SUMENEP, RadarMadura.id – Musim kemarau tahun ini mendukung aktivitas petani garam. Karena itu, produksi garam berlangsung lancar dan hasil panen melimpah. Namun, harga garam tidak terlalu mahal. Indikasinya, garam petani dibeli Rp 1.500 per kilogram.
Humas PT Garam (persero) Kalianget Miftahul Arifin mengatakan, tahun ini perusahaannya menargetkan serapan atau pembelian garam petani 13 ribu ton. Sementara target produksi garam perusahaannya 225 ribu ton.
Menurut dia, penyerapan garam petani mulai dilakukan. Capaian mulai kemarin (10/9), total serapan garam petani yang dilakukan PT Garam mencapai 600 ton. Perinciannya, serapan di Sumenep 130 ton, Sampang 330 ton, dan Cirebon 140 ton.
”Kalau produksi PT Garam sampai sekarang mencapai 102 ribu ton. Sebanyak 40 ribu ton di antaranya dari Sumenep,” tuturnya.
Miftah menyatakan, penyerapan garam petani masih terus berlangsung. Perusahaannya membeli garam petani seharga Rp 1.500 per kilogram. Harga tersebut mengikuti harga pasar. ”Kalau petani mau dengan harga tersebut, kami beli,” paparnya.
Hingga sekarang, kondisi cuaca musim kemarau masih terpantau bagus. Karena itu, produksi garam diprediksi berlanjut hingga awal November. ”Jika masih memungkinkan, bisa sampai akhir Desember,” tandasnya.
Abdurrahman, petani garam asal Desa Pinggirpapas, Kecamatan Kalianget, menuturkan, hasil produksi garam miliknya dijual Rp 1.700 per kilogram. Garam tersebut dijual langsung kepada pengepul atau makelar. ”Harga garam Rp 1.700 per kilogram, tidak mahal, tapi juga tidak murah,” jelasnya.
Dia menyampaikan, harga garam pada 2022 hanya Rp 1.000–1.400 per kilogram. Lebih parah lagi, harga garam pada 2021. Per kilogram hanya bisa dijual Rp 500. ”Harga garam bisa dikatakan mahal jika mencapai Rp 3.000–3.500 per kilogram. Tapi jarang bisa sampai segitu,” ujarnya. (bus/yan)
Editor : Ina Herdiyana