Oleh ACH. ZAINI DAHLAN*
RABU, 13 November 2024, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Tegak Institut Agama Islam Al-Khairat, Ponjanan Timur, menggelar pementasan teater empat tahunan di GOR Soca Center, Desa Waru Barat, Kecamatan Waru, Pamekasan. Selain menggelar pertunjukan teater, UKM Teater Tegak sehari sebelumnya juga menggelar lomba baca puisi tingkat SMA/SMK/MA se-Kabupaten Pamekasan yang diikuti oleh 62 peserta.
Kegiatan ini menjadi momen kembalinya pertunjukan teater mahasiswa ke pantura. Seperti yang saya sebutkan di atas, bahwa mungkin ini adalah acara empat tahunan mereka. Acara yang pernah saya ikuti empat tahun silam, tepatnya pada 2020, yang pada saat UKM Teater Tegak berkolaborasi dengan beberapa sanggar seni di pantura. Untuk tahun ini, mereka berkolaborasi dengan Teater Iqra’ Pondok Pesantren At-Tablighiyah yang membawakan naskah lakon Dua Topeng. Konsep pementasan dari Teater Iqra’ adalah teater abstrak dengan banyak mempertontonkan gerakan teatrikal dengan minim dialog. Aktor cenderung berinteraksi satu arah satu sama lain. Drama ini secara garis besar bercerita tentang seseorang yang menjadi kuasa atas manusia lain dan meng-copy semua sifat orang yang ditemuinya. Konsepnya sederhana dengan pemaknaan yang cukup mendalam.
Tuan rumah sendiri juga menyuguhkan teater abstrak dengan konsep teatrikal yang sedikit sekali dialog antar tokohnya. Bercerita dengan tema yang beragam setiap babaknya. Tema yang dibawakan cenderung acak dan sulit diikuti oleh saya yang merupakan warga sekitar dan sudah empat tahun lebih tidak menonton pertunjukan teater mahasiswa. Tema utama yang dibawakan adalah tentang nafsu dan kekuasaan. Konsep yang sangat dekat dengan masyarakat dan mahasiswa.
Secara keseluruhan, pementasan berjalan lancar dan menarik untuk dinikmati. Namun dari semua itu, ada satu masalah klasik yang belum bisa diselesaikan sejak empat tahun lalu. Panggung yang minimalis dan pencahayaan yang ”seadanya”. Jujur ketidakhadiran properti ”seadanya properti” sangat disayangkan. Meski saya apreasiasi pengguna properti seadanya tadi tidak lantas mengurangi penampilan teman-teman teater.
Pencahayaan itu berguna untuk memberikan kesan kepada penonton agar menonjolkan ekspresi dan emosi tokoh. Sayang sekali tata letak lampu cenderung asal ditempatkan agar panggung tidak terlihat gelap saja. Saya tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi aktor dan feel aktor dalam membawakan perannya.
Tentu ini adalah PR yang harus dikerjakan dan diselesaikan oleh teman-teman UKM Teater Tegak. Namun, apa pun yang ditampilkan pada pertunjukan tersebut patut diapreasiasi. Kembalinya pertunjukan teater mahasiswa ini perlu diapresiasi sebagai bentuk penghargaan pada UKM Teater Tegak yang tetap eksis berseni sampai saat ini.
Teater Tegak merupakan satu-satunya teater mahasiswa di pantura yang aktif berkarya. Meski sangat disayangkan jika seandainya kegiatan pertunjukan mereka dilakukan setiap empat tahun sekali. Seperti piala dunia, mereka seolah-olah mencari momen tiap empat tahun sekali untuk menghibur dan menyegarkan kehausan akan pertunjukan teater.
Di pantura sendiri, pertunjukan teater pelajar atau mahasiswa sangat jarang sehingga momen kembalinya pertunjukan setelah ”vakum” selama empat tahun ini menjadi oase bagi saya sebagai warga sekitar. Pertunjukan teater semacam ini seharusnya tidak layak dilaksanakan setiap empat tahun sekali. Mereka layak untuk tampil setiap tahun atau minimal dua tahun sekali. Kenapa? Ya tentu saja kreativitas berteater harus dipupuk agar tetap bugar dan tumbuh subur.
Saya berharap, pertunjukan serupa dapat menginisiasi sanggar-sanggar teater di pantura untuk mengekor dengan mengadakan pertunjukan serupa. Sebagai warga sekitar pantura tentu saya paham betul, fasilitas dan sarana untuk menggelar pertunjukan teater di pantura sangat minim. Termasuk fasilitas panggung menjadi alasan mengapa teman-teman Teater Tegak menggelar pertunjukan setiap empat tahun sekali.
Baca Juga: Merosotnya Kecerdasan Spiritual
Pertunjukan serupa semoga menjadi atensi bersama. Mengeksiskan teater mahasiswa yang memiliki dana dan sarana yang minim perlu diperhatikan oleh dinas terkait, terutama di daerah pantura Pamekasan. Teman-teman UKM Teater Tegak tentu akan bangga jika difasilitasi untuk dapat tampil di depan publik.
Sekali lagi, saya sangat mengapresiasi terselenggaranya pementasan Teater Tegak IAI Al-Khairat, Ponjanan Timur. Semoga ini menjadi momentum untuk mengembalikan pertunjukan-pertunjukan serupa seperti seni musik, tari, dan lukis di pantura. Semoga teman-teman Teater Tegak terus bermetamorfosis lebih baik lagi sehingga acara-acara seperti ini dapat dilaksanakan setiap tahun atau minimal dua tahun sekali. (*)
*) Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jember
Editor : Ina Herdiyana