Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Cerita Pekerja Warung Madura di Ibu Kota, Ke Jakarta Seakan Sudah Jadi Tradisi

Abdul Basri • Kamis, 27 April 2023 | 06:45 WIB
MEGAH: Rumah berlantai dua milik keluarga besar Masnito di Desa Cabbiya, Kecamatan Talango, Pulau Poteran, Sumenep. (MOH. IQBAL/JPRM)
MEGAH: Rumah berlantai dua milik keluarga besar Masnito di Desa Cabbiya, Kecamatan Talango, Pulau Poteran, Sumenep. (MOH. IQBAL/JPRM)
SUMENEP – Keluarga besar Masnito bisa dibilang perintis toko kelontong bagi warga Pulau Poteran di Jakarta. Sejak 2000-an, warga Dusun Banban, Desa Cabbiya, Kecamatan Talango, itu sudah berada di Ibu Kota. Kini pria 60 tahun itu mampu memiliki banyak toko dan membangun rumah besar.

Photo
Photo
HASIL KERJA: Rumah warga di Dusun Mandun, Desa Cabbiya, Kecamatan Talango, Pulau Poteran, Sumenep. (MOH. IQBAL/JPRM)

Masnito berada di Jakarta sebelum 2000 karena di daerah asal sulit pekerjaan. Awalnya jual kayu dan gorengan. Di Ibu Kota itu dia bersama anak pertama, Abd. Azis. Saat itu Azis jadi pengasong keliling. Lambat laun si sareyang itu bekerja menjaga toko kelontong milik warga Sumenep juga.

Usaha warung kelontong di Jakarta awalnya banyak digeluti warga Pulau Gili Genting. Sekitar 1990-an sudah banyak yang buka warung. Sehingga, banyak rumah besar, namun minim penghuni selain bulan Ramadan. Kondisi itu kini juga terlihat di Pulau Poteran dan beberapa kecamatan lain. Dulu Masnito juga pernah bekerja sama dengan warga Pulau Gili Genting.

Hasil bekerja Aziz disisihkan, hingga sekitar 2000 membuka toko sendiri. Aziz memang fokus mengembangkan toko. Hingga memiliki banyak toko kelontong di Jakarta. Kini dia punya lima toko. Melihat kesuksesan anaknya itu, Masnito memutuskan untuk berhenti menjual kayu. Dia memilih membuka toko kelontong juga hingga berbuah manis.
Secara perlahan Masnito juga memberanikan diri membuka usaha toko kelontong sendiri. Bukan lagi menjaga toko milik orang lain.

”Saya kala itu juga punya 3 toko di Jakarta,” ujar Masnito, Rabu (19/4).

Photo
Photo
SELALU BUKA: Warga berbelanja di toko yang dijaga Moh. Rusdi, warga Kecamatan Talango, Sumenep, di Depok, Jawa Barat, Rabu (19/4).

Kedua anak lainnya juga mengikuti jejak tersebut dengan merantau ke Jakarta. Anak-anaknya itu sempat memiliki belasan toko. Hasil jerih payah keluarga besar Masnito merantau itu ditabung. Anak-anaknya mampu membuat rumah besar dan membeli mobil.
”Anak kedua saya punya warung 18 dan yang ketiga punya 4 warung. Namun, satu warung di area Pamekasan,” papar Masnito.

Keberhasilan membuka toko kelontong tersebut awalnya tidak diketahui banyak orang di daerahnya. Setelah keluarga besarnya itu mampu membuat rumah dan membeli banyak kebutuhan keluarga, mulai dilirik orang. Bahkan, sempat dikira mendapatkan uang dengan cara tidak benar. Namun, secara perlahan Masnito mengajak teman-temannya untuk bekerja menjaga tokonya dengan sistem bagi hasil.

Saat itulah warga Talango mulai mengetahui hasil dari membuka warung kelontong di Jakarta. ”Sekarang mayoritas sudah buka warung kelontong semua,” ungkap Masnito.
Kesuksesan keluarga besar Masnito tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses panjang dan perjuangan. Sebelum membuka toko sendiri dia menjual hewan dan kendaraan.

Apalagi, untuk membuka satu toko saja butuh modal puluhan juta rupiah untuk sewa kontrakan dan isi toko. Satu toko saja sekarang butuh modal Rp 50 juta sampai Rp 100 juta. ”Kadang meski Lebaran tidak pulang karena harus jaga toko. Sekarang saja, anak saya belum ada yang pulang. Kalau mau pulang biasanya mencari pengganti yang mau menjaga tokonya dulu,” ujarnya.

Sementara itu, Moh. Rusdi, 24, warga Desa Gapurana, Kecamatan Talango, sudah lima bulan bekerja menjaga toko kelontong di Jakarta. Dia berangkat atas dorongan kuat keluarga. Sebab, mayoritas warga di kampungnya merantau ke Jakarta menjaga toko kelontong. ”Bahkan, ini seakan sudah menjadi tradisi di Talango. Kalau tidak ada pekerjaan, pasti berangkat ke Jakarta,” katanya.

Meminjam bahasa Mahwi Air Tawar, bagi orang Madura, Jakarta sudah menjadi seperti halaman. Saking boomingnya warung jakarta’an ini, warung kelontong seolah hanya di Jakarta. Padahal, sudah banyak berkembang ke Jawa Barat, Jogjakarta, dan beberapa daerah di Jawa Timur.

Saat ini Rusdi menjaga toko kelontong di kawasan Depok, Jawa Barat. Di perantauan itu dia bersama dua kerabatnya. Dalam satu toko itu dijaga tiga orang sekaligus.
Warung madura ini dikenal dengan ciri khas buka 24 jam. Sehingga, dijaga secara bergantian. Menurutnya, bekerja menjaga toko di Jakarta itu memang cukup enak. Sebab, tidak banyak gerak, namun bisa menghasilkan uang yang banyak.

Namun, harus bisa menahan kantuk karena toko tidak boleh tutup. Karena itu, Rusdi dan dua rekannya benar-benar memaksimalkan waktu yang tersedia untuk beristirahat. ”Kalau sudah ngantuk, dan belum waktunya ganti, iya harus ditahan,” tutur Rusdi.

Menjaga warung di Jakarta dipastikan tidak bisa tidur dengan nyaman, menggunakan kasur empuk, dan kamar luas. Sebab, toko kecil itu harus dimaksimalkan dengan baik. Setiap kali istirahat harus berdesakan dengan barang dagangan. ”Walaupun sakit tetap dipaksa jaga. Termasuk Lebaran kali ini, tidak bisa pulang karena harus bertanggung jawab pada toko milik orang ini,” imbuhnya. (iqb/luq) Editor : Abdul Basri
#Merantau #ekonomi #jakarta #warung kelontong