Ini Alasan Timnas Argentina Layak Tumbang dari Spanyol di Final Piala Dunia 2026

Hasan Bashri • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 09:38 WIB
Argentina tidak berkutik dihadapan timnas Spanyol.
Argentina tidak berkutik dihadapan timnas Spanyol.

RadarMadura.id — Argentina harus mengubur impian mempertahankan gelar juara dunia setelah takluk 0 1 dari Spanyol pada partai puncak Piala Dunia 2026.

Kekalahan yang terjadi lewat babak perpanjangan waktu itu bukan sekadar ditentukan oleh satu gol semata, melainkan menjadi gambaran jelas bagaimana Spanyol tampil jauh lebih unggul dalam aspek permainan, disiplin taktik, hingga penguasaan emosi sepanjang pertandingan.

Sejak menit awal, La Roja mampu memegang kendali permainan dan memaksa Argentina bermain di bawah tekanan.

Sementara itu, performa sang juara bertahan justru jauh dari ekspektasi karena kesulitan membangun serangan dan kehilangan identitas permainan yang selama ini menjadi kekuatannya.

Baca Juga: Semifinal Piala Dunia 2026:  Empat Pelajaran di Balik Tumbangnya Dua Raksasa

Spanyol Menguasai Pertandingan Sejak Awal

Kunci kemenangan Spanyol terletak pada dominasi mereka di sektor tengah lapangan.

Trio Rodri, Pedri, dan Fabián Ruiz tampil sangat solid dalam mengatur ritme permainan sekaligus memutus aliran bola menuju lini depan Argentina.

Penguasaan bola Spanyol yang sangat dominan membuat Argentina hanya mampu menguasai sekitar 32 persen permainan.

 Angka tersebut menunjukkan betapa sulitnya La Albiceleste keluar dari tekanan sepanjang laga.

Akibat rapatnya lini tengah Spanyol, Lionel Messi lebih sering terisolasi dan minim mendapatkan suplai bola, terutama pada babak pertama. Kondisi itu membuat Argentina kesulitan menciptakan peluang berbahaya.

Lini Depan Argentina Kehilangan Ketajaman

Salah satu statistik paling mencolok dalam laga final ini adalah kegagalan Argentina mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran selama 120 menit pertandingan.

Catatan tersebut menjadi bukti nyata bahwa pertahanan Spanyol bekerja sangat efektif dalam menutup setiap ruang yang dapat dimanfaatkan para penyerang Argentina.

Serangan yang dibangun berkali kali selalu mampu dipatahkan sebelum benar benar mengancam gawang lawan.

Minimnya kreativitas dari lini tengah turut membuat para penyerang Argentina kehilangan dukungan sehingga peluang emas hampir tidak pernah tercipta.

Baca Juga: Atlet Sepeda Bangkalan Sabet Medali Emas di Piala Gubernur Jatim

Kartu Merah Mengubah Jalannya Pertandingan

Kesulitan Argentina semakin bertambah ketika Enzo Fernández menerima kartu kuning kedua pada babak tambahan waktu. Keputusan wasit itu membuat Argentina harus menyelesaikan pertandingan dengan hanya 10 pemain.

Keunggulan jumlah pemain langsung dimanfaatkan Spanyol untuk meningkatkan intensitas serangan.

Tekanan demi tekanan akhirnya membuahkan hasil ketika Ferran Torres berhasil mencetak gol yang memastikan kemenangan sekaligus membawa Spanyol meraih gelar juara dunia.

Momen tersebut menjadi titik balik yang membuat Argentina kehilangan kesempatan untuk bangkit.

Frustrasi Berujung Kecaman

Kekalahan di lapangan ternyata berlanjut dengan insiden yang terjadi setelah pertandingan berakhir. Ketegangan yang muncul memicu keributan antarpemain sehingga Leandro Paredes menerima kartu merah.

Sorotan juga tertuju pada sikap sejumlah pemain Argentina yang memilih membelakangi podium saat prosesi penyerahan trofi kepada kapten Spanyol, Rodri. Tindakan tersebut memicu kritik karena dinilai tidak mencerminkan semangat sportivitas yang seharusnya ditunjukkan dalam pertandingan sebesar final Piala Dunia.

Insiden tersebut membuat akhir perjalanan Argentina di turnamen kali ini semakin disayangkan karena tidak hanya kalah secara hasil, tetapi juga menuai penilaian negatif terkait sikap setelah pertandingan.

Kekalahan yang Sulit Dibantah

Jika melihat keseluruhan jalannya pertandingan, kemenangan Spanyol memang layak didapatkan.

Mereka tampil lebih dominan dalam penguasaan bola, lebih disiplin menjalankan strategi, mampu meredam kreativitas lawan, serta memanfaatkan momentum ketika Argentina kehilangan satu pemain.

Sebaliknya, Argentina gagal menunjukkan performa terbaiknya pada laga paling menentukan.

Tanpa satu pun tembakan tepat sasaran, kehilangan kendali di lapangan, hingga berakhir dengan insiden yang memancing kecaman, perjalanan La Albiceleste di final Piala Dunia 2026 menjadi pelajaran bahwa kualitas permainan dan kedewasaan sikap sama sama menentukan hasil pada level tertinggi sepak bola dunia.

Editor : Hasan Bashri
Piala Dunia 2026 Final Piala Dunia 2026 layak kalah spanyol argentina