Oleh HIDAYAT RAHARJA
DI titik nol kilometer aku menyusuri kotaku. Munomen menjulang membelah langit biru bersanding kubah hijau Masjid Agung As-Syahied di sebelah utara. Kantor Pos, kantor lama Pegadaian sisa peninggalan kolonial dan kantor Telkom menyadap informasi yang tersembunyi di jantung kotamu.
Ada yang berubah selain lampu-lampu warna-warni di ujung selatan dan utara taman. Taman mungil yang menyimpan sejarah kepahlawanan Trunojoyo. Dari sini aku membayangkanmu sebagai kota yang tenang menyimpan jejak keberanian dan cerita yang tidak pernah tuntas dikisahkan.
Aroma makanan menemani santap malam sate bumbu dan ayam bakar Pak Mulya selalu menggugah selera makan sambil melihat lalu-lalang orang-orang belanja makanan dan mereka yang pergi salat berjemaah di Masjid Agung. Perjumpaan antara yang fana dan yang kekal.
Kota yang anggun, jalan-jalan beton dan aspalan memanjang dari berbagai arah ke dalam jantungmu. Denyut yang tak pernah berhenti sepanjang waktu. Aliran kendaraan bagai aliran sungai deras melintasi punggungmu. Punggung kokoh yang menyunggi beban sejarah.
Dari sini aku memulai dari ketinggian Stinggil memandang hamparan kota ke berbagai arah. Melepas pandang ke arah selatan, hamparan laut dan bakau. Pohon-pohon bakau banyak yang tumbang diganti perumahan, pertokoan, dan rumah makan juga wisata pantai artifisial. Sementara laut dipenuhi fauna yang kehilangan tempat berlindung dan melanjutkan reproduksi.
Kota ini tumbuh dan terus tumbuh, tepian pantai berderet permukiman dan rumah makan dengan segala atribut dan aksesorinya. Di meja makan, panggang tenggiri, kakap bakar, gerang asam kakap karang ditemani cumi hitam, dan rempeyek udang terhampar siap disajikan sambil berbincang pembangunan negeri. Sepotong daging bakar dicocol pedas sambal bajak. Aku berkeringat seperti peluh kota tak henti berbenah, membangun alun-alun jadi sarana olahraga dan rekreasi.
Kita berbincang kemajuan di antara eksplorasi lepas pantai di tangan Santos, HCML, dan kongsinya. Bawah laut menderu, sementara di darat dikepung kesibukan. Trotoar sepanjang jalan bau bumbu dan minuman menghadang pejalan kaki. Di aspalan orang-orang berkendara tanpa helm menerobos lampu merah. Kota semrawut oleh lalu-lalang dan jual beli tak beraturan. Inikah kemajuan?
401 tahun yang lalu engkau dilahirkan di sini di lembah kadipaten dipenuhi cerita dan legenda dan para pejuang yang berpihak kepada kebenaran dan penderitaan. Para pemimpin yang adil rela menderita untuk kebahagiaan dan kemakmuran rakyatnya. Ratusan tahun kota ini tumbuh dan berkembang bersama arus Kali Kemuning membelah punggung kota dan menggenangi rumah-rumah saat musim hujan tiba.
Plengsengan sepanjang saluran sungai menggantikan semak hutan dan pohon waru pula kisah hewan-hewan yang telah pergi. Ia membendung hantaman arus deras musim hujan dan menghantam pula keteguhan yang selama ini bertengger dalam dadamu. Ada yang tumbuh dan yang hilang berganti.
Usai azan Magrib, malam jumat, Kota menutup pintu rumah dan pertokoan. Suara selawat, tartil, dan diba’ bergema di seantero gang dan jalanan. Kota teduh oleh nyanyi dan puji. Orang-orang saling menjaga pandang dan ucapan. Yang tua mencintai yang muda, yang belia menghormati yang renta. Pemimpin mencintai rakyatnya. Sapa masih santun dan para tokoh masih mendengar keluh kesah rakyatnya. Mereka yang jemawa tak memiliki tempat dan diasingkan dari masyarakatnya.
Para kiai bersatu menjunjung kemaslahatan bersama bermusyawarah untuk ketenteraman bersama. Para santri takzim pada kiai dan para ulama berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa. Itulah simbolisme ”etek songkem” menyerahkan tubuh dan sembah kepada yang mulia. Terima kasih kepada guru yang telah mengajari ngaji terhadap kehidupan. Sembah kedua tangan sebagai hormat dan takzim kepada junjungan.
Maka, muliakanlah hidup dengan berbagi kebaikan dan manfaat. Pemimpin (kiai) harus mendengarkan dan membimbing santrinya bukan dikuasai untuk keuntungan pribadi. Telah diserahkannya seluruh hidup kepada guru (kiai) yang membimbingnya ke jalan hidup yang makruf. Tidak ada masalah perayaan Idul Fitri di hari yang tak sama karena yang berbeda mempersilakan berlebaran lebih awal dan mereka menghormati yang saum sampai beduk akhir puasa tiba.
Kotaku banyak yang bertumbuh di sini, pertumbuhan menuju ke arah hidup yang lebih baik.
Di barat, alun-alun didandani jadi pusat keramaian baru. Di hari minggu orang-orang melemaskan badan mengolah tubuh, senam, berlari, dan berjalan kaki. Car free day, pagi tanpa kendaraan bermotor di Alun-Alun Trunojoyo. Udara segar di antara riang para pejalan dan pelari berbagi kebahagiaan pagi hari. Di malam hari, lampu-lampu berwarna-warni diiringi musik masa kini dari dangdutan koplo dan irama jedag-jedug menemani penjual makanan dan minuman dan bermacam hiburan.
Patung karapan sapi saling berpacu mencapai garis akhir tapi tak sampai-sampai, sebab gerak pembangunan terus berjalan ke sepanjang waktu. Engkau berpacu dengan diri sendiri menghilangkan kepentingan pribadi mengutamakan kepentingan bersama masyarakat. Di sisi jalan arè’ takabuwân selalu mempertanyakan untuk siapa pembangunan dilaksanakan. Jika tidak untuk kemaslahatan, tikamkan ujungnya ke dalam nuranimu. Yang berdarah, yang sengsara adalah rakyatmu. Percayalah, kelak Tuhan akan meminta seluruh pertanggungjawabanmu.
Kotaku 401 tahun usia yang tak muda, namun perlu terus mendengar dan merasa bahwa warga butuh aman sejahtera. Bila kau dengar keluhnya, tentu kau harus paham jalan tempuh penyelesaiannya. Karena kau kota dan mereka wargamu.
Di meja sajian, nasi tumpeng dipotong dan ujungnya diberikan kepada penguasa kota. Ingatlah, bagian pucuk kau terima perlambang yang mengajarkan untuk meruntuhkan keangkuhanmu. Sisanya adalah nasi, kumpulan butir yang butuh piring supaya mereka tak terbuang berada dalam asuhanmu.
Sayur dan urapan adalah lambang kemakmuran. Kaum tani telah bekerja keras banting tulang menumbuhkan tanaman pangan. Rasa syukur sawah ladang yang telah memberi kehidupan, dipersembahkan kepada pemberi hidup dan kehidupan.
Selamat ulang tahun kotaku. Jangan kau ulangi kesalahan tahun-tahun lewat, tapi jadikan landasan dalam membuat kebijakan yang manfaat. Lampu-lampu warna-warni bentuk dan rupanya. Seberagam penduduk dan pilihan hidupnya. Ayomi mereka bukan hanya karena golonganmu dan telah memilihmu dalam kontestasi. Tapi, mereka semua wargamu yang butuh perlindungan dan asih-asahmu.
Wargamu orang-orang mandiri dalam bekerja melakukan wirausaha dan karya nyata. Mereka butuh perlindungan dan ayoman. Pengusaha sejati yang harus diberi kesempatan mengembangkan diri agar mampu menyokong kota yang dicintai. Mereka banyak memberikan kontribusi bagi pembangunan negeri.
Para pekerja keras, bekerja penuh semangat meninggalkan kampung halaman. Para perantau yang menyusuri sepanjang pantai Pulau Jawa bahkan sampai negeri tetangga dan Saudi Arabia. Mereka perlu perlindungan hukum dan keselamatan kerja untuk tenteram dan tenang bekerja. Mereka sumber devisa negara kadang diabaikan keberadaannya dan hanya dipandang sebagai tenaga kerja migran, padahal banyak sumbangannya bagi negara dan kesejahteraan keluarga.
Jalanan semakin tinggi, tetapi rumah, kampung makin tenggelam karena pembangunan tidak memikirkan keselamatan warganya. Jalan semakin tinggi, tapi kami semakin tak berdaya meninggikan rumah melebihi tinggi jalan raya.
Jika musim hujan, air datang kerap masuk rumah karena pintu rumah sejajar dengan jalan kampung, dan jalan raya lebih tinggi dari lantai rumah. Air jadi tamu tak diundang menerjang pintu dan jendela membuat sibuk seluruh anggota keluarga. Banjir katamu kodrat alam yang tak bisa dihindar. Tapi kamu harus paham, air takkan datang sembarangan ketika ekosistem masih bisa diandalkan.
Lihatlah dari bukit utara, air hujan sudah tak jernih lagi, menandakan tingginya tingkat erosi. Air cokelat melebihi legam kulitku, kelam lingkungan yang selalu mendatangkan banjir setiap musim hujan tiba. Kali Kemuning tak lagi mampu menampung luapan air yang cokelat, menggenang lalu kembali memasuki rumah-rumah penduduk yang berada di daerah rendah.
Pohon-pohon ditebang, batu-batu ditambang. Semua harus dikendalikan biar semua sempat menyelaraskan ekosistem yang tak seimbang. Bila batu-batu gunung habis, habislah penampung air di musim hujan. Batu-batu kars berfungsi sebagai penyimpan air yang menyediakan mata air. Pohon-pohon di perbukitan, akar-akarnya jadi penyerap dan penahan air yang menjadi sumber air tanah. Bila habis pohon itu, jangan tanya ke mana air pergi.
Bila batu-batu habis ditambang dan pohon-pohon tak henti ditebang, jangan harap mata air mengalir di musim kemarau. Kecuali, tumpahan air mata berjatuhan karena tak tahan menerima penderitaan bertubi-tubi. Banjir, tanah longsor, kekeringan adalah bencana yang bisa dipelajari juga bisa dihindari. Mari kembali belajar mengaji lingkungan dan hidup lestari.
Kami sudah kenyang dengan banjir dan sebagai tamu selalu disambut dengan tenang menyelamatkan barang-barang ke tempat yang aman, karena kami tak punya lantai dua. Kursi-kursi kami susun meninggi pijakan berlindung saat air menyusul ketinggian. Sandang kami buntal dilemparkan ke atas para. Sebagian telah menyiapkan rumah dengan dua lantai sebagai tempat berlindung saat banjir datang.
Kotaku, tidak cukup dikirim bantuan makanan, karena bantuan hanya sampai di tepi jalan dibagi kepada mereka yang sedang berhujan-hujan dan berenang di genangan air. Sementara aku kedinginan menggigil bersama dengan air banjir yang semakin meninggi.
Adakah cerita banjir yang menyenangkan? Kesedihan selalu mengepung kampung. Lampu padam, aliran air macet, dan barang-barang yang ditinggal saling berisik tak tenang didorong gelombang air yang masuk dalam kamar. Mereka nyanyikan lagu ”Bânjir ḍâteng Polѐ,” sementara aku menggigil melagukan sedih yang tak beralih.
Kotaku, mari belajar dari kesalahan masa lalu dan mempersiapkan kehidupan masa yang akan datang. Aku malu dengan berbagai berita kekerasan yang sering terjadi karena hal-hal yang tidak semestinya terjadi. Dari persoalan pribadi yang sepele sampai persoalan-persoalan politik yang tidak mendidik. Ajari mereka tengka yang benar sehingga paham makna malu dan berilmu. Tѐmbhâng potѐ mata ango’an potѐ tolang (lebih baik mati daripada menanggung malu). Berhati-hatilah dalam bersikap jangan sampai berbuat malu. Daripada berbuat malu lebih baik mati. Filosofi agung untuk menjaga tengka sehingga selalu bersikap hati-hati dan santun kepada siapa pun.
Dari ketinggian bukit Stinggil aku memandang kota dan bentangan luas kehidupan. Dari jauh aneka atap rumah berwarna kemerahan dan abu-abu seperti layar-layar perahu tertambat di tepian waktu. Sementara di ketinggian Stinggil nisan-nisan dengan aneka rupa menandai nama para pendahulu yang pulang ke rumah baka. Kepulangan yang tenang dengan upacara pemakaman mengenang amal baik dan seluruh kebajikan yang telah diperbuat. Permohonan maaf atas segala khilaf dan kealpaan.
Tetapi, di kota ini masih ada di antara mereka yang mati sia-sia. Mereka dibunuh karena persoalan-persoalan yang tak berarti. Korban eksploitasi politik yang tak mengedukasi dan membela dengan seluruh emosi bukan dengan akal sehat dan hati nurani. Aku sedih dan malu mereka mati sia-sia. Apa pun alasannya, tak boleh ada nyawa melayang hanya untuk kepentingan kekuasaan sesaat, sementara hidup sekejap harus banyak berbuat kebajikan dan manfaat bagi kehidupan. Selamat ulang tahun kotaku. (*)
Sampang, 23 Desember 2024
*)Penulis esai, tinggal di Sampang
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti