Oleh HIDAYAT RAHARJA*
KEINDAHAN negeri Indonesia tidak ada bandingnya. Suatu ketika Rektor Universitas Al Azhar Syekh Mahmoud Saltout menyatakan kekagumannya kepada Presiden Soekarno bahwa Indonesia merupakan kepingan surga yang diletakkan di permukaan bumi. Ia begitu kagum dengan pesona alam Indonesia. Gunung-gunung yang tegak berselendang awan, ombak putih di bibir pantai bersapa dengan nyiur melambai. Angin sepoi menyejukkan dan matahari hangat menyegarkan bersinar sepanjang waktu.
Negeri dengan musim kemarau dan musim hujan disiram matahari sepanjang tahun. Negeri tropis dengan sumber daya alam berlimpah, memiliki kekayaan budaya dengan aneka suku bangsa yang sangat ramah. Kekayaan aneka arsitektur bangunan asli dan beberapa arsitektur bangunan hasil adaptasi perpaduan kearifan lokal dengan budaya luar. Karya bangunan adiluhung.
Koes Plus menuliskan dalam lirik lagu Nusantara, negeri ini sangat subur umpama tongkat kayu ditancap bisa jadi tanaman. Lautannya seperti kolam susu, karena laut memiliki kekayaan berlimpah belum dimanfaatkan sepenuhnya. Aneka buah-buahan sangat beraneka ragam berbagai variannya merupakan kekayaan spesies yang perlu dipelihara manfaat dan kelestariannya.
Kekayaan keindahan alam dan budaya Indonesia merupakan titik tolak Fiki Moo untuk dijadikan tema pameran Kongkow Art 7 pada tahun ini. ”Wonderland Indonesia” di Bagian Barat. Ruang eksplorasi diberikan kepada para peserta Festival Seni Rupa Pelajar yang ada di Madura. Pameran berlangsung di Gedung Korpri dari 22–23 November 2024.
Lukisan yang memamerkan keindahan Indonesia ini mengingatkan pada kelahiran angkatan pelukis Mooi Indie dikembangkan seniman Belanda dan Eropa pada abad ke-19. Aliran yang menampilkan kemolekan alam dan kehidupan manusianya bertujuan untuk meningkatkan kunjungan pariwisata. Aliran ini berkembang di Hindia Belanda sebagai tanah jajahan pada abad ke-20. Pada 1930, S. Sudjojono memopulerkan istilah Mooi Indie pada lukisan-lukisan yang dibuat di Hindia Belanda. Lukisan pemandangan yang indah, eksotika perempuan-perempuan yang ada di desa dengan pakaian setengah terbuka, lukisan yang elok. Memandang lukisannya terasa damai, romantis, tenteram, dan serasa menikmati keindahan surgawi. Masih menurut S. Sudjojono, kondisi tersebut sangat berbeda dengan keadaan negeri jajahan yang rakyatnya sangat menderita.
Perlawanan S. Sudjojono dengan Agoes Djaja mendirikan Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) untuk menentang kuasa Mooi Indie. S. Soedjojono dengan lantang mengemukakan dalam tulisan-tulisannya bahwa kemolekan yang disodorkan dalam lukisan amat tidak sebanding dengan kehidupan rakyat di tanah jajahan. Meski pada akhir hayatnya S. Sudjojono juga melukis Mooi Indie karena aliran ini cukup kuat mengakar bagi pelukis di Hindia Belanda.
Fiki Moo selaku Pembina Ekskul Artline SMAN 1 Sumenep dan Pelaksana Kongkow Art 7 berharap dengan festival kali ini mampu memberikan ruang kreatif bagi para pelajar untuk mengekspresikan keindahan alam dan ragam budaya adat istiadat, arsitektur, dan kehidupan masyarakat di Indonesia bagian barat. Harapannya bisa dilahirkan karya-karya bagus, bukan hanya indah, tetapi bisa menambah pengetahuan para penikmatnya.
Gelaran Kongkow Art 7 pada tahun ini lebih meluas bukan hanya diikuti pelajar SMA di Sumenep, tetapi mengakomodasi karya-karya pelajar SMP dan SMA dari wilayah Madura. Pameran ini bisa menjadi cerminan karya pelajar Madura. Juga merupakan salah satu pameran pelajar terbesar di Madura, bahkan di jawa Timur, yang melibatkan remaja SMP dan SMA.
Pameran karya pelajar SMP dan SMA merupakan suatu kesempatan untuk memberi ruang bagi pelajar mengembangkan bakatnya dalam dunia seni rupa.
Perluasan ruang kreatif dari kurikulum pendidikan seni rupa di sekolah. Hampir di semua sekolah, mata pelajaran seni rupa hanya dianggap sebagai pelengkap dan posisinya di bawah mata pelajaran IPA dan matematika. Seni rupa sebagai ilmu pengetahuan, menurut Peter R. Senn memiliki rumusan, masalah, pengamatan, deskripsi, prediksi (ramalan), dan kontrol. Jika demikian, sebenarnya seni rupa sama dengan ilmu pengetahuan lainnya.
Seni rupa juga memiliki konsep yang perlu dipahami, satuan antara titik, garis, bentuk, dan warna. Karenanya, di dalamnya juga terdapat muatan-muatan permasalahan konkret berhubungan dengan kepentingan manusia. Maka sebagai ilmu, sebuah karya seni rupa tidak terlepas dari realitas. Dari sebuah pengamatan bisa diterjemahkan ke dalam bentuk dan warna yang mengandung pesan bagi apresiator.
Lebih jauh seni rupa sebagai pengetahuan bisa memprediksi dan meramalkan, sebagaimana arsitekur melahirkan bentuk-bentuk futuristik dengan melihat pada kondisi saat ini dan kebutuhan di masa mendatang. Seni rupa sebagai wujud yang tidak tampak menjadi nyata, ini yang dimaksud dengan ramalan dalam dunia seni rupa. Juga bisa mengambil peran sebagai kontrol terhadap suatu realitas. Bagaimana seni rupa memberikan fungsi untuk memberikan pemahaman terhadap suatu persoalan.
Kegiatan seni rupa di sekolah berkembang di ruang ekstrakurikuler dan di dalamnya dapat dipastikan merupakan anak-anak pilihan yang berbakat dalam bidang seni rupa (seni lukis). Karya-karya mereka hanya disimpan dan dikeluarkan pada saat pameran sekolah. Pilihan semacam ini bisa dilakukan pada tutup tahun atau di akhir semester, atau dalam projek penguatan profil pelajar Pancasila (P5).
Berkembangnya platform digital di media sosial merupakan ruang publik yang memungkinkan untuk memublikasikan karya mereka. Namun, seberapa banyak dari mereka memanfaatkannya. Instagram salah satu akun media sosial yang digemari generasi Z tidak banyak dimanfaatkan untuk memajang dan memamerkan karya-karya mereka secara online. Padahal Instagram bisa dimanfaatkan berbagai galeri untuk mengabarkan dan mendokumentasikan aktivitas seni rupa.
Kegiatan pameran atau festival seni rupa semacam Kongkow Art dilaksanakan secara konsisten, dan tidak banyak lembaga sekolah yang melakukan hal serupa. Hal ini berkaitan dengan pendanaan dan ruang sering kali menjadi hambatan. Kongkow Art saat ini memasuki tahun ke-7, merupakan sesuatu yang patut diapresiasi karena tidak semua bisa melakukannya. Ini yang dikatakan bahwa Kongkow Art merupakan salah satu ekshibisi seni rupa terbesar di kalangan pelajar.
Konsistensi Kongkow Art bisa menjadi ruang pantau perkembangan seni rupa pelajar di Madura. Sayangnya, momen ini tidak ada yang memanfaatkan sebagai ruang persemaian para perupa pelajar yang ada di Madura. Eksistensi yang ditatap sebelah mata oleh instansi yang berkepentingan dengan ”kaum muda.” Saya katakan tatapan sebelah mata, karena tidak ada instansi yang menganggarkan untuk mendanai kegiatan ini. Mereka bergerilya mencari dana menghubungi beberapa sponsor dan media partner, berjibaku untuk mendapatkan gedung yang representatif untuk pameran.
Ekshibisi seni rupa sebagai manifestasi perkembangan budaya kaum muda luput dari perhatian bersama. Gerakan sebuah generasi yang nantinya akan menentukan peradaban di Madura. Mereka akan berbicara ke dunia luar lewat seni rupa. Sangat eman jika festival seni pelajar (Kongkow Art) dikerjakan seadanya, karena dari sini sebenarnya bakal calon perupa andal di masa depan akan bermunculan. Mereka yang banyak bersinggungan dengan dunia luar. Mereka yang berani mengambil inisiatif keluar dari ruang kelas yang kaku ke ruang ekshibisi yang luwes namun kompetitif dan mengajari mereka untuk fight.
Dari sisi karya paling mungkin ditatap adalah seberapa jauh mereka menafsirkan ”Keindahan Indonesia bagian Barat.” Apakah indah sebagaimana kemolekan mengundang para wisatawan untuk berkunjung. Sebuah framing terhadap keelokan negeri Indonesia dengan keindahan bukit, gunung, laut, dan lembah serta permukiman masyarakatnya.
Tatapan awal yang mengajak mereka untuk mengenal keindahan bangsanya dan lebih jauh menelusuri di balik keindahan yang ada. Bahwa di antara yang bagus tersembunyi kesedihan-kesedihan yang perlu dipahami dan diselamatkan. Telusur yang menyadarkan kita untuk melestarikan keindahan sebagai anugerah yang harus diapresiasi dan disyukuri.
Lebih jauh kemolekan tersebut bukan hanya bermanfaat untuk pariwisata, namun yang tidak kalah penting menumbuhkan cinta kepada bangsa dan negara Republik Indonesia. Di sini, peran seni rupa sebagai pengetahuan bisa memengaruhi orang lain untuk memahami dan meresponsnya dalam tindakan. Cinta dalam diri menyebar dalam tindakan hidup yang menjalin nilai-nilai kasih dan kemanusiaan.
Sebuah tatapan yang memungkinkan untuk melihat yang tampak sebagai keindahan pesona. Lukisan-lukisan indah sebagai pemanis ruangan yang mampu meredakan kepenatan dan kesumpekan di zaman yang tak terduga. Pemandangan-pemandangan indah yang mampu melenyapkan rasa lelah. Pemandangan yang menjadi cermin keindahan hati dalam jagat kecil kemanusiaan.
Atau lukisan para wanita eksotis dengan berbagai pakaian adat yang menampakkan kekayaan ragam budaya Indonesia. Lukisan sebagai pemanis ruang dan pelengkap interior di ruang keluarga. Eksotika yang banyak digambarkan ada era kejayaan Mooi Indie. Tatapan kemungkinan berbeda setelah era kemerdekaan dan kebebasan bersuara dan berdemokrasi.
Beberapa perupa pelajar yang sering berpameran antara lain: Putih, Chantika Dwi Karunia, Nadya Shofwah Fillaili, Falya Artama Josimon, dan beberapa pelukis dari SMPN 1 Sumenep, SMPK Santo Yusuf, SMAS Plus Miftahul Ulum, SMKN 1 Sumenep, SMPN 2 Pamekasan, SMAN 3 Pamekasan, dan SMAN Bangkalan.
Salwanida Putih Shafiyyah (Putih) dengan karya berjudul Keluarga berbahan clay di atas kanvas ukuran 50x50 cm. Gambaran anggota keluarga bahagia, ibu, ayah dan anak-anaknya. Tangan ayah melambai menggandeng tangan ibu dan anak-anaknya bermain dan membantu menata makanan di atas meja. Hidup yang menyenangkan, lingkungan alam rindang dengan warna-warna cerah. Keberanian Putih lepas tanpa beban memainkan bentuk dan warna sehingga menghasilkan komposisi yang padat memenuhi ruang kanvas dengan warna-warna cerah; pink, merah, kuning, cokelat, hitam, putih semua bertabur membangun harmoni di atas kanvas. Kanvas kecil yang dipenuhi cerita keluarga. Putih masih duduk di bangku SMAN 2 Pamekasan, sangat menarik dengan karya-karyanya. Salah seorang pelukis anak yang lolos seleksi di ArtJog 2024 dan finalis UOB Painting of The Year 2024.
Cantika Dwi Karunia siswa kelas XII SMAN 1 Sumenep, salah satu lukisan yang dipamerkan menggambarkan acara petik laut, melarungkan sesaji ke laut. Salah satu tradisi masyarakat pesisir dengan berbagai hasil melaut kepada hewan laut. Suatu hubungan simbiosis memberikan sebagian hasil laut untuk diberikan kepada penghuni laut. Tradisi rokat tase’ dapat ditemukan di berbagai wilayah pesisir Nusantara dengan berbagai sajian dan ritualnya. Salah satu kekayaan budaya yang kita miliki dan wajib dilestarikan. Chantika mencoba mengabadikannya di atas kanvas. Warna-warna yang digunakan Chantika sangat meriah cerah dengan gambar dekoratif dan terlihat naif.
Najmi Nur Khairani, lukisannya berjudul Budaya di Era Modern mencoba memotret aneka budaya Indonesia ke atas kanvas; wayang, candi, penari pemain musik gamelan. Najmi ingin menyampaikan kondisi budaya Indonesia di era modern. Mereka hidup, namun bersaing dengan aneka produk kesenian modern. Peniup saronen di tengah kanvas seperti meneriakkan kondisinya dengan warna muram.
Kondisi seni budaya lokal terus-menerus beradaptasi mencari format yang paling pas. Kita berkewajiban untuk mempertahankan dan melestarikan. Namun, upaya bertahan dan lestari perlu beradaptasi supaya tidak dikalahkan budaya baru.
Kerijogjabarbasuse karya Falya Artama Josimon. Lukisan yang menyedot perhatian dengan warna agak gelap tampak seorang penari tradisional, wayang, barong, dan topeng menggambarkan keragaman tari. Saya melihat karya Falya Artama Josimon cukup menarik dalam membangun komposisi warna dan bentuk. Lukisan yang menimbulkan dinamika gerak dari objek yang digambarkan. Dalam dua tahun terakhir karyanya menampakkan kesungguhan dalam menggambar.
Meisya Silvia Herlinda dengan lukisan Tari Topeng menggambarkan dua orang penari topeng didominasi warna cokelat dan hitam. Ekspresi kedua topeng dapat dirasakan seperti berada dalam ketegangan meregangkan kedua tangannya. Tari Topeng yang dilukiskan Meisya merupakan tari topeng dalang yang masih ada di Sumenep. Dalam ketegangan ekspresinya seperti eksistensinya di tengah goyangan musik dangdut dan party semakin ramai di panggung pertunjukan di Semenep.
Peacock Beauty karya Lubna menggambarkan keindahan burung merak laksana seorang penari cantik memamerkan keindahan kostum dan gerakan tubuhnya. Tubuh berwarna biru ngejreng dengan pola melingkar seperti mata pada bagian ekornya. Merak jantan memiliki ekor yang indah sehingga menjadi daya tarik bagi lawan jenis. Gerakan ekor menarik hewan betina di saat musim kawin. Dalam lukisan terlihat seekor merak mengembangkan ekornya yang indah dan di dadanya seorang perempuan sedang menari dengan gemulai tubuh dan tangan mengembangkan selendang.
Baca Juga: Eksplorasi Karapan Sapi dan Topeng Patengteng, 190 Lukisan Dipamerkan di Pendopo Agung Bangkalan
Karya para pelajar ini sangat berarti bagi sejarah perkembangan seni rupa di Madura dan di Indonesia. Bukti bahwa seni rupa memiliki strata yang sama dengan pengetahuan lainnya dalam mata pelajaran yang diberikan di sekolah. Seni rupa bukan hanya aktivitas menyalurkan hobi, tetapi seni rupa bisa menjadi pengetahuan yang menyadarkan tentang kehidupan manusia, tentang alam dan keindahannya, dan lebih jauh bisa mengimajinasikan masa depan dengan melihat keadaan saat ini.
Sangat terbuka kemungkinan dari penjelajahan kreativitas yang dilakukan memunculkan karya yang mengedepankan hal yang tidak tampak. Mungkinkah dalam tatapan memunculkan pandangan ke depan (futuristik) dengan melihat realitas keindahan Indonesia saat ini.
Kemungkinan-kemungkinan yang muncul dalam imajinasi mereka yang belum terkontaminasi dengan berbagai keinginan di luar dirinya. Di sinilah peran seni sebagai pengetahuan yang sejajar dengan ilmu pengetahuan yang lain. Seni rupa memperkaya pengetahuan, ilmu arsitektur tardisional di suatu daerah menjadi kearifan lokal bangunan di setiap tempat merupakan konstruksi paling adaptif terhadap kondisi lingkungan. Arsitektur tradisi yang memiliki nilai-nilai spesifik yang relevan dengan konidisi alam dan lingkungan sosialnya.
Lukisan-lukisan Basoeki Abdullah merupakan lukisan yang menggambarkan keindahan fotografis, sehingga kesannya gambar seperti hidup dan bisa ”berbicara.” Bahkan, lukisan-lukisan Basoeki melebihi keindahan aslinya. Ia mampu memotret kemolekan alam, fauna, flora, dan manusia. Kemolekan banyak bertebaran di berbagai sudut Indonesia, dan saat ini sudah mulai berubah karena pengelolaan alam tanpa memperhatikan aspek lingkungan.
Lukisan Berburu Celeng karya Djoko Pekik di tahun 1998 merupakan gambaran jatuhnya Presiden Soeharto. Celeng digambarkan sebagai lambang kekuasaan yang serakah yang diburu oleh rakyat yang menderita. Iringan massa membeludak melambangkan kekuatan rakyat mampu menumbangkan penguasa yang serakah. Hampir semua karya seni rupa di tahun 1998 menggambarkan kondisi sosial yang kurang baik di Indonesia.
Tidak ada yang hampa dalam lukisan atau seni rupa, semua memiliki latar belakang pemicu munculnya lukisan. Di sini karya seni rupa mengambil perannya sebagai pengetahuan bagi para penikmatnya. Digitalisasi merupakan salah satu kemajuan dalam berbagai kehidupan, dan di antaranya juga dalam dunia seni rupa. Digitalisasi merupakan teknologi yang akrab bagi generasi Z. Maka, tidak asing beberapa karya terakhir bermunculan karya digital yang memiliki kelebihan secara visual dengan warna ngejreng. Salah satu peluang yang bisa diimplementasikan para pelajar dalam berkarya. Kemungkinan-kemungkinan baru yang akan hadir dengan kemudahan teknologi digital.
Mereka hanya butuh tablet dan aplikasi untuk mulai melukis, karya-karya mereka sangat memukau. Sebuah potret kehidupan kaum muda yang akrab dengan teknologi digital. Lukisan atau gambar di layar tablet tersebut bisa dicetak di lembaran kanvas atau kertas. Betapa gampang teknologi memudahkan kita untuk melukis dan mencetak di berbagai media. Bahkan, dengan kemajuan teknologi, sebuah karya dapat digandakan dalam jumlah tak terbatas.
Karya teknologi digital tentu amat berbeda dengan karya manual, untuk menggandakannya butuh waktu lama serta ada kemungkinan berbeda dengan aslinya atau karya pertama. Semua memiliki nilai plus dan minus. Karya-karya manual merupakan karya yang disentuh tangan secara langsung sehingga getaran garis-garisnya terasa pada bentuk garis dan juga lapisan warnanya akan terasa tebal.
Namun yang paling penting dalam sebuah karya adalah muatan apa yang ada di dalamnya sehingga setiap apresiator bisa merasakannya. Dari sini bisa dilihat mereka yang memendam kekuatan untuk membuat karya-karyanya berbicara kepada apresiator. Atau mereka yang hanya memindahkan bentuk ke atas media kanvas atau kertas.
Festival Seni Pelajar (Kongkow Art 7) pada intinya adalah perayaan karya para pelajar untuk memaknai keindahan Indonesia bagian Barat. Maka, ekshibisi ini menjadi catatan perjalanan peradaban kaum pelajar dalam memaknai keindahan negerinya. Keindahan dari yang mereka lihat, baca, dan dengar, serta yang mereka imajinasikan. Sebuah realitas yang mereka tangkap dan kemudian dituangkan di atas media kanvas maupun medium lain. Perayaan yang patut diapresiasi sebagai gambaran para perupa Madura di waktu yang akan datang. Tabik ! (*)
*)Seorang guru, esais tinggal di Sampang
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti