SUEMENP, RadarMadura.id – Selama masih hidup harus selalu belajar. Di mana pun berada, jangan merasa puas belajar. Itulah yang terus dipegang oleh Rektor Uniba Madura Prof Rachmad Hidayat dalam menjalani hidup.
Ruangan megah dengan satu komputer di meja dan sejumlah berkas serta sederet penghargaan menjadi saksi perjalanan panjang Rachmad Hidayat. Pria bernama lengkap Prof Dr Ir H Rachmat Hidayat, MT, IPU, ASEAN Eng itu merupakan sosok yang kaya wawasan dan ilmu pengetahuan.
Pria kelahiran Pamekasan, 19 Juni 1974, itu dipercaya memimpin kampus baru di Sumenep, Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Madura. Kemampuan yang dimilikinya itu tentu tidak didapatkan secara instan, tetapi melalui proses yang cukup panjang. Salah satunya dengan menempuh kuliah tujuh kali di tiga bidang ilmu berbeda. Dengan demikian, gelar yang dimilikinya cukup banyak.
Dia kuliah S-1 Teknik Industri Fakultas Teknik Industri Jurusan Institut Teknologi Nasional Malang hingga lulus 1997. Kemudian, S-1 Jurusan Hukum Fakultas Hukum Universitas Negeri Malang hingga lulus 2000. Juga kuliah S-1 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pembangunan Nasional Indonesia Malang. Di kampus itu dia menekuni jurusan manajemen fakultas manajemen hingga lulus 2003.
Sedangkan S-2-nya ditempuh di jurusan manajemen Universitas Gajayana Malang hingga lulus 1999. Juga menempuh S-2 di Jurusan Teknik Industri atau Manajemen Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya lulus 2002. Rachmad juga kuliah S-2 di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) jurusan hukum lulus 2019.
Lalu, S3-nya ditempuh di jurusan ilmu ekonomi manajemen Universitas Airlangga Surabaya lulus 2006. ”Jadi, saya sudah 7 kali kuliah di tiga bidang ilmu berbeda,” ucap alumnus SMPN 1 Sumenep itu kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Selasa (12/12) siang.
Putra pasangan H Mahmud dan Sunia itu tidak langsung meniti karier menjadi dosen. Sejak lulus kuliah S-1 pada 1997 sempat berangkat ke Jakarta. Di ibu kota dia bekerja di PT Astra International. Namun, satu tahun kemudian diminta pulang ke Sumenep oleh kedua orang tuanya.
Setelah itu, alumnus SDN Bangkal 2, Sumenep, itu memutuskan untuk melanjutkan kuliah S-2 di Universitas Gajayana Malang. Sejak kecil, Rachmad memang senang belajar. Karena itu, banyak menempuh kuliah di berbagai perguruan tinggi. Tahapan di setiap perguruan tinggi tersebut dilalui sejak awal hingga lulus.
Pengalaman panjang di bangku kuliah itu membuat diri Rachmad memiliki banyak teman dan jaringan sehingga lebih memudahkan untuk mengantarkan dirinya menjadi dosen. ”Pertama kali saya menjadi dosen di Universitas Widyagama Malang. Kontrak saya habis tahun 2021,” tutur alumnus SMAN 1 Sumenep itu.
Setelah kontraknya habis, Rachmad menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi di Surabaya hingga 2006. Mulai dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Universitas W.R. Supratman (Unipra), Universitas Muhammadiyah Surabaya, dan berbagai perguruan tinggi lain. Termasuk berbagai kampus di Malang.
”Dari situ saya kemudian banyak teman. Pada 2006, saya menjadi dosen PNS di UTM. Saat pertama kali masuk, di UTM doktornya hanya tiga, termasuk saya,” kenang Rachmad.
Selama mengabdi di UTM, pengalaman Rachmad bertambah luas. Sebab, aktif melakukan penelitian dan mengisi berbagai seminar. Dari Aceh sampai Papua pernah didatangi menjadi narasumber.
”Saya pernah menjadi narasumber seminar hampir di semua daerah di Indonesia. Itu membuat saya senang karena mendapatkan banyak pengalaman dan bertemu banyak orang,” tuturnya.
Di UTM, Rachmad juga pernah menjadi wakil dekan dan dekan bidang kemahasiswaan. Hal itulah yang membuat Rachmad sangat dekat dengan mahasiswa. ”Hobi saya ngopi. Jadi sering ngopi dengan mahasiswa sampai malam,” jelasnya.
Menurut Rachmad, selama di UTM dirinya sudah mendapatkan segalanya. Bahkan, gelar guru besar berhasil diraih. Begitu juga dengan jabatan fungsional sebagai dosen PNS dengan golongan IV/e.
Hal itu yang menjadi alasan dirinya tidak ikut pemilihan rektor UTM pada 2021. ”Karena tantangan saya di UTM sudah selesai. Jadi, saya cari tantangan baru. Salah satunya dengan mengembangkan Uniba,” tuturnya.
Untuk menjadikan Uniba Madura besar seperti sekarang tidak mudah. Sebab, saat baru dirintis pada 2018 hanya ada tiga pegawai yang membantu. Yakni, sekretaris rektor, sekretaris yayasan, dan bagian keuangan. Seiring berjalannya waktu kemudian bertambah.
Pada saat itu, jumlah mahasiswa hanya 98 orang. Kemudian dari tahun ke tahun bertambah hingga saat ini menjadi 1.575 orang. ”Untuk memulai sesuatu itu, kita harus berani berkorban. Kemudian, harus berani memulai dari hal kecil,” pesan Rachmad.
Saat ini perguruan tinggi cukup banyak. Uniba Madura yang masih sangat belia tentu membutuhkan banyak terobosan untuk bisa berdaya saing. Makanya, selama ini dirinya menerapkan banyak lompatan dan terobosan. Salah satunya melalui publikasi untuk mengenalkan setiap potensi yang dimiliki.
Dalam menjadikan Uniba seperti sekrang ini, Rachmad juga memanfaatkan jaringan yang penah dibangun sejak duduk di bangku kuliah. ”Jadi, apa yang saya lakukan selama ini tidak terlepas dari jaringan dan teman-teman sejak kuliah,” ucapnya.
Rachmad berpesan kepada mahasiswa agar terus menempuh ilmu sebanyak mungkin. Sebab, dengan sendirinya ilmu akan mengantarkan manusia pada kesuksesan. Karena itu, dia berharap mahasiswa tidak pernah berhenti untuk belajar.
”Di mana pun kita, selama kita hidup jangan berhenti untuk belajar. Jangan merasa puas. Jangan merasa sudah selesai,” pesan ayah Raihan Ahsanul Hidayat, Nabila Dzatil Hidayah, dan Muhammad Nauval Hidayat itu. (*/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Ina Herdiyana