Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kemarau Panjang, Warga di Sumenep Rela Antre Pagi hingga Malam demi Air Bersih

Fatmasari Margaretta • Selasa, 24 Oktober 2023 | 16:02 WIB

JADI TUMPUAN: Sumber Okem di Dusun Tanunggul, Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, menjadi satu-satunya sumber mata air yang bisa digunakan warga sekitar.
JADI TUMPUAN: Sumber Okem di Dusun Tanunggul, Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, menjadi satu-satunya sumber mata air yang bisa digunakan warga sekitar.

SUMENEP, RadarMadura.id – Kemarau panjang membuat masyarakat Montorna mengalami krisis air bersih. Desa di wilayah Kecamatan Pasongsongan itu tergolong desa dengan status kekeringan kritis. Akibatnya, 6.300 lebih warga kelimpungan saat kemarau panjang.

Desa Montorna sudah mengalami kekeringan kritis sejak Agustus. Warga mengandalkan bantuan pemerintah dan relawan yang bersifat sementara. Warga juga siaga dengan melakukan pengeboran. Namun, hasilnya nihil. Air hasil pengeboran pribadi rasanya asin dan tidak layak dikonsumsi. Karena itu, tidak sedikit warga yang membeli air bersih.

Harga air bersih dipatok Rp 220 ribu hingga Rp 350 ribu per tangki. Bergantung jarak dan medan di lapangan. ”Kalau beli satu tangki untuk sataneyan,” ungkap Muhammad Zayyadi, pemuda Dusun Tanonggul.

Pembelian air tidak bisa dilakukan secara terus-menerus. Mengingat, saat ini harga beras dan kebutuhan pokok cenderung mahal. Warga mengandalkan sumber mata air dari persawahan bernama Sumber Okem.

Sumber tersebut menjadi tumpuan warga. Ratusan orang hilir mudik untuk mengambil air bersih. Mereka harus antre sejak pagi buta hingga malam. ”Kalau sebelumnya masih ada bantuan, ada yang menjual meski mahal. Sekarang bantuan belum datang lagi, jadi antre di Sumber Okem,” jelasnya.

Kades Montorna Achmad Junaidi membenarkan warganya mengalami kesulitan air bersih sejak Juli atau Agustus. Khusus Dusun Tanonggul menjadi salah satu dusun yang mengalami kekeringan kritis. Warga di sana harus antre di Sumber Okem serta menempuh medan terjal dan jalan rusak.

Warga yang mampu membeli air Rp 350 ribu per tangki. Isi bersih 5.000 liter. ”Karena Tonunggul ini dusun paling jauh dan medannya sulit, jadi harganya mahal,” jelasnya.

Sementara harga di dusun lain kisaran Rp 220 ribu hingga Rp 250 ribu. Desa Montorna terdiri atas delapan dusun. Yakni, Dusun Montorna, Lenteng, Tanggulun, Dalima, Tanunggul, Berkongan, Bangsoka, dan Komes.

Junaidi menyampaikan, bantuan pemerintah tahap pertama sudah didistribusikan. Bantuan yang diserahkan 90 tangki. Tahap berikutnya dijadwalkan Senin (23/10). ”Sesuai pengajuan tahap kedua ini sekitar 100 tangki air bersih. Entah nanti berapa yang akan dikirim,” jelasnya.

Warga Dusun Berkongan, Bangsoka, dan Komes sempat melakukan pengeboran. Namun, air yang dihasilkan payau dan tidak bisa dikonsumsi maupun untuk kebutuhan lain. Juga termasuk untuk minum ternak dan mengairi area persawahan.

Pihaknya berharap, pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pusat mencarikan sumber air yang bisa dikonsumsi. Beberapa waktu lalu sempat disurvei oleh tim dari Kodim 0827/Sumenep. Namun, alat belum bisa dibawa ke lokasi karena keterbatasan akses infrastruktur yang tidak memadai. ”Kendala kami aksesnya,” terangnya.

Kepala Pelaksana BPBD Sumenep Wahyu Kurniawan Pribadi menyampaikan, tahap pertama pendistribusian air bersih ke Montorna sudah selesai. Saat ini sedang proses tahap berikutnya. Namun, kekeringan di Desa Montorna tidak bisa mengandalkan anggaran dari pemerintah kabupaten (pemkab). Butuh peran stakeholder, organisasi masyarakat (ormas), hingga BUMN seperti perbankan.

”Kami sudah pakai dana talangan. Dua hari terakhir Minggu (22/10) hingga nanti memasuki musim hujan bantuan air bersih terus kami kirim ke wilayah-wilayah kekeringan ekstrem,” jelasnya.

Pihaknya akan terus berkoordinasi untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat. Khusus Montorna mengajukan bantuan 100 tangki air bersih. ”Terus kami distribusikan sampai saatnya musim hujan turun,” katanya. (via/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Fatmasari Margaretta
#kodim #Trending #sumenep #pemkab #tangki #Harga Air Bersih #antre #viral #air bersih #stakeholder #radar madura #kemarau panjang