MADURA, pulau yang terletak di sebelah timur Pulau Jawa. Menyimpan pesona budaya dan tradisi yang kaya (“Bella,” 2024). Keunikannya terletak pada kuatnya nilai-nilai tradisional di tengah arus modernisasi yang terus berkembang. Pulau Madura menyimpan berbagai warisan budaya yang kaya dan unik, menjadi identitas yang kuat bagi masyarakatnya. Namun, dalam perjalanan menuju kemajuan, Madura menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara kedua aspek tersebut.
Karapan sapi, taneyan lanjhang, dan tajin sobih, rokat tase’ merupakan tradisi yang melekat pada pulau ini. Dengan paham masyarakat bahwa modernisme lewat segala kejeniusan imanentalnya, berpotensi akan meruntuhkan tiang-tiang peradaban tradisionalisme (Jalil & Aminah, n.d.).
Modernisasi bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan terkait dengan tradisi budaya bangsa dalam merumuskan kebijakan pembangunan (Saefuitohmat et al., n.d.). Kedua hal tersebut menjadi landasan masyarakat, menolak modernitas dalam pembangunan yang dianggap akan melunturkan nilai simbolis suatu tradisi maupun budaya.
Salah satu sifat modern adalah selalu mengalami migrasi atau perubahan, mengikuti era global. Di sisi lain, makna tradisi adalah kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya secara turun-temurun (Jalil & Aminah, n.d.). Sangat jelas, perbedaan tersebut adalah fondasi yang digenggam masyarakat dalam menolak modernisasi. Dengan sifat modernisasi yang berubah-ubah dan tak pasti, dinilai akan mengurangi nilai dari keaslian suatu tradisi maupun budaya yang sudah ada.
Oleh karena itu, di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur dan ekonomi di era modernisasi ini, tebersit pertanyaan: bagaimana menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernisasi agar pembangunan di Madura tetap berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat? Ataukah perlu adanya eliminasi antara tradisi dan modernisasi? Manakah yang patut dipilih dan mana yang harus dihapus? Catatan yang memerlukan penyelesaian terletak pada bagaimana menyeimbangkan antara mempertahankan nilai-nilai tradisional dan menerima kemajuan modernisasi.
Hal ini bukanlah alasan ditiadakannya pembangunan di Madura. Tindakan yang dapat dilakukan ialah mencari keseimbangan antara tradisi dan modernisasi. Itu adalah kunci untuk membangun Madura yang maju dan sejahtera tanpa memunculkan konflik antar pihak masyarakat dan pemerintah.
Atraksi yakni akronim dari antara tradisi dan modernisasi budaya di Madura dapat menjadi jembatan untuk mencapai keseimbangan pembangunan. Dengan memanfaatkan potensi budaya dan tradisi, Madura dapat menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Hal ini akan berdampak positif pada perekonomian masyarakat, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan.
Dilihat dari ragam budayanya, Madura dikenal dengan karapan sapinya. Kuntowidjoyo menggambarkan tradisi khas Madura ini sebagai suatu kombinasi dari perayaan rakyat, hiburan, pertunjukan kesehatan ternak, dan pacuan sapi. Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini selalu menarik perhatian masyarakat luas (Kosim, n.d.).
Berikut beberapa hal yang dapat di lakukan, dalam merealisasikan Atraksi:
Pengembangan Ekonomi Berbasis Budaya
Banyaknya budaya di Madura memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi sumber perekonomian yang baru. Kesenian, kuliner, dan kerajinan tradisional dapat dikemas dengan sentuhan modern untuk menarik wisatawan dan pasar global. Poin ini dapat mengacu pada beberapa budaya di Madura dan ciri khasnya seperti:
Karapan Sapi: Dapat dikembangkan menjadi event wisata berskala internasional dengan mempromosikannya melalui platform online dan media sosial lainnya yang juga melibatkan berbagai pihak, seperti pemerintah, pengusaha, dan masyarakat. Dari event tersebut dapat membangun perekonomian pedagang kaki lima yang hendak berjualan di area event. Di samping itu, dapat meningkatkan Sumber Daya Manusia yang ada di Madura yang nantinya akan mempelajari bahasa asing dalam berkomunikasi selama event berlangsung. Madura lebih dikenal, pandangan buruk terhadap Madura hilang, budaya mendunia dan SDM maju.
Kesenian Ronggeng: Dapat dipromosikan melalui festival seni budaya, workshop, dan pertunjukan di berbagai platform. Maka dari itu, kesenian ronggeng tak akan tergeser oleh kesenian modern sejenisnya. Dengan mengikuti modernisasi tidak membuat kesenian ronggeng hilang, bahkan lebih mempertontonkannya pada dunia.
Kuliner Khas Madura: Selain kebudayaan, salah satu ciri khas yang ditawarkan oleh Pulau Madura ialah kulinernya. Sate, tajin sobih, nasi kerawu, dan Sinjay yang sudah terkenal dan diterima di lidah masyaraka. Semuanya itu dapat dipromosikan melalui restoran, kafe, dan pasar kuliner dengan tetap menjaga keaslian rasa dan bahan baku. Jadi, makanan khas Madura tetap terjaga bahkan terkenal meskipun mengikuti modernisasi.
Kerajinan Tangan: Banyak perajin di Madura yang memperjualbelikan kerajinannya di pasar, dan enggan menggunakan media sosial dengan alibi apabila semua di-online-kan maka nanti tidak ada lagi pasar. Opini tersebut dapat diselesaikan melalui promosi melalui galeri seni, toko online, dan event pameran, dengan melibatkan para perajin lokal dan tetap menggunakan pasar sebagai tempat utama dalam berniaga.
Pendidikan yang Menyisipkan Nilai Tradisi
Sistem pendidikan perlu dirancang untuk menanamkan nilai-nilai tradisional dan sekaligus membekali generasi muda dengan keterampilan modern.
Blog untuk Melestarikan Budaya
Dengan kemajuan teknologi dan informasi saat ini yang berkembang pesat, dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan budaya Madura ke seluruh pelosok dunia.
Atraksi budaya di Madura memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak pembangunan yang berkelanjutan. Dengan menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernisasi, Madura dapat mencapai kemajuan ekonomi dan sosial tanpa mengorbankan nilai-nilai luhurnya. Atraksi budaya tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tapi juga menjadi wadah untuk melestarikan warisan budaya dan memperkenalkan keunikan Madura pada dunia. (*)
DAFTAR PUSTAKA
“Bella.” (2024, February 17). Madura, Jawa Timur: Sejarah, Budaya dan Keindahan Alam. Https://Provinsijawatimur.Com/Madura-Jawa-Timur/.
Jalil, A., & Aminah, S. (n.d.). U BA A o esia Jo r al of A t ro olog Resistensi Tradisi Terhadap Modernitas.
Kosim, M. (n.d.). KERAPAN SAPI; “PESTA” RAKYAT MADURA (Perspektif Historis-Normatif). https://www.suarakarya-online.
Saefuitohmat, O. :, Bambang, D., & Hadt, S. (n.d.). TRADISI DALAM PEMBENTUKAN IDENTITAS BANGSA INDONESIA DI ERA MODERN.
Editor : Fatmasari Margaretta