warga Desa Asam Asam, Kecamatan Jorong, Tanah Laut, Kalimantan Selatan
12. Aldiansa, 23, warga Desa Asam Asam, Kecamatan Jorong, Tanah Laut, Kalimantan Selatan
13. Saddang, 45, warga Kecamatan Masalembu, Sumenep
14. Mat Salam, 45, warga Kecamatan Masalembu, Sumenep
15. Zainuddi, 19, warga Kecamatan Masalembu, Sumenep
16. Atip, 43, warga Kecamatan Masalembu, Sumenep
Berdasar usia penumpang, dua orang masih anak-anak termasuk korban meninggal. Yakni, Arham, 6, warga Desa Karamian, Masalembu, Sumenep. Dia meninggal dunia karena terjebak di dalam kapal. Sementara penumpang usia remaja dua orang. Selebihnya pemuda dan orang dewasa.
Anggota Polsek Masalembu mendapatkan informasi kecelakaan itu dari petugas Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Masalembu Wilayah Kerja Karamian. Saat itu juga polisi langsung melakukan koordinasi dengan pihak lain.
”Kalau dari dermaga, posisi tenggelamnya kapal itu diperkirakan 200 meter barat laut dermaga Karamian,” terang Kasihumas Polres Sumenep AKP Widiarti.
Widiarti menambahkan, berdasarkan informasi yang diterima, kapal Labobar berlayar tanpa dilengkapi surat persetujuan berlayar (SPB) dari syahbandar. Termasuk Nisfu selaku nakhoda juga tidak memiliki sertifikat keterangan kecakapan (SKK).
Selain itu, KM Labobar berlayar melebihi kapasitas. ”Kapal mengalami kerusakan parah, 29 ekor sapi mati, dan 1 penumpang meninggal dunia,” ungkap mantan Kapolsek Kota Sumenep itu.
Kepala Kantor UPP Kelas III Masalembu Taufikur Rahman mengaku tidak mengetahui keberangkatan KM Labobar yang tenggelam tersebut. Sebab, sebelumnya tidak ada koordinasi. Sesuai aturan, sebelum berangkat mestinya mengurus surat izin terlebih dahulu.
”Saya menyayangkan kepada nakhodanya itu tidak mengurus izin. Karena tidak izin, jadinya saya tidak tahu kedatangannya, keberangkatan, dan memuat apa saja,” katanya.
Taufik menyampaikan, berdasarkan informasi yang diterima, kapal tersebut membawa muatan melebihi kapasitas. Seharusnya hanya membawa sapi 12–15 ekor. Namun, kapal tersebut mengangkut 32 ekor sapi plus 19 orang.
”Kapalnya layak, hanya overload. Seandainya izin, pasti tidak akan saya berikan surat izin berlayar karena saya mengutamakan keselamatan mereka,” ucapnya.
Menurut Taufik, Nisfu selaku nakhoda terkesan mengelabui kantor UPP Kelas III Masalembu. Sebab, KM Labobar menaikkan penumpang bukan di dermaga, melainkan di kapal penampung ikan. Sebab, kalau dinaikkan di dermaga, dikhawatirkan banyak yang melihat dan dilaporkan kepada syahbandar.
Taufik mengakui peristiwa tersebut merenggut nyawa seorang anak yang masih kelas I SD. Arham meninggal karena terjebak di dalam kamar (kabin) kapal. ”Saat kapal tenggelam tidak bisa keluar dari kapal karena terjebak,” tuturnya.
Lokasi karam kapal tersebut sebenarnya tidak jauh dari dermaga. Kondisi air tidak terlalu dalam. Kondisi cuaca juga tidak ekstrem. Pada saat kejadian, penumpang langsung menyelamatkan diri menuju tepi pantai. ”Penumpang yang selamat itu sudah pulang ke rumah masing-masing,” ujar Taufik.
Taufik mengungkapkan, masyarakat Masalembu memang sering mengirim sapi ke wilayah Desa Asam Asam, Kecamatan Jorong, Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Sebab, dari Desa Karamian hanya ditempuh delapan jam pelayaran menggunakan kapal tradisional. Jarak itu lebih dekat dibandingkan berlayar ke Pelabuhan Kalianget, Sumenep, yang membutuhkan waktu belasan jam. Karena itu mobilitas masyarakat Masalembu banyak ke daerah Kalimantan.
”Sudah sering saya ingatkan agar izin dulu ke syahbandar. Tapi, sering kali diabaikan. Itu yang saya sayangkan. Kalau ngurus surat izin, pasti akan kami batasi muatannya,” imbuhnya. (iqb/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti