PAMEKASAN, RadarMadura.id – Sejarah kebesaran Persepam Pamekasan di lapangan hijau akan terus dikenang masyarakat pencinta sepak bola di Kota Gerbang Salam.
Perjuangan tim berjuluk Laskar Ronggosukowati itu mencapai kejayaan melewati dinamika yang luar biasa.
Batu loncatan Persepam Pamekasan di kancah sepak bola Indonesia dimulai ketika menapaki kerasnya kompetisi Liga 1 Indonesia.
Itu merupakan sejarah yang tidak terlupakan bagi tim. Ketika itu pula perhatian Pemkab Pamekasan melalui Askab PSSI kembali serius.
Menurut Fattah Jasin, bukanlah hal mudah berkompetisi di Liga 1. Apalagi, lawan-lawan yang dihadapi bukan tim sembarangan. Mereka adalah tim-tim yang berpengalaman dengan kekuatan masing-masing.
Akan tetapi, dengan proses yang sungguh-sungguh, Persepam Pamekasan mampu menjadi satu-satunya tim yang berlaga di kompetisi nasional. Dengan berbagai rentetan prestasinya.
Tepat pada musim kompetisi 2010–2011, Laskar Ronggosukowati berhasil promosi ke Divisi Utama. Hal itu terjadi setelah berhasil menahan PSBL Gayo Lowes di Stadion Lebak Bulus, Jakarta.
Baca Juga: Telusuri Kepemilikan Pupuk Subsidi, Disperta KP Sampang Segera Konfirmasi UD Usaha Tani
”Itu disambut luar biasa oleh masyarakat. Waktu itu kita satu-satunya tim dari Pulau Madura yang berhasil go nasional,” kenang ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Pamekasan itu.
Namun, baru pertama menginjakkan kaki di Divisi Utama, ada rintangan besar yang datang. Persepam Pamekasan memiliki problem dalam masalah finansial. Sebab, pemkab saat itu sudah tidak mampu lagi membantu keuangan.
Akan tetapi, tertolong berkat pemikiran bupati Pamekasan yang saat itu dijabat Kholilurrahman. Dia berinisiatif mencari investor dan para pengusaha agar membantu keuangan tim.
”Terkumpul ratusan juta, tapi belum cukup. Kemudian, minta support ke pengusaha dan politikus asal Sumenep, Bapak Achsanul Qosasi. Ceritanya seperti itu,” jelasnya.
Kedatangan pria yang akrab disapa AQ itu memberi dampak luar biasa bagi Persepam Pamekasan. Usai ditunjuk sebagai manajer, AQ mengubah nama Persepam Pamekasan menjadi Persepam Madura United (P-MU).
Konon, dia ingin sepak bola juga menjadi pemersatu dan memperkuat hubungan emosional masyarakat Madura.
”Itu berhasil. Pak AQ bisa membangun loyalitas masyarakat untuk selalu hadir dan mendukung setiap pertandingan klub.
Beliau juga mampu membuat prestasi besar dengan membawa P-MU promosi ke kasta tertinggi, Indonesia Super League (ISL),” ucapnya.
Keberhasilan AQ dibantu oleh pelatih yang dinilai bagus. Yakni, Winedy Purwito. Tapi, sayang kebersamaan mereka berakhir ketika tim melakukan persiapan untuk berlaga di ISL. Winedy mengundurkan diri dari kursi kepelatihan.
Sebab, informasi yang beredar kala itu, manajemen lebih mempercayakan kepada Mustaqin sebagai pelatih. Sedang Winedy akan digeser ke asisten pelatih.
Kemudian problem lain muncul, Mustaqin justu dianggap gagal menukangi tim yang kala itu sudah berganti julukan menjadi Laskar Sape Kerrap. Sebab, pada laga pramusim di kompetisi Inter Islan Cup P-MU tidak mampu memetik satu poin pun.
Suporter menuding Mustaqin gagal. Lalu, dia mundur sebagai pelatih. Dan, Daniel Roekito ditunjuk sebagai pelatih pengganti.
Baca Juga: Dokumen Haji Bisa Diurus Mandiri, Jemaah Diharapkan Prioritaskan Kesehatan
Terpilihnya Daniel sebagai pelatih tidak lepas atas kepiawaiannya meracik tim dan menyusun strategi. Terbukti, di tangannya, P-MU mampu bertahan di kasta tertinggi. Target dari manajemen tercapai.
AQ kemudian mengembalikan P-MU pada Pemkab Pamekasan pada kisaran akhir 2014. Itu terjadi setelah Laskar Sape Kerrap terdegradasi kembali ke Divisi Utama.
Di sisi yang lain, terpilihnya AQ sebagai ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengharuskan dirinya lepas dari jabatan sebagai manajer Persepam MU.
Transisi baru dimulai. Tepat pada Januari 2015, Ketua Askab PSSI Pamekasan Achmad Syafi’i meminta politikus senior asal Sumenep MH Said Abdullah menangani Persepam. Sebagaimana AQ, Said juga melakukan perubahan nama.
Dari yang semula bernama Persepam Madura United berganti Persepam Madura Utama. Demikian julukan yang dilekatkannya, dari Laskar Sape Kerrap menjadi Sape Ngamok.
Salah satu gerak cepat manajemen baru yang dilakukan adalah merekrut Widodo Cahyono Putro. Itu terjadi saat klub asal Kota Gerbang Salam ini akan mengarungi musim kompetisi 2015–2016.
Keberadaan Widodo tidak berlangsung lama. Sebab, PSSI memintanya untuk menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia Alfred Riedl. Dia dengan rendah hati mengundurkan diri dan tidak bisa melanjutkan tugasnya di P-MU.
”Nah, di musim itu pula ada konflik antara PSSI dan Menpora. Kemudian, kompetisi dibekukan. Tim, seingat saya hanya bermain di turnamen-turnamen biasa. Kan muncul setelah itu Piala Kemerdekaan, Persepam tampil di sana,” tuturnya.
Selanjutnya, sebagai kompetisi alternatif, PT Liga Indonesia menciptakan kompetisi baru bernama Indonesia Soccer Championship (ISC). Hal itu dilakukan selama terjadi pembekuan.
Namun, di sisi yang lain sepak bola tanah air tetaplah harus berjalan. P-MU turut serta di dalamnya. Saat itu pelatih menunjuk Jaya Harton sebagai arsitek Sape Ngamok.
Turnamen tersebut tidak bertahan lama. Dan, P-MU selama mengikuti ISC hanya sanggup bertahan sampai babak 16 besar. Jaya Hartono selesai bersama dengan PMU seiring berakhirnya turnamen ISC.
Baca Juga: Wapres Ma'ruf Amin Minta Generasi Muda Siapkan Diri untuk Indonesia Emas 2045
”Setelah itu dimulailah kompetisi baru. Persepam MU ini bermain di Liga 2. Dalam catatan, pelatihnya saat itu Rudy William Keltjes, kemudian diganti Suwandi Hadi Siswoyo karena Rudy dinilai belum berhasil,” ungkapnya.
Fatah Jasin berharap, catatan sejarah dan kiprah Persepam Pamekasan dalam kancah sepak bola tanah air terus diingat sekaligus menjadi spirit.
Tujuannya, agar generasi selanjutnya termotivasi untuk mengembalikan Persepam Pamekasan ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
”Sekarang waktunya, dan kita semua, serta masyarakat Pamekasan itu bangga. Persepam adalah tim yang hebat. Saya yakin, kita akan kembali ke puncak kejayaan itu,” tandasnya. (*/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta