BANGKALAN, RadarMadura.id – Pembinaan atlet pelajar di Bangkalan masih menghadapi kendala.
Yakni, minimnya prasarana olahraga yang memadai di setiap satuan pendidikan negeri di Kota Salak.
Ketua Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Bangkalan Mathur Husyairi menyatakan, mayoritas atlet binaannya masih berstatus sebagai siswa. Mulai dari SMP, SMA, dan SMK.
”Mereka rata-rata berasal dari pedesaan. Kami telah beberapa kali melakukan pendekatan ke sekolah negeri, tetapi responsnya minim,” ujarnya.
Kondisi itu menunjukkan belum optimalnya sinergi antara sekolah, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), dan dinas pendidikan (dispendik). Karena itu, tiga instansi tersebut perlu duduk bersama. Tujuannya, menyusun pola pembinaan atlet pelajar.
Sekolah berperan penting karena mengetahui potensi setiap siswanya. Sedangkan KONI bisa memfasilitasi atlet untuk mengikuti kompetisi di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Sementara dispendik diharapkan memberikan ruang melalui kebijakan dispensasi.
Dengan begitu, siswa tetap bisa mengikuti pembinaan tanpa terkendala kewajiban kehadiran di kelas.
Selama ini, sambung Mathur, pembinaan lebih mudah dilakukan melalui sekolah swasta.
Pihaknya pernah mengirim atlet dari SMK Ar-Rohmani, Desa/Kecamatan Kokop, dan SMA Al-Insani Labang.
Mathur menerangkan, sosialisasi juga dilakukan ke SMA negeri dengan membawa peralatan dan memutar video olahraga paralayang dan gantole.
Namun, sebagian siswa tidak melanjutkan keberminatannya karena terbentur aturan sekolah.
Padahal, kata Mathur, olahraga paralayang dan gantole membutuhkan biaya besar. Sekali latihan untuk masyarakat umum bisa mencapai sekitar Rp 15 juta.
Karena itu, pihaknya berupaya meringankan beban atlet dengan mengajukan dukungan kepada pemprov dan memberikan latihan gratis.
Biaya transportasi juga ditanggung pengurus. Sedangkan KONI mengalokasikan sekitar Rp 30 juta setahun dengan kebutuhan latihan sekitar Rp 2 juta setiap minggu atau dua minggu.
Pembinaan tersebut diarahkan untuk menyiapkan atlet menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2027.
Mathur berharap, atlet paralayang dan gantole mampu kembali menyumbangkan medali emas untuk Bangkalan pada Porprov 2027.
Selain mengejar prestasi, atlet didorong mengenalkan olahraga itu kepada teman dan keluarga agar semakin banyak pelajar yang tertarik.
Mathur juga berharap, sekolah negeri maupun swasta memberikan kesempatan kepada siswa yang berpotensi di olahraga.
”Dispensasi itu penting agar siswa bisa mengembangkan bakatnya dengan luluasa,” terangnya.
Sebab, kata Mathur, potensi siswa tidak selalu tentang pelajaran. Ada kalanya siswa unggul di olahraga tertentu.
Guru olahraga dinilai paling mengetahui kecenderungan bakat olahraga peserta didiknya.
”Kalau terbentur dengan aturan sekolah yang mengikat, sulit kami menemukan potensi siswa,” jelasnya. (ina/jup)
Editor : Amin Bashiri