Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

UNESCO Catat Perajin Keris Terbanyak di Sumenep

Abdul Basri • Rabu, 11 September 2019 | 02:32 WIB
UNESCO Catat Perajin Keris Terbanyak di Sumenep
UNESCO Catat Perajin Keris Terbanyak di Sumenep

KERIS di Sumenep mendapat pengakuan dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mencatat, perajin keris terbanyak di dunia ada di Sumenep.


Tak tanggung-tanggung, jumlah perajin pusaka warisan leluhur ini di Sumenep mencapai 652 orang di 2018. Pertumbuhan regenerasi perajin di Kota Keris cukup signifikan. Mengingat, pada 2004, perajin keris di Sumenep hanya 123 orang. Kemudian, bertambah pada 2012 menjadi 399 perajin.


Sebagai bentuk penghormatan dan upaya pelestarian, setiap tahun digelar ritual penjamasan keris di Sumenep. Keris-keris yang dijamas di antaranya pusaka milik Keraton Sumenep dan pusaka leluhur masyarakat Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi. Di desa itu, ritual penjamasan juga dilakukan. Desa tersebut merupakan pusat perajin keris di Bumi Sumekar.


Penjamasan pusaka tersebut digelar selama tiga hari. Mulai dari penyerahan pusaka keris dari keraton Sumenep, ritual penjamasan di Desa Aeng Tongtong, hingga dikirab dan dikembalikan lagi ke keraton. Sebelum itu, para empu menyiapkan bahan jamasan berupa tujuh sumber mata air tertua di Sumenep dan kembang tujuh rupa.


Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi menyampaikan, sejak 2005, keris di Sumenep telah mendapat pengakuan dunia. Menurutnya, keris tidak hanya sebatas identitas masa lalu. Namun, telah menjadi ikon ekonomi yang mampu menggerakkan dan menopang perekonomian masyarakat Sumenep.


Pelestarian yang dilakukan setiap tahun, lanjut Fauzi, merupakan salah satu upaya mendorong kekuatan kolektif lapisan masyarakat. Tujuannya, menjaga dan mengembangkan warisan masa lalu. Mempertahankan budaya dan tradisi, menurutnya, bisa dilakukan dengan dua hal, yakni sosialisasi dan atraksi.


Sosialisasi bisa dilakukan dengan memaparkan sejarah kepada para generasi sejak dini. Baik di lingkungan keluarga dan sekolah-sekolah.


Sedangkan upaya pelestarian dengan atraksi seperti menggelar beragam event kebudayaan dan tradisi. Termasuk, penjamasan keris yang digelar setiap tahun. ”Insyaallah dengan komitmen semua pihak, warisan tradisi yang ada di Sumenep akan tetap lestari hingga kapan pun,” ungkapnya kemarin (9/9).

Editor : Abdul Basri
#kota keris #madura #budaya