Namun, untuk membuat lubang pembuangan itu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Diprediksi minimal menelan biaya anggaran Rp 15 miliar. Hal itu diungkapkan Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep Agus Salam.
Menurut dia, pihaknya sudah memikirkan kondisi TPA beberapa tahun ke depan. Walaupun sekarang belum masuk kondisi darurat. Akan tetapi, langkah-langkah penanganan tumpukan sampah di TPA perlu dipikirkan. ”Kondisinya memang memprihatinkan. Timbunan sampah mulai meningkat,” katanya.
Agus Salam juga menyatakan, ke depan dirinya berencana mengembangkan sel atau lubang pembuangan sampah. Untuk mewujudkannya, membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. ”Biayanya cukup besar, minimal Rp 15 miliar,” ucapnya.
Selain cara itu, pihaknya berencana memaksimalkan pengolahan sampah sebelum masuk TPA. Dengan begitu, beban sampah yang masuk ke TPA akan berkurang. Artinya, sampah akan dipilah terlebih dahulu di tempat pusat daur ulang (PDU).
”Nantinya sampah di TPA akan dipilah lagi. Sehingga, beban sel pembuangan yang ada saat ini nantinya akan terurai dan sampah bisa menjadi barang yang bernilai ekonomis,” paparnya.
Agus Salam menambahkan, untuk memaksimalkan itu, tentunya membutuhkan dukungan teknologi yang memadai. ”Karena institusinya belum memiliki alat tersebut, maka harus melakukan pengadaan atau membeli,” ucapnya. (iqb/yan) Editor : Abdul Basri