Bangunan-bangunan itu milik pengusaha dan pekerja warung kelontong di Jakarta dan sekitarnya. Padahal, masyarakat yang sukses membuka warung Madura bukan hanya di kawasan itu. Hampir menyebar di seluruh desa di Kecamatan Talango. Bahkan, di kecamatan lain seperti Gapura, Batang-Batang, Lenteng, dan lain-lain juga banyak yang abarungan.
Tidak semua orang buka warung sukses. Ada juga yang buntung karena kehabisan modal. Salah satu pemicu usaha bangkrut karena salah memilih pekerja. Masnito pernah mengalami pengalaman pahit itu.
Warga Dusun Banban, Desa Cabbiya, Kecamatan Talango, itu awalnya memiliki tiga toko. Rata-rata mendapatkan jutaan rupiah setiap harinya. Dia mempercayakan kepada orang yang punya niat baik untuk mengelola. ”Tiap hari tidak mati di angka Rp 3 juta,” katanya.
Tahun lalu modal dan barang dagang di dua tokonya ludes. Hal tersebut membuat dirinya mengeluarkan banyak uang untuk menyelamatkan warungnya agar tetap buka.
”Setelah 9 bulan dijaga orang dan saya cek, hasilnya hancur. Kemarin saya ngisi warung lagi habis Rp 30 juta,” ungkap Masnito.
Satu toko itu kini sementara tidak dibuka. Sebab, modal untuk mengelola sudah habis. ”Sekarang tinggal dua toko yang saya buka. Risiko buka toko kelontong itu memang saat salah pilih orang. Bisa hancur dan habis dagangan kita,” ucap Masnito.
Kades Cabbiya Ikram mengakui memang banyak warganya yang merantau ke Jakarta dan sekitarnya untuk membuka toko kelontong. Ada yang sudah memiliki sendiri dan sebagian yang masih bekerja. ”Iya, memang rata-rata memiliki toko kelontong,” kata Ikram. (iqb/luq) Editor : Abdul Basri