Oleh: MOHAMMAD ZAINUL ALIM
Pimpinan Pondok Pesantren Aqidah Usymuni Sumenep
RadarMadura.id – Kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Donald Trump membuat dunia terhentak. Tarif impor 32 persen terhadap produk Indonesia dikhawatirkan dampaknya meluas hingga ke berbagai kegiatan ekonomi, makro dan mikro. Beberapa pengamat memprediksi dampak yang paling banal dari perang tarif ini adalah pemutusan hubungan kerja atau PHK 500.000–700.000 pekerja di berbagai sektor. Bagi orang pesantren dan pedagang seperti saya, realitas demikian tidak selamanya negatif, justru dapat menjadi pecut meningkatkan resiliensi dan daya saing.
Yang jelas, tantangan di masa mendatang akan selalu dinamis. Keadaan dunia yang semakin tidak menentu, baik dari tatanan sosial, politik, maupun ekonomi di masa mendatang, membuat kita kudu mawas diri. Perang ekonomi yang ”dimulai” Trump tersebut adalah bagian dari tantangan. Seiring berkembangnya teknologi, informasi, hingga ilmu pengetahuan, menutut kita umat manusia tak boleh berdiam diri.
Bagi pemerintah pusat hingga daerah, perang dagang yang dimulai dengan perang tarif ini dapat dimanfaatkan sebagai peluang. Mengutip Muhyidin (2025), pemerintah dapat melakukan mitigasi yang strategis, spesifik, dan terukur. Beberapa di antaranya ialah dengan menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri, menyediakan jaring pengaman sosial, dan meningkatkan daya saing ekspor.
Hari ini kita menunggu hasil negosiasi intensif dengan pemerintah Amerika. Senyampang hal tersebut, patut kiranya kita juga memanfaatkan celah tersedianya alternatif ekspor pasar baru sesuai kebutuhan domestik negara tujuan. Jika hal ini digalakkan, tidak menutup kemungkinan terbukanya peluang usaha dan pembukaan lapangan kerja baru di dalam negeri. Walaupun hal ini tak semudah membalikkan telapak tangan, kita yakin bisa.
Beberapa peluang kerja sama lintas negara yang dapat kita manfaatkan di antaranya Comprehensive Economic Partnership Agreement antara Uni Eropa dan Indonesia. Atau blok ekonomi yang tergabung dalam BRICS (Brazil, Russia, India, China, dan Afrika Selatan). Indonesia secara resmi tergabung dalam BRICS pada 6 Januari 2025 Indonesia. Dan beberapa kerja sama ekonomi internasional, baik yang telah terjalin atau perluasan kerja sama baru, dapat menjadi pintu terbukanya perluasan pasar baru.
Tentu, secara sederhananya mencari peluang pasar baru kudu selaras dengan upaya pemerintah dan swasta menekan biaya produksi. Sebab, hal ini berdampak pada harga produk ekpor kita agar lebih kompetitif dengan negara-negara lainnya. Tak hanya itu, perang ekonomi dunia yang kita hadapi saat ini perlu juga didorong dengan upaya insentif fiskal bagi pelaku usaha dan merampingkan aturan-aturan yang menghambat pertumbuhan ekonomi, baik skala makro maupun mikro.
Di bidang teknologi, riset, dan digital juga misalnya, pemerintah kudu mempercepat transfer teknologi lokal guna meningkatkan daya saing. Program hilirisasi teknologi yang digagas pemerintah pusat dapat pula menjadi program turunan di setiap daerah. Bagaimana anak usia sekolah tak hanya dapat mengoperasikan AI semacam Chat GPT atau lainnya, tapi mengarahkan mereka menciptakan arus baru hingga nantinya dapat bersaing di kancah internasional.
Peluang Pesantren
Pesantren atau pondok pesantren adalah komunitas pendidikan keagamaan terbesar dan terlama di Indonesia. Ada sekira 39.045 pesantren di Indonesia. Kiprah pesantren bagi keberlangsungan bangsa ini tak dapat dimungkiri. Sebelum bangsa kita merdeka hingga kini, pesantren memainkan perannya secara strategis dan berkesinambungan sesuai entitas kelembagaan masing-masing.
Tak hanya di bidang pendidikan keagamaan, kiprah pesantren hari ini telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Baik melalui usaha pendidikan umum seperti perguruan tinggi, menyiapkan sumber daya unggul di bidangnya, hingga pengarusan usaha mandiri melalui kegiatan perekonomian.
Di bidang ekspor, beberapa pesantren juga telah memainkan perannya. Santri yang telah dibekali ilmu agama Islam, juga telah diajari memproduksi dari hulu hingga hilir. Mulai dari memproduksi kerajinan seni kreasi, olahan makanan, dan sebagainya. Sebut saja misalnya, Santri Craft, sebuah usaha kreasi produk santri dari sebuah pesantren di Kabupaten Nganjuk, telah menembus pasar Asia, Eropa, dan Timur Tengah sejak 2020. Kegiatan produksi dan ekspor yang mereka lakukan antara lain kaligrafi, miniatur, dan sejumlah kerajinan seni dari bahan dasar tempurung atau batok kelapa.
Melalui ekosistem Global Halal Hub dan OPOP (One Pesantren One Product) yang difasilitasi pemerintah pusat dan daerah misalnya, juga semakin mempermudah usaha ekonomi pesantren. Tak hanya itu, perbankan ikut andil mempermudah pembiayaan ekonomi pesantren. Misalnya, Bank Indonesia beberapa tahun terakhir telah membat blueprint pengembangan ekonomi syariah yang mengkhususkan pemberdayaan ekonomi pesantren. Beragam fasilitas ini tentu mempermudah pengembangan usaha ekonomi pesantren.
Baca Juga: Puisi M. Wildan: Melepas Angin Sakal Mengiringi Perjalanan
Di tengah-tengah fasilitas yang dipermudah dan ketersediaan pasar yang meluas, dapat dijadikan sebagai kesempatan emas bagi pesantren berusaha. Sebagai masyarakat pesantren kita tak boleh spaneng dengan keadaan. Pesantren yang sukses berusaha dapat menjadi best practise atau contoh baik bagi pesantren-pesantren yang pengin melaju, berkembang, dan mandiri. Boleh kita melirik pasar lokal, tapi kenapa tidak untuk pasar global?
Pesantren hari ini seyogianya tak hanya menyiapkan sumbar daya manusia yang fasih dan ahli di bidang agama. Lebih dari itu, bagaimana unit usaha pesantren hari ini dapat melirik pasar luar negeri yang semakin terbuka. Saya yakin pesantren dapat berdaya saing. Masyarakat pesantren tak boleh ragu pada daya saingnya sendiri. Amerika bukan tujuan utama, tapi usaha kelembagaan pesantren yang semakin berkembang hari ini dapat menjelajah hingga luar angkasa. Alyaqinu la yuzalu bissyak. Keyakinan tak dapat dihilangkan dengan keraguan. (*)
Editor : Achmad Andrian F