Oleh HIDAYAT RAHARJA*
BANYAK hal yang bisa diurai dari kegiatan pameran berkenaan dengan kalender wisata yang ada di Sumenep. Bahwa, selama ini telah dianggarkan dana untuk penyelenggaraan pameran lukisan bagi pelukis Sumenep dan juga mengundang beberapa pelukis yang ada di luar kota. Pameran luksian tahun ini juga mengundang beberapa pelukis dari wilayah Madura untuk meramaikan.
Pameran lukisan berlangsung 7–13 Februari 2025 bertempat di Pendopo Agung Keraton Sumenep. Sebuah seremoni untuk mengenang dan mengingat apa yang harus dirayakan. Namun setelah perayaan, persoalan-persoalan mendasar kembali mengemuka. Siklus yang selalu berulang seiring perputaran kalender event tahunan.
Pada pameran semacam ini sangat terbuka kemungkinan-kemungkinan untuk terjadi dialog antara karya dengan para penikmatnya. Sebuah ruang edukasi untuk memberikan pengetahuan seni lukis dengan berbagai karya yang dipamerkan. Bagi pelajar, pameran lukisan menjadi ruang apresiasi dan pemahaman untuk belajar memaknai konteks seni lukis dalam rangkaian teori dan ranah praktik sekaligus bisa menggali proses kreatif para seniman dalam menghasilkan dan mendistribusikan karya.
Ruang pamer lukisan berpotensi terjadinya transaksi ekonomi antara pelukis dengan kolektor. Pertukaran kebutuhan yang mampu menggerakan kebutuhan dan kreativitas para pelukis. Pertemuan yang bermakna dan penting bagi sebuah pameran sehingga aspek ”pariwisata” dan ekonomi bisa terpenuhi. Lukisan laku akan memperlancar pelukis membeli material dan kembali berkarya. Sebuah perputaran yang memungkinkan untuk menggerakkan sirkulasi ekonomi, kreativitas, dan produksi. Seberapa besar pelukis memiliki pangsa pasar untuk karya-karya yang dihasilkan? Itu persoalan yang lain.
Pameran secara beramai-ramai tanpa ada seleksi yang memadai, memiliki peran besar dalam melakukan edukasi terhadap masyarakat, terutama para pelajar yang ada di Sumenep. Pameran menjadi sebuah ruang belajar secara praksis dan menerapkan teori yang diperoleh dalam kelas. Edukasi semacam ini sangat penting, karena di waktu yang akan datang mereka akan mewarnai peradaban.
Kunjungan terjadwal yang dilakukan perwakilan dari tiap sekolah merupakan salah satu cara mendekati dan mendekatkan para pelajar. Pameran mengenalkan mereka pada seni lukis sebagai karya dua dimensi dan peran dalam kehidupan mereka sehari-hari. Lukisan merupakan salah satu sudut realitas kehidupan yang dituang ke atas kanvas. Keseharian yang menjadi daya tarik kreator untuk kemudian diolah lagi dalam lukisan. Maka sebenarnya tidak ada jarak antara seni lukis dengan kehidupan sehari-hari.
Jarak yang tercipta antara lukisan dengan penonton, karena melihat lukisan sebagai karya yang terpisah dari kehidupan nyata. Lukisan alam raya merupakan lukisan indah yang tidak akan pernah tergantikan di atas kanvas. Tetapi di atas kanvas, salah satu sudut kehidupan dan peristiwa di sekitar diabadikan. Pesan lewat bentuk dan warna kepada penonton. Di sinilah peran pengetahuan, komunikasi untuk bisa menyampaikan pesan lukisan kepada penikmatnya.
Salah satu elemen yang menghiasi ruang tamu adalah lukisan. Hampir di setiap rumah menjadikan lukisan sebagai salah satu pemanis ruang. Bagian dari interior ruangan dengan berbagai jenis dan kualitasnya. Maka, tidak mengherankan jika lukisan-lukisan hasil duplikasi dalam cetakan menjadi lukisan yang paling akrab dalam ruang tamu. Paling tidak lukisan-lukisan dalam kalender dengan kualitas gambar yang bagus mereka pigura untuk menjadi pelengkap interior di ruang tamu.
Peluang ini pernah dilakukan pelukis Edy Supratman melalui lukisan kaligrafi yang dicetak di atas lembaran asbes yang dijadikan interior ruang pasien rawat inap di RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep. Sebuah jalan menuju penyadaran ruang untuk memberikan sugesti, perasaan tenang, nyaman, sehingga mempercepat pada penyembuhan si sakit. Era 1990-an, cetakan lukisan kaligrafi Edy Supratman menghiasi berbagai ruang tamu di rumah warga dan pejabat di Sumenep. Suatu keberhasilan menempatkan lukisan sebagai bagian interior dalam ruang keluarga atau di ruang tamu, dan di ruang rawat inap pasien RSUD dr H Moh. Anwar.
Baca Juga: Halusinasi Yang Nyata
Bila dilihat sebagai keberhasilan, era tersebut merupakan keberhasilan seni lukis dalam mengedukasi masyarakat terhadap keberadaan dan peran seni lukis. Trotoar di depan toko Mixmax Jalan Trunojoyo Sumenep menjadi galeri jalanan, pelukis Sumantri (Ochez), Poyek, Suwandi, Candra, meramaikan pasar lukisan dan pembuatan kartu ucapan selamat secara manual.
Menciptakan pasar, butuh tempat yang memungkinkan untuk memajang karya secara estetis dan memadai sehingga menarik minat pembeli dan kolektor. Tentu membutuhkan ruang yang memadai, tata lampu, broker untuk menghubungkan pelukis (lukisan) dengan pembeli atau kolektor. Ruang galeri dengan tata lampu yang mampu mendukung terhadap ruang pamer dan kenyamanan bagi para pengunjung. Kota yang ramah adalah kota yang menyediakan fasilitas kebudayaan bagi warganya sehingga bisa berkembang secara kreatif.
Di setiap pameran lukisan selalu ada karya yang diminati ”kolektor”. Sejak 1990-an setiap pameran lukisan di Sumenep pasti ada lukisan laku terjual. Pameran berlangsung di Gedung Pertemuan Partai Golkar. Salah satu gedung yang sering digunakan teman-teman seniman untuk dijadikan panggung pertunjukan teater dan pameran lukisan. Pilihan selalu jatuh ke Gedung Golkar karena teman-teman bisa menggunakan secara gratis dengan segala fasilitasnya.
Gedung Ki Hadjar Dewantara, Korpri, Graha Adipodai, dan beberapa kafe dengan segala keterbatasannya, pilihan lain untuk ruang pameran dengan biaya tertentu. Pilihannya jika gedung harus membayar, maka konsekuensinya pameran lukisan harus laku terjual sehingga bisa menutupi biaya produksi.
Iklim seni lukis di Sumenep cukup dinamis. Pada pameran lukisan 2023 beberapa lukisan terjual dengan harga pantas dan hasil penjualan lukisan berbagi dengan Baznas. Dapat dicatat tahun 2023 banyak lukisan laku di ruang pameran. Barangkali strategi semacam ini perlu dikembangkan karena lukisan butuh pasar dan seniman butuh modal untuk kembali berkarya.
Hal ini menandai bahwa apresiasi terhadap lukisan cukup baik. Ada di antara mereka mengoleksi lukisan yang dipamerkan. Di antara kolektor tersebut antara lain; pejabat pemerintah, pengusaha, masyarakat biasa yang senang terhadap lukisan. Tentu harga lukisan menyesuaikan dengan kemampuan ekonomi setempat.
Pameran lukisan tak ubahnya pasar raya. Bertemunya antara kreator dan pembeli. Sebuah ruang pamer yang pantas untuk menjual lukisan tidak bisa dilakukan di sembarang tempat. Maka, setidaknya tempatnya layak sebagai ruang pamer bukan sekadar menampung lukisan dan memamerkannya secara sembrono. Ini yang saya maksud pemerintah perlu turun tangan. Jika tahun 1990-an dijadikan sebagai titik tolak kesadaran berpameran bersama para pelukis Sumenep, sampai saat ini belum memiliki galeri yang layak sebagai ruang pamer karya seni rupa.
Sudah saatnya pemerintah daerah dan para pengusaha di Sumenep mengoleksi karya-karya Perupa Sumenep (khususnya) sebagai aset budaya yang bisa menandai zaman. Karya mereka telah terbukti, sampai saat ini terus berkarya, dan memiliki perkembangan karya yang dinamis serta banyak dikoleksi para kolektor di luar negeri.
Sebuah kota yang ramah peradabannya memiliki ruang untuk menampung karya para seniman yang ada di dalamnya. Apakah pemerintah daerah memiliki koleksi karya-karya seniman Sumenep yang beredar luas ke berbagai negara? Hal ini patut dipertanyakan karena persebaran karya para pelukis Sumenep banyak dikoleksi di beberapa kota dan beberapa negara. Tamar Saraseh, Sumantri, dan Taufik Rahman merupakan pelukis yang karya-karyanya banyak dikoleksi di luar Sumenep. Beberapa karya Tamar Saraseh dikoleksi kolektor di Bali, Jakarta, India, dan Benua Eropa. Taufik Rahman banyak karyanya dikoleksi di Jakarta, Malaysia, Singapura, Hongkong, dan beberapa negara lain. Dua pelukis ini mendapatkan penghargaan internasional dalam dunia seni lukis.
Lukisan dengan tema ”Sabung Ayam” karya Taufik Rahman 2014 berhasil menjadi The Best Art of The Year lewat Event yang digelar World Contemporary Artist (WCA) di Hongkong. Akhir 2020, Tamar mendapat kehormatan diundang sebagai peserta tamu di pameran lukisan Art Camp dan Art Exhibition dari Indonesia. Prestasi yang lain adalah karyanya pernah dinobatkan sebagai karya terbaik di pameran Art Freak Global pada 2018 dan 2019.
Aset budaya semacam ini sering kali lepas dari tangan pemerintah daerah, sementara di daerah lain karya-karyanya banyak dikoleksi. Pameran-pameran lokal yang diselenggarakan dan didanai pemerintah daerah merupakan kesempatan untuk mengoleksi karya-karya mereka sebagai aset kekayaan budaya di Sumenep atau pun sebagai aset ekonomi.
***
Bersyukur karena sampai saat ini beberapa pelukis masih eksis berkarya secara konsisten; Tamar Saraseh, Taufik Rahman, Edy Supratman, Farid Wadjdi, Agus Purnomo, Misnaya, Ochez Sumantri, Je Muhammad, S. Ghani, As’ad, Marsiono, Fajar Iriadi, dan Misnaya. Mereka terus bertahan berkarya sejak 1990-an. Perjalanan karya mereka dapat dibaca dan ditelusuri sebagai catatan perjalanan mereka dalam berkarya.
Lukisan-lukisan Tamar Saraseh sangat menarik dengan objek lukisan yang beragam namun kesatuan warna dan penceritaannya memukau. Pantulan-pantulan kisah kemanusiaan mengalir ke dalam berbagai bentuk dengan nilai-nilai sufisme yang memancar. Ia melihat hidup yang begitu indah, semesta yang penuh cinta dan kasih. Dalam lukisan-lukisannya, imajinasinya jauh melanglang ke dunia tak tersentuh. Pencahayaan dalam lukisan-lukisannya melahirkan bayangan teduh yang menyusup ke dalam ketenteraman dengan warna sejuk.
Taufik Rahman, kerap menggunakan simbol ayam dalam lukisan, ragam bulu ayam menggambarkan kebinekaan yang kerap ia simbolkan dalam lukisan ayam bertarung. Bulu-bulu yang indah laksana kebinekaan yang ada berbeda tetapi menyatu dalam satu tubuh. Namun, menikmati lukisan-lukisan yang berlahiran dari tangannya tampak secara tidak sadar Taufik Rahman mengangkat mitologi Dunia Timur tentang naga, kuda, ikan koi yang sering kali kita pahami sebagai metafor atas keberuntungan dan kekuatan. Kuda sebagai kekuatan dan semangat dalam pertarungan yang tak pernah usai. Garis pada lukisan-lukisannya selalu bergerak dinamis sebagai garis hidup yang tak bisa diam. Mengakibatkan gambarnya hidup dan ekspresif.
Farid Wadjdi, salah seorang pelukis belakangan ini kerap mengikuti kurasi lukisan di berbagai kota dan terakhir terpilih ekshibisi dalam pameran lukisan internasional yang diikuti pelukis dari berbagai negara. Setelah purnatugas sebagai abdi negara, Farid Wadjdi punya banyak waktu untuk fight dan mengikuti berbagai kurasi pameran lukisan. Warna-warna lukisannya pada karya terakhir garis yang tegas, warna menyala penuh gairah menjadi salah satu kekuatan karya Farid.
Ochez Sumantri, pelukis yang banyak terlibat dalam berbagai kegiatan kesenian dan seni rupa di berbagai kota ini memiliki karya yang sangat menarik. Dengan kekuatan dan kelenturan garisnya, Ochez mampu menaklukkan bentuk ke dalam keunikan garisnya. Meski secara anatomis terkadang terasa timpang, namun di situ menjadi kekuatannya dalam membangun rasa dan estetika.
Sementara lukisan-lukisan Sumantri Hotsu cukup menarik dengan teknik sapuan kuas di atas kanvas, seperti tumpukan potongan lempengan warna yang membentuk objek. Kadang terlihat seperti tatanan rongsokan logam yang membentuk suatu objek, sehingga menjadikan karyanya berbeda dibandingkan dengan yang lain.
Agus Purnomo, memiliki kekuatan pada lukisan potretnya, hidup. Dia salah satu pelukis yang banyak menerima order lukisan wajah. Berbagai lukisan yang dihasilkannya sangat realis. Namun, ada beberapa karya kaligrafinya yang dipadukan dengan panorama alam yang cukup menarik (alam berzikir). Sebuah kaligrafi Arab yang diimplementasi pada lanskap dari berbagai sudut pandang. Barangkali karena banyak pesanan potret, eksplorasi kaligrafinya tidak berlanjut.
Misnaya, menjadikan melukis sebagai bagian hidupnya. Di antara karya-karyanya yang sangat menarik adalah karya-karya lukisan foto (potret). Selain juga memanfaatkan api (pyrography) dalam beberapa karya terakhir ini.
Haris Sudarsono, salah satu pelukis yang menggunakan bahan kertas waterproof. Haris kerap kali berpameran bersama dengan para pelukis cat air di Indonesia, di antaranya, pameran nasional di Bali dan di Jakarta. Satu-satunya pelukis di Madura yang menggunakan teknik aquarel, dan saat ini Haris banyak mengangkat kehidupan keseharian dalam karya-karyanya. S Ghani, Rahmat, dan Fendy karya-karya realisnya cukup memukau seperti memindahkan objek nyata ke atas kanvas.
Fiki Moo, salah seorang pelukis muda Sumenep getol dengan karya-karya muralnya. Saat ini mulai mengadopsi lukisan mural ke atas kanvas serta merupakan salah satu pelukis yang mampu mengelola anak-anak muda dalam komunitas Artline. Fiki Moo salah satu pelukis mural mulai menekuni lukisan mural di atas kanvas. Beberapa bulan lalu menyelenggarakan Pameran Seni Rupa Indonesia Bagian Barat mengundang beberapa pelukis remaja seluruh Madura.
Dari Pamekasan ada Marsiono dan As’ad, dua pelukis senior kerap mengangkat tradisi budaya Madura. Sigit Purnomo dengan beragam gaya menampilkan peristiwa keseharian, metafor-metafor keseharian di sekitar kita ia menyampaikan persoalan-persoalan secara implisit. Mohamad Ali, lukisan-lukisan lanskapnya cukup indah dan menarik dalam permainan komposisi warnanya.
Hendri R. Sidik dengan kekuatan ornamen garis sebagai salah satu garis yang membangun berbagai imajinasi sebagai ungkapan rasa syukur atas kehidupan dan keseharian. Garis sebagai gerak yang melingkar menuju satu titik atau dari satu titik menyebar secara episentris. Kadang tampak seperti getaran-getaran yang saling melingkar seperti getaran zikir yang menggema dari dalam hati.
Akhmad Lutfi, banyak melakukan eksplorasi tentang kehidupan nelayan, sehingga simbol perempuan, ikan dan laut, perkampungan pesisir menjadi objek karyanya.
Fajar Iriadi (Bangkalan), pelukis lulusan ISI Jogjakarta sejak 1990-an sampai saat ini masih tekun berkarya dan belakangan mulai tertarik dengan bahan-bahan limbah sebagai media dalam lukisannya. Fajar salah satu pelukis yang tidak lagi bermain dengan bentuk wadah tetapi lebih kepada esensi, nilai, dan isi. Ia memiliki kekuatan dalam mengolah bahan dan warna salah satu ciri khas yang dimiliki Fajar Iriadi.
Selain mereka, dalam pameran kali ini juga hadir beberapa pelukis muda perempuan, di antaranya, Chantika, Falya Artama Josimun, sebagai salah satu regenerasi yang berbicara dengan persoalan zaman di tengah kepungan digitalisasi.
Maka, pada kesempatan ini sebenarnya merupakan kesempatan bagi Bapak Bupati, kepala dinas, dan masyarakat luas untuk mengoleksi karya-karya mereka yang telah terbukti eksis sampai saat ini. Mereka yang telah membuktikan perjalanan kariernya dalam melukis dan telah menjadi bagian dari sejarah pelukis Indonesia di dunia internasional.
Beginilah ngopene Sumenep dari sudut pandang lukisan. Para perupa telah banyak memberikan kontribusi dalam memajukan budaya Sumenep secara dinamis. Mereka membawa nama Sumenep dalam percaturan seni lukis di berbagai event, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk menyediakan ruang pamer yang layak untuk mengenalkan budaya Sumenep lewat lukisan sekaligus menawarkan produk budaya (lukisan) kepada para pengunjung untuk dikoleksi.
Wujud ngopene pemerintah daerah terhadap kekayaan budaya (lukisan) dengan mendirikan galeri sehingga karya-karya mereka bisa dipamerkan dalam ruang yang layak dan mereka (pengunjung) yang menyaksikannya merasa dimanjakan, nyaman, dan tertarik untuk mengoleksinya. (*)
*)Pelukis sketsa dan penulis esai
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti