Sutradara film Basiyat Ahmad Faiz mengatakan, film mengambil setting taneyan lanjang. Sebuah filosofi yang tumbuh di dalam kultur sosial masyarakat Sumenep. Taneyan lanjang harus terus dirawat karena menyimpan pengetahuan besar.
”Film ini kami proses pada 2020 silam. Tentu ada kerja-kerja riset yang dilakukan dalam proses pembuatannya,” terang pemuda yang menyelesaikan studinya di Institut Seni Indonesia Surakarta itu saat dihubungi Jawa Pos Radara Madura (JPRM), Kamis (28/4).
Film Basiyat memotret multikultural masyarakat Madura. Baik yang bersinggungan dengan agama, moral, hingga tradisi. Sebagai sineas, Faiz yang berasal Desa Larangan merasa perlu mengangkat hal-hal yang ada di tanah kelahirannya.
Sekadar diketahui, sejak selesai diproduksi, film Basiyat belum ditayangkan di Madura. Karena itu, Faiz minta agar film garapannya diputar di bioskop Sumenep. Informasinya, film tersebut akan tayang pada 17 Mei mendatang. ”Kami berterima kasih pada Pemkab Sumenep, khususnya Bupati Achmad Fauzi,” katanya.
Faiz berharap, kehadiran film Basiyat bisa memberikan edukasi bagi masyarakat dan mendorong kekaryaan seniman di Sumenep. Khususnya dalam film. ”Sebab, bisa dikatakan, seni film di Kota Keris terbilang masih baru,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda Olahraga Mohamad Iksan mengatakan, pemutaran film Basiyat merupakan komitmen pemerintah mendorong kreativitas pemuda Sumenep. Harapannya, kesenian di Sumenep ke depan semakin berwarna.
”Kami sangat mengapresiasi film Basiyat yang menasional ini. Bapak Bupati memfasilitasi agar film ini bisa ditonton oleh masyarakat Madura, khususnya Sumenep,” jelas Iksan. (di/yan) Editor : Abdul Basri