Oleh ACHDIAR REDY SETIAWAN*
MENUKIL KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), residensi diartikan sebagai praktik berkesenian dengan tinggal dan berkarya di tempat tertentu untuk mendapatkan pengalaman dan wawasan baru. Sebuah program residensi bertajuk Rakara dihelat oleh Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim) MWC NU Gapura berkolaborasi dengan Komunitas Damar Korong di Desa Andulang, Kecamatan Gapura, Sumenep. Residensi ini direncanakan akan digelar setiap tahun. Tahun ini residensi berfokus pada penulisan cerpen (cerpen pendek). Menurut para inisiator, tahun depan residensi menyentuh karya cipta sastra lainnya: puisi. Tahun-tahun berikutnya boleh jadi akan menyentuh wilayah literasi lainnya.
Perhelatan Residensi Cerpen ”RAKARA” ini merupakan inisiatif yang layak diapresiasi. Para sastrawan yang berada di balik layar program mulia adalah sosok-sosok sastrawan cum seniman cum budayawan muda Sumenep, Madura. Mereka telah malang melintang di jagat sastra, tidak hanya lokal dan regional, tapi pun telah berkibar di aras nasional. Tiga nama sastrawan tersohor asal Madura: Mahwi Air Tawar (tinggal di Jakarta), Ahmad Muchlish Amrin (Jogjakarta), dan Zainul Muttaqin (Pamekasan) duduk sebagai kurator untuk menyeleksi cerpen calon peserta residensi.
Sebelum terjun ke lapangan, para peserta dibekali materi berbobot yang disajikan oleh figur terkemuka. Matroni Muserang (sastrawan dan akademisi STKIP Sumenep) dan Siswanto (sastrawan dari Universitas Jember) mengantarkan pemahaman tentang etnografi dan filsafat dalam kaitannya dengan sastra (dalam hal ini cerpen). Lalu, Benardo J. Sujibto (UIN Suka Jogjakarta), A. Warits Rovi (sastawan nasional), dan Khairul Umam (ketua Lesbumi NU Sumenep) yang karyanya berderet panjang mendedahkan berbagai unsur penulisan cerpen, mulai sudut pandang, penggalian dan penemuan tema lokalitas, hingga plot dan penokohan dalam cerpen.
Proses seleksi atas 46 pendaftar yang mengirimkan karya cerpen dalam periode 20 November sampai 15 Desember 2024 itu menghasilkan 15 peserta yang terpilih mengikuti residensi. Para peserta yang karyanya dianggap terbaik ini datang dari pelbagai daerah di Madura. Sebagaimana nama programnya, 15 sastrawan muda ini diwajibkan menginap bersama para panitia di lokasi residensi yang disediakan panitia, yaitu kompleks Madrasah Nurul Anwar.
Pada pergelaran residensi pertama ini, panitia mengajak peserta menggunakan pendekatan etnografis (walau dalam versi singkat dan padat) untuk menggali laku sosial para pelaku usaha gerabah tembikar. Pendekatan etnografis berusaha membangun pemahaman secara sistematis pelbagai aspek budaya yang hidup di masyarakat berdasar lensa pemahaman dan pemaknaan peneliti. Secara metodologis, peserta residensi ini diminta tinggal selama dua hari penuh di Desa Andulang untuk mengalami langsung alam dan kondisi sosial yang menyembul. Dalam teori dan konsepsi pedagogik, peristiwa mengalami (experiencing) adalah puncak pembelajaran tertinggi yang akan melekat dan menancap kuat di sanubari. Partisipan bersamuh, meriung, dan mewancarai langsung para perajin yang tinggal di Andulang. Observasi, interview, dan dokumentasi secara fisikal dan intensif ini dilakukan untuk menggali pemaknaan dan pemahaman para informan yang nanti akan diinterpretasikan dan dituangkan sebagai inspirasi penulisan cerpen.
Hasil olah pikir, olah rasa, dan olah batin atas pembelajaran mengalami inilah yang menjadi bahan baku utama penulisan cerpen yang diwajibkan kepada seluruh peserta. Hasil karya seluruh peserta residensi nantinya akan bermuara pada publikasi di media massa dan buku antologi cerpen. Setiap peserta dibebaskan untuk mengambil sudut dan arah pandang mana dari setiap perajin yang tertemui. Proses berjalan kaki dan menyerap alam sekitar juga diharapkan dapat memperkental nuansa penceritaan yang dituliskan.
Data dan informasi etnografis yang terkumpul kemudian langsung dituangkan dalam perumusan rerangka awal penulisan cerpen berdasar pemaknaan yang direngkuh. Peserta mendapatkan pendampingan dan mentoring langsung dari para cerpenis muda lainnya yang juga menjadi penggagas event mulia ini. Daviatul Umam, Abdullah Mamber, Faidi Rizal Alief, dan Sofyan RH. Zaid adalah beberapa nama tersohor yang menjadi mentor penulisan cerpen para peserta.
Program residensi cerpen boleh jadi terasa singkat sebagai sebuah penggalian bahan baku cerita pendek. Hal ini disadari betul oleh para penggagas acara ini. Namun setidaknya, penanaman kerangka filosofis dan metodologis pun terjun langsung berpraktik mengalami dan menggali nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat desa setempat adalah sebuah pembelajaran berharga bagi para peserta calon-calon sastrawan dari bumi garam ini. Nilai tradisi, budaya, dan religiusitas yang mengungkungi laku hidup para perajin gerabah tembikar yang masih setia dengan profesinya adalah sebuah insight menarik yang perlu diangkat di hadapan alam modernisme yang serba mekanis, kaku, dan kurang manusiawi ini. Tugas sastrawan di antaranya adalah menghidupkan nilai-nilai asali yang sejatinya masih relevan dan penting dipeluk masyarakat bangsa di antara berondongan nilai-nilai dari luar yang bersifat destruktif.
Cerpen-cerpen yang ditulis cerpenis asal Madura banyak yang mengangkat karakter lokalitas nilai kemaduraan yang kental. Kehadiran beragam cerpen ini, pada saat yang sama, menjadi media pengenalan nilai budaya Madura yang kental juga dengan ketauhidan dan kemanusiaan. Muna Masyari mengangkat nilai budaya Madura dalam buku kumpulan cerpennya: Rokat Tase’ dan Kembang Selir. A. Warits Rovi juga mengangkatnya dalam Dukun Carok dan Tongkat Kayu. Nilai sosial kemaduraan juga didedahkan oleh Mahwi Air Tawar dalam Blater dan Musyawarah Para Pencuri, serta Royyan Julian dalam Tiang Garam. Masih banyak lagi karya sastrawan Madura yang dalam penceritaannya mengunggah nilai-nilai sosial, budaya, dan religiusitas masyarakat Madura. Warna kemaduraan yang kental ini penting disajikan dan disusupkan ke hadapan pembaca sebagai ikhtiar menghidupkan nilai-nilai yang hidup (living values).
Sebagai sebuah permulaan, event residensi cerpen yang seluruhnya didanai secara swadaya bergotong royong ini patut diapresiasi tinggi. Sebagai sebuah peradaban, Madura penuh dengan warisan nilai-nilai kebaikan kebudayaan. Jejak dari para leluhur ini juga dapat dibaca sebagai rujukan dalam membincang kebudayaan nasional. Ada ragam keunikan-keunikan yang melingkupi manusia Madura. Akar nilai yang menjadi pedoman sebagian besar berakar pada nilai agama (Islam). Di hadapan arus zaman yang semakin deras berubah, penceritaan kembali nilai-nilai sosial, budaya, dan religiusitas Madura yang penuh dengan kemuliaan itu (kali ini dalam bentuk cerpen) adalah pencarian akar yang mengokohkan. Pada saat yang sama, para pembaca di luar Madura pun dapat merasakan pengalaman spiritual serupa kala membaca cerpen-cerpen yang berakar kuat pada nilai-nilai kesejatian itu.
Waba’du, apresiasi terkait inisiasi Residensi Cerpen ”RAKARA” ini, sekali lagi, perlu dilangitkan. Boleh jadi ini hanyalah ikhtiar kecil menciptakan ekosistem (penciptaan) karya sastra yang sarat nilai kemaduraan (value laden). Namun jika gerakan ini lantas menjadi gerakan yang menggelinding ke pelbagai sendi kehidupan melalui literasi yang berkesinambungan, sungguh ini adalah sumbangan besar bagi peradaban. Sebagaimana dimafhumi, alam Madura tidak pernah kekurangan dan kekeringan untuk melahirkan generasi sastrawan muda yang bergiat secara istiqamah mengisi ruang-ruang yang sepi dan jauh dari ramai ini. Pesannya kuat: karya sastra yang dicipta tidak bisa bebas nilai (value free). Perlu memasukkan secara masif nilai-nilai kemaduraan yang luhur. Program menghidupkan nilai kemaduraan di tangan para sastrawan dalam berbagai karya (cerpen, puisi, novel, prosa, dan lainnya) harus terus digulirkan. Ruang-ruang literasi kebudayaan yang sepi peminat ini perlu hidup dan dihidupkan agar manusia Madura tidak tercerabut dari akarnya. Semoga. Salam Literasi! (*)
*) Penikmat dan pembelajar sastra. dapat dijumpai di Jurusan Akuntansi FEB Universitas Trunojoyo Madura
Editor : Ina Herdiyana