Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Mohammad Iksan mengatakan, kesenian di Kota Keris beragam. Hal itu selaras dengan perkembangan zaman. Yang paling tampak adalah tari, ludruk, topeng, dan musik.
”Pelestarian itu tugas kami. Makanya, setiap tahun kami selalu memberi ruang kepada mereka lewat beberapa kegiatan,” kata Iksan kepada JPRM kemarin (24/12).
Mohammad Iksan mengakui, intansinya belum maksimal mengakomodasi seniman di Sumenep. Terutama kesenian nontradisi. Tetapi, ke depan keberadaaan mereka akan dipertimbangkan. Dengan begitu, kesenian di Sumenep tumbuh dengan baik. ”Tidak hanya menyangkut kesenian, tapi juga berkaitan dengan para pelaku seni agar terus berkarya dan berkreasi,” ulasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Sumenep Akis Jazuli mengatakan, perhatian pemerintah kepada seniman harus merata alias cakupannya lebih luas. Pelestarian seni, budaya, dan tradisi sebaiknya juga meminta masukan dari budayawan, seniman dari lintas generasi, dan lintas disiplin.
”Kalau mau jujur, karya-karya anak Sumenep bagus-bagus. Namun, banyak seniman di luar daerah yang berasal dari Sumenep, justru memilih berkarya di luar. Ini seharusnya menjadi pertanyaan kita, kenapa? Karena memang iklim kesenian kita belum bisa sejalan dengan mereka,” tandasnya. (di/yan) Editor : Abdul Basri