Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

SDN Juluk 2 Saronggi Pertahankan Budaya Lokal

Hendriyanto • Sabtu, 1 Juli 2023 | 21:11 WIB

MERIAH: Kepala Dispendik Sumenep Agus Dwi Saputra (naik kuda kiri) dan Kepala SDN Juluk 2 Mahelli (kanan) dan komite sekolah ikut pawai, Selasa (20/6).
MERIAH: Kepala Dispendik Sumenep Agus Dwi Saputra (naik kuda kiri) dan Kepala SDN Juluk 2 Mahelli (kanan) dan komite sekolah ikut pawai, Selasa (20/6).

SUMENEP, RadarMadura.id – SDN Juluk 2, Kecamatan Saronggi termasuk sekolah penggerak angkatan pertama di Sumenep. Berbagai kegiatan dilaksakan daklam merealisasikan program projek penguatan profil pelajar pancasila (P5). Sekolah tersebut juga fokus pada pengenalan budaya lokal.

Kepala SDN Juluk 2 Mahelli, S.Pd mengatakan, pihaknya memiliki cara tersendiri dalam merealisasikan program P5. Salah satunya dikemas dengan pawai karya budaya antara tradisi dan edukasi (Pakaya Ate). Program ini sudah berjalan sejak tahun lalu.

”Ketika dipilih menjadi sekolah penggerak, peningkatan kualitas sekolah mutlak harus dilakukan. Output dari sekolah penggerak adalah meningkatkan kualitas peserta didik,” katanya.

Mahelli menjelaskan, pada 2022 program P5 diisi dengan kegiatan pameran budaya. Yakni budaya Cahe. Budaya ini digelar sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT menjelang musim hujan. Menurutnya, tradisi Cahe  jarang diketahui generasi muda Kecamatan Saronggi. Waktu itu, Bupati Sumenep Achmad Fauzi juga hadir didampingi sejumlah pimpinan OPD.

Selain itu, sekolah juga menggelar pelatihan batik. Itu dilakukan untuk memberikan bekal keterampilan kepada siswa. Sebab, wali murid banyak yang merantau ke luar daerah.

”Kami menginginkan mereka (siswa, red) punya keterampilan membatik. Jadi, ketika sudah punya keterampilan, kami berharap mereka bisa berkarya di rumah sendiri,” jelasnya.

Tahun ini kegiatan Pakaya Ate digelar lebih meriah. SDN Juluk 2 menggelar berbagai kegiatan selama tiga hari.  Seperti lomba antar wali murid pada Senin (19/6), pawai budaya dan pentas seni pada Selasa (20/6). Sedangkan kegiatan lepas pisah pada Rabu (21/6).

Mahelli mengungkapkan, kegiatan tersebut digelar dengan melibatkan seluruh unsur sekolah. Termasuk juga perangkat desa dan tokoh pemuda desa. Mereka turut serta memeriahkan kegiatan pawai budaya. Selain menampilkan pakaian adat dari berbagai daerah, sekolah juga menampilkan kostum karnaval yang dibuat oleh siswa dengan bahan daur ulang.

”Dalam kegiatan Pakaya Ate kami juga fokuskan pada pengenalan budaya, seperti jaran serek, saronen dan budaya lainnya yang ada disekitar sekolah,” ungkapnya.

Pendidik asal Kecamatan Lenteng itu menilai, siswa sekarang kurang mengenal budaya lokal. Itu tidak terlepas dari pengaruh perkembangan teknologi. Karena itu, pihaknya berusaha untuk mempertahankan budaya lokal melalui program-program di sekolah.

Program Pakaya Ate mendapatkan dukungan penuh dari semua pemangku kepentingan. Seperti Dinas Pendidikan Sumenep, warga sekolah, komite sekolah, dan masyarakat sekitar termasuk kepala desa beserta perangkatnya serta tokoh pemuda desa.

Makanya, kami melibatkan semua unsur dalam merealisasi program Pakaya Ate,” tukasnya. (bil/dry)

Editor : Hendriyanto
#SDN Juluk 2 #sumenep #pawai budaya #budaya lokal