RadarMadura.id – KH Taufiqurrahman Fathul Mu’in atau yang lebih dikenal dengan KH Taufiqurrahman FM meninggal dunia Senin (18/12). Beliau adalah salah seorang tokoh ulama, pengasuh pesantren, dan aktivis Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Sumenep, Jawa Timur.
KH Taufiqurrahman FM lahir di Sumenep pada 25 November 1955. Beliau berasal dari keluarga yang memiliki garis keturunan ke beberapa kiai terkemuka di Jawa Timur seperti Kiai Ruham dari Pamekasan dan Kiai Idris dari Patapan, Pragaan, Sumenep.
Kiai Ruham dan Kiai Idris adalah leluhur dari banyak kiai dan pendiri pesantren di daerah tapal kuda seperti KHR As’ad Syamsul Arifin dari Sukorejo, Situbondo, dan KH Zaini Mun’im dari Paiton, Probolinggo.
KH Taufiqurrahman FM menikah dengan Nyai Hajjah Ulfah Umamiyah, putri KH Asnawi Imam, salah seorang ulama karismatik Sumenep yang juga pendiri Pondok Pesantren al-Karawi, Karay, Ganding.
Sehari setelah pernikahan mereka pada 1978, KH Taufiqurrahman FM mendirikan Pondok Pesantren Mathlabul Ulum di Desa Jambu, Kecamatan Lenteng, Sumenep.
Pondok Pesantren Mathlabul Ulum merupakan pondok pesantren yang menggabungkan pendidikan formal dan nonformal.
KH Taufiqurrahman FM mengawali pendidikan di pondok pesantrennya dengan mendirikan madrasah diniyah (MD) pada 1978. Kemudian, madrasah tsanawiyah (MTs) pada 1983 dan madrasah aliyah (MA) pada 1985.
Selain itu, beliau mendirikan Ma’had Muallimien al-Islamiyah (MMI) pada 1987. Lembaga pendidikan ini menerapkan sistem Gontor, tempat KH Taufiqurrahman FM menimba ilmu sebelumnya.
Pondok Pesantren Mathlabul Ulum berkembang pesat dengan dukungan masyarakat sekitar. Hingga saat ini, pondok pesantren ini telah memiliki ribuan santri dan alumni yang tersebar di berbagai daerah.
KH Taufiqurrahman FM menjadi pengasuh dan pendiri pondok pesantren ini hingga akhir hayatnya.
Selain mengurus pondok pesantren, KH Taufiqurrahman FM juga aktif di berbagai organisasi sosial dan politik. Beliau adalah salah seorang deklarator dan anggota DPRD Provinsi Jatim dari PKB periode 1999–2004.
Beliau juga pernah menjabat sebagai ketua, wakil rais syuriah, dan rais syuriah PCNU Sumenep. Beliau juga dikenal sebagai penceramah yang sering diundang masyarakat untuk memberikan tausiah agama di berbagai tempat di Sumenep, termasuk di wilayah kepulauan.
KH Taufiqurrahman FM meninggalkan warisan besar bagi warga nahdliyin Sumenep dan Jawa Timur. Beliau adalah sosok ulama yang berdedikasi untuk mengabdi kepada masyarakat dan NU. ”Jiwa dan hidup saya untuk masyarakat dan NU,” ucapnya. (fadila)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Ina Herdiyana