SUMENEP, RadarMadura.id – Perempuan punya hobi balap masih langka. Santy Mayang Sari di antara yang langka itu. Tujuh tahun dia turun ke beberapa kota untuk memacu motor mencapai garis finis. Laki-laki dan perempuan sama di atas lintasan.
Akses Jalan Jokotole, Desa/Kecamatan Batuan, ditutup sementara pada Minggu (27/8). Ratusan mobil dan sepeda motor terparkir di sepanjang jalan lingkar barat Sumenep itu. Sebab, lokasi tersebut dijadikan arena Drag Bike Sumenep Championship.
Berbagai jenis kendaraan roda dua dengan knalpot nyaring terparkir rapi di stan yang tersedia, baik di sisi kanan dan kiri jalan. Bahkan, sebagian dari mereka ada yang mencoba laju kendaraan sebelum balapan benar-benar dimulai.
Event tersebut diinisiasi komunitas Du’ana Reng Towa (DRT). Acara itu juga menggandeng Jawa Pos Radar Madura (JPRM). Kegiatan tersebut dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-78 Kemerdekaan RI. Sekaligus untuk mencegah balap liar.
Antusiasme masyarakat untuk mengikuti perlombaan tersebut cukup tinggi. Tercatat 350 peserta yang mendaftar. Ratusan peserta itu bukan hanya dari Sumenep. Melainkan juga dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Di arena perlombaan, mayoritas yang datang merupakan kaum pria. Namun, ada peserta yang menyita perhatian. Yakni, peserta perempuan berambut panjang berbaju balapan. Perempuan bercelana jeans dan bersepatu hitam itu sedang asyik ngobrol dengan kawan prianya.
Mereka sedang berbincang mengenai perlombaan drag bike yang diikuti. Perempuan berparas cantik itu diketahui sebagai joki kendaraan balap bernama Santy Mayang Sari.
Kedatangan perempuan asal Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, itu untuk mengikuti lomba drag bike. Sebab, event ini sudah lama ditunggu olehnya. ”Tadi malam (Sabtu [26/8]) saya sudah sampai di Sumenep,” kata Santy.
Santy sudah lama menyukai balapan motor. Kesenangannya itu juga didukung oleh keluarga besar dan lingkungan. Jadi, dirinya merasa nyaman menggeluti dunia para kaum pria itu.
”Ini sudah jadi hobi. Saya suka drag sejak 2016. Saat itu saya belajar di rumah, kebetulan di-support oleh keluarga,” ucap perempuan kelahiran 1996 itu.
Berbagai jenis kendaraan disukai perempuan berusia 27 tahun itu. Kendaraan yang digeber saat mengikuti lomba juga variatif. Mulai dari Ninja standar, bebek 116 cc, bebek 130 cc, dan sebagainya. ”Saya senang semua. Tapi, yang paling saya suka itu kendaraan jenis Ninja,” ungkap Santy.
Santy sedikit pun tidak merasa takut saat menjadi joki balap motor. Bahkan, dia tertantang untuk mengalahkan para joki yang mayoritas laki-laki. ”Tidak takut, ini justru menantang bagi saya,” tuturnya.
Dia mengaku selama ini sudah melanglang buana untuk mengikuti lomba balap sepeda motor. Palembang, Lombok, Batam, dan beberapa daerah lain di Indonesia sudah dibabat. Kalau di Sumenep ini sudah yang kedua kali.
Selama tujuh tahun menggeluti hobi balap motor itu, bukan berarti tidak pernah tumbang. Santy pernah terjatuh saat mencoba kendaraan sebelum masuk perlombaan beberapa tahun lalu. Namun, itu tidak menyurutkan semangatnya. Dorongan baru untuk terus semangat belajar menjadi lebih baik.
”Penghargaan yang saya dapatkan sudah lebih dari 10. Kalau di Sumenep saya pernah dapat juara umum,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana DRT Drag Bike Sumenep Championship Dedy Akbar Tanjung mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan itu berjalan lancar. Pembalap dari berbagai daerah mendaftar.
Dedy melaksanakan event tersebut untuk memeriahkan rangkaian HUT Ke-78 Kemerdekaan RI. Balapan ini sekaligus menyediakan wadah bagi pencinta balap motor. ”Supaya masyarakat, terutama anak muda, itu tidak melakukan balapan liar,” katanya. (iqb/luq)
Editor : Berta SL Danafia