BANGKALAN, RadarMadura.id – Jalannya turnamen sepak bola Soekarno Cup Grup B di Stadion Gelora Bangkalan (SGB) pada Kamis (13/8) berlangsung panas.
Laga yang mempertemukan Banteng Papua Tengah versus Banteng DI Yogyakarta itu sempat terhenti karena seorang ofisial Banteng Papua Tengah memukul wasit.
Insiden tersebut terjadi pada menit ke-69. Sebelumnya, pemain Banteng Papua Tengah mendapat kartu kuning dari wasit.
Keputusan tersebut kemudian memicu protes dari ofisial tim. Protes berujung tindakan fisik.
Salah seorang ofisial Banteng Papua Tengah mendatangi wasit dan melayangkan pukulan.
Subahri selaku Match Commissioner PSSI Jatim membenarkan kejadian tersebut.
Menurut dia, pemukulan dipicu ketidakpuasan ofisial Banteng Papua Tengah terhadap keputusan wasit.
”Intinya tidak terima dengan keputusan wasit,” ujarnya.
Setelah insiden itu, pertandingan dihentikan selama sekitar 15 menit.
Laga kemudian kembali dilanjutkan setelah dilakukan pergantian wasit.
”Ada pergantian wasit setelah terjadi insiden pemukulan tadi,” ulas Subahri.
Kemudian, pertandingan kembali berjalan sengit.
Banteng DI Yogyakarta mendapat hadiah tendangan penalti dan berhasil mengubah kedudukan menjadi 2-1.
Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan hingga laga usai.
Memasuki menit ke-95, Banteng Papua Tengah berhasil menyamakan skor menjadi 2-2.
Tidak lama berselang, wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir.
Namun, keputusan tersebut kembali memantik ketegangan.
Kali ini, kubu Banteng DI Yogyakarta melayangkan protes karena tidak puas dengan keputusan wasit.
”Ya, di akhir pertandingan ricuh lagi karena tidak terima keputusan wasit dari pihak Yogyakarta,” imbuh Subahri.
Sementara itu, Asisten Pelatih Banteng Papua Tengah Moses Nazareth mengakui pihaknya keberatan dengan keputusan wasit.
Dia menilai, kartu kuning kedua yang diberikan kepada pemain binaannya semestinya tidak terjadi.
”Kita tidak puas dengan keputusan wasit. Alasannya, pemain kami diberi kartu kuning kedua. Kami sudah minta agar bisa me-review rekaman agar bisa mengambil keputusan,” tuturnya.
Moses menyebut kejadian tersebut berlangsung saat perebutan bola dalam kondisi fifty-fifty.
Oleh karena itu, dia menilai benturan yang terjadi bukan merupakan pelanggaran keras.
Baca Juga: Bawa Focal Length 100-400mm, Ini Alasan Sony FE 100-400mm F5.6-8 OSS Menarik
”Itu bola fifty-fifty, bukan pelanggaran keras yang harus diganjar kartu kuning,” tegasnya.
Dia juga menyoroti kepemimpinan wasit yang dinilai terlalu mudah meniup peluit ketika pemain terjatuh.
Menurut Moses, keputusan semacam itu bisa memengaruhi mental pemain di lapangan.
”Saya kurang setuju dengan jatuh sedikit langsung tiup. Jatuh lagi, tiup. Bagaimana kita menjadi kuat kalau seperti itu,” pungkasnya. (ina/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti