Dibuli, Berlatih, Lalu Berprestasi: Jalan Panjang Abisibah Menekuni Bela Diri

Amin Bashiri • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 10:14 WIB
OPTIMISTIS: Abisibah berfoto dalam Sirkuit 3 Kejuaraan Provinsi IBCA-MMA se-Jawa Timur di Kota Blitar kemarin
OPTIMISTIS: Abisibah berfoto dalam Sirkuit 3 Kejuaraan Provinsi IBCA-MMA se-Jawa Timur di Kota Blitar kemarin

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Perkelahian dan bullying menjadi bagian dari masa sekolah Abisibah. Sejak 2009, olahraga bela diri mulai ditekuninya sebagai pelampiasan untuk menghadapi tekanan yang kerap dialaminya di lingkungan sekolah.

Awalnya, latihan hanya menjadi tempat meluapkan emosi. Namun, kerasnya latihan perlahan mengubah kebiasaan itu menjadi disiplin dan prestasi. Abisibah mulai serius menekuni olahraga bela diri hingga mampu menunjukkan kemampuan di arena pertandingan.

Prestasi tersebut kemudian mengubah arah hidupnya. Dukungan sekolah membuat Abisibah menjadi siswa berprestasi dan mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan melalui beasiswa S-1 secara penuh.

Bukan hanya biaya kuliah yang ditanggung. Selama mengikuti pendidikan pemusatan latihan mahasiswa di Universitas Negeri Malang (UM), dia juga mendapat uang saku setiap bulan. Kampus bahkan memberikan apresiasi berupa bonus uang setiap akhir tahun atas prestasi yang diraihnya.

”Dulu saya memang sering berkelahi dan dibuli. Olahraga bela diri akhirnya menjadi pelampiasan, tetapi dari situ justru saya menemukan jalan untuk berprestasi,” ujar Abisibah.

Kesempatan tersebut tidak disia-siakan. Setelah menyelesaikan S-1, Abisibah melanjutkan pendidikan hingga jenjang S-2 di Malang. Pendidikan yang ditempuh melalui proses panjang itu kemudian menjadi bekal penting untuk menjalani profesinya sebagai pendidik.

Setelah lulus kuliah, Abisibah langsung mendapatkan pekerjaan. Kariernya kemudian berlanjut hingga diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN). Di tengah kesibukan sebagai pendidik, dia tetap menjaga hubungan dengan dunia olahraga yang telah membentuk kehidupannya.

”Pengalamannya sebagai atlet membawa saya ke dunia kepelatihan. Sempat dipercaya menjadi pelatih IPSI sebelum akhirnya berpindah ke IBCA-MMA setelah diminta KONI Pamekasan untuk ikut menangani pembinaan atlet,” ungkapnya.

TELATEN: Abisibah mendampingi atlet dalam sebuah kompetisi.
TELATEN: Abisibah mendampingi atlet dalam sebuah kompetisi.

 

Di IBCA-MMA, tugasnya tidak sebatas mendampingi atlet saat latihan. Abisibah terlibat dalam proses seleksi, penyusunan program latihan, pemusatan latihan, persiapan pertandingan, hingga evaluasi perkembangan atlet.

Pengalaman itu kembali membuka ruang pengabdian yang lebih luas. Abisibah dipercaya terlibat dalam Pembinaan Prestasi (Binpres) KONI Pamekasan dan menangani Sport Science dalam program Puslatkab 2025.

Kini, posisi Abisibah justru berbanding terbalik dengan masa sekolahnya. Jika dulu dia menjadi anak yang harus mencari pelampiasan karena bullying dan perkelahian, sekarang dia berada di sisi yang membantu atlet lain mengendalikan diri, berlatih, dan mengejar prestasi.

”Latihan keras memang tidak selalu mudah. Tapi dari proses itu, saya mendapat pendidikan, prestasi, pekerjaan, sampai kesempatan untuk membantu atlet lain,” katanya.

Bagi Abisibah, olahraga tidak hanya fokus dan berhenti pada capaian prestasi. Dia menegaskan bahwa atlet juga harus dibekali pendidikan dan karakter agar prestasi di arena tidak menjadi satu-satunya bekal ketika karier olahraga berakhir.

Pengalaman itulah yang kini coba diteruskan dalam setiap proses pembinaan. Dari pengalaman di-bully, Abisibah belajar bangkit. Dari latihan keras, dia belajar disiplin. Dan dari prestasi, dia menemukan jalan untuk terus mengembangkan diri sekaligus membina generasi berikutnya. (afg/han)

Editor : Amin Bashiri
IBCA-MMA bela diri