SUMENEP, RadarMadura.id – Tradisi penguatan literasi di pondok pesantren telah lama dijalankan oleh para ulama dan kiai melalui kajian kitab kuning. Seiring dengan berkembangnya dunia keilmuan, tidak sedikit pesantren yang mengembangkan literasi melalui buku-buku yang berakar dari kitab-kitab klasik.
Tradisi tersebut hingga kini terus dilakukan oleh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep. Di tengah kecenderungan instan masyarakat dalam mengakses bahan bacaan di dunia maya, pesantren yang didirikan oleh KH Muhammad Asy-Syarkawi pada 1887 ini terus berkomitmen untuk mengembangkan literasi pesantren melalui membaca dan menulis.
Salah seorang penggerak literasi santri di Pondok Pesantren Annuqayah ialah Sanggar Andalas. Sanggar Andalas pada awalnya bernama Sanggar Sofa yang didirikan pada tahun delapan puluhan.
”Saat itu komunitas ini didirikan untuk mewadahi kreativitas santri, seperti mengarang, bermain teater, mendeklamasikan puisi, dan lainnya,” tutur Khairuz Zaman NT selaku dewan konsultan Sanggar Andalas.
Namun, karena beberapa alasan, Sanggar Sofa tidak bertahan lama. Maka, bergantilah ke Kelompok Baca Puisi (KBP). Kelompok ini bergerak di bidang menulis dan membaca puisi.
Namun, karena dirasa kurang memberikan peran yang signifikan terhadap perkembangan santri yang punya minat di bidang teater, pada 1992 dideklarasikanlah Sanggar Andalas.
”Saat ini Sanggar Andalas tidak hanya bergerak di bidang tulis-menulis, tetapi juga di bidang teater,” tuturnya.
Khairuz menjelaskan, untuk program di bidang sastra bersama dengan teman-temannya, dia melakukan berbagai hal. Mulai dari diskusi tentang kepenulisan, bedah puisi, dan lainnya. Kegiatan tersebut terus berjalan hingga saat ini.
”Para santri di sini menggarap semua genre tulisan, seperti puisi, cerpen, esai, novel, dan lainnya,” terangnya.
Menurutnya, agar proses bersastra terus berlanjut di tengah kesibukan sebagai santri, maka setiap anggota diberikan tugas untuk menulis. Hasil tulisan itu setiap dua hari kemudian dicetak dalam bentuk selebaran dan didistribusikan kepada santri yang lain.
”Hal itu rutin dilkukan oleh teman-teman. Bagi yang tidak menyetor tulisan biasanya didenda Rp 2.000. Hasil denda itu biasanya kami belikan buku,” ungkapnya.
Dalam proses berteater, Sanggar Andalas biasanya melakukan berbagai pertunjukan, baik dilaksanakan di dalam maupun di luar pesantren. Setiap pertunjukan mereka biasanya melakukan latihan paling singkat selama tiga bulan. Dalam setiap pertunjukan biasanya menggunakan naskah karangan sendiri.
Khairuz mengungkapkan, pendidikan kepenulisan, sastra, dan kesenian di Pondok Pesantren Annuqayah tumbuh subur melalui komunitas dan sanggar yang digagas sendiri oleh para santri. Setiap wilayah daerah di pesantren ini memiliki komunitas tersendiri.
Selain Sanggar Andalas, ada Sanggar Basmalah, Sanggar Kotemang, Sanggar Padi, Sanggar Saksi, Sanggar Pelangi, Sanggar Sabda, Sanggar Azzalzalah, Teater Gendewa, dan beberapa komunitas atau sanggar lain.
”Setiap wilayah di sini pasti memiliki komunitas literasi, baik itu putra maupun putri,” jelasnya.
Karena itu, Pondok Pesantren Annuqayah selalu disebut sebagai gudang penulis dan penyair. Anggapan itu bukan isapan jempol. Dari pesantren ini, memang telah lahir banyak penulis hebat yang melahirkan berbagai karya dan berhasil meraih prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Selain ditempa melalui komunitas, banyak teladan dari para kiai dan pengurus pesantren yang memang aktif menulis. Raedu Basha, Sofyan RH. Zaid, dan Maftuhah Jakfar merupakan tiga dari sekian banyak penyair alumnus Annuqayah. (tif/luq)
Editor : Ina Herdiyana