Oleh HIDAYAT RAHARJA*
SAMPANG secara geografis berada di pertengahan antara Sumenep dan Bangkalan. Karena posisinya Sampang sering kali hanya menjadi daerah lintasan bukan singgahan sehingga tidak banyak yang bisa dituju sebagai destinasi wisata. Karenanya tidak banyak pula yang ditinggalkan secara referensial, selain cerita dari lisan.
Karya seni rupa di Sampang yang sangat populer Lѐncak Palѐ’, kini sudah banyak tak mengenalnya dan dikalahkan popularitas springbed. Lѐncak Palѐ’sebagai produk khusus dengan bentuk tiang berulir dan sandaran bergambar ”Bouraq”. Sampai saat ini tidak banyak yang mengetahui mengapa gambar pada sandaran lѐncak tersebut bergambar kuda bersayap dengan kepala perempuan.
Komunitas seni rupa yang bertahan sampai beberapa dekade adalah KPS (Kelompok Perupa Sampang) yang beranggotakan para pelukis di Kota Sampang dan secara rutin setiap tahun melakukan pameran lukisan.
Dalam dunia sastra tidak banyak pengarang sastra yang lahir di Sampang. Namun, bukan berarti tidak ada perkembangan sastra di Sampang. Jika dibandingkan dengan daerah Madura yang lain, Sampang terasa unik dan berbeda. Tidak banyak komunitas sastra lahir di tempat ini. Namun aktivitas bersastra secara aplikatif tumbuh bersama dengan ritual keagamaan yang berkembang dalam masyarakat.
Membicarakan sastra di Sampang, mengingatkan saya pada perayaan Maulid Nabi yang diselenggarakan hampir di tiap rumah. Utamanya di kampung tempat saya dilahirkan, Omben. Dalam sehari saya bisa menghadiri undangan maulid sampai tiga rumah, karena ada keinginan setiap rumah menyelenggarakan Maulid Nabi. Waktu sebulan tidak cukup untuk menjadwal setiap keluarga untuk melaksanakannya. Sehingga, di antara mereka ada yang melaksanakan sebelum bulan Rabiulawal atau setelahnya.
Hampir di setiap rumah ditemukan bangunan kobhung (langghâr) di ujung barat pekarangan. Langghâr bukan sekadar tempat untuk salat, menerima tamu dari jauh, tetapi juga sebagai tempat untuk melaksanakan perayaan maulid. Dari sana puji-pujian berkumandang mengisi hari-hari, dan ketika dewasa saya mengenalnya dengan sebutan sebagai karya sastra.
Sampang daerah yang unik dan menarik. Setiawan, dkk. (1998) melakukan sigi mengenai perkembangan sastra Indonesia di Madura. Dalam pemetaan yang mereka lakukan berdasarkan daerah kelahirannya, diperoleh simpulan bahwa pengarang sastra Indonesia terbanyak di Sumenep, Pamekasan dan Bangkalan, sedangkan Sampang belum menghasilkan pengarang.
Seangkatan Abd. Hadi WM dan D. Zawawi Imron tidak ada sastrawan Indonesia di Sampang, karena perkembangan sastra di Sampang tidak semeriah di Sumenep dan kabupaten lain di Madura. Sampang hanya menjadi daerah lintasan, tempat melintas tanpa bekas. Sumber-sumber otentik mengenai perkembangan sastra di Sampang jumlahnya sangat minim.
Bagaimana sastra di Sampang tumbuh dan berkembang? Sebuah pertanyaan yang selalu muncul, karena sering kali kita mendengar berita tentang ”kekerasan” yang terjadi di Sampang. Sastra pesantren di Sampang seperti tersembunyi dan enggan tumbuh di antara suburnya pertumbuhan sastra di daerah Sumenep dan Pamekasan. Pada bahasan ini saya ingin menuturkan peristiwa-peristiwa kecil yang semula dianggap sebagai peristiwa biasa dan rutin dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata hal-hal yang saya anggap biasa, dari situ sastra bermula dan tumbuh.
Baca Juga: Puisi Mh. Dzulkarnain: September Berkisah
***
Sastra di Sampang yang saya kenal lebih banyak dari lisan dan puji-pujian di langgar kampung. Sebuah aktivitas perayaan yang biasa dilakukan saat hari besar, bahkan juga menjelang kematian. Suatu peristiwa yang sangat biasa dalam keseharian sehingga tidak ada hal yang menarik karenanya. Mereka yang biasa membacakan adalah anggota masyarakat yang sehari-hari sebagai pedagang atau guru ngaji.
Tidak banyak referensi mencantumkan perkembangan sastra di Sampang. Saya kenal sastra Sarafal Anam karya al-Syaikh al-Imam Syihab al-Din Ahmad bin ’Ali bin Qasim al-Maliki –pujian kepada Allah dan Rasulullah Muhammad SAW, Barzanji Sayyid Ja’far bin Hasan al Barzanji (1128 H /1716 M) kerap saya dengarkan di bulan Rabiulawal (Maulid), bulan kelahiran Rasulullah. Di setiap perayaan Maulid Nabi, saya dan para undangan melantunkan Sarafal Anam dan Diba’. Sering kali kami hafal bacaannya, namun tidak paham maknanya, selain berisi pujian kepada Allah dan Rasulnya. Kemerduan dan lagu setiap daerah bisa berbeda meski isinya sama.
Sastra kampung lainnya yang saya kenal dan saya sebut syi’iran biasa dilantunkan menjelang sahur tiba. Pujian yang mengingatkan tentang hidup, manusia, dan kematian. Syi’ir ini sangat efektif untuk membuat kami anak-anak di kampung paham mengenai hidup bertetangga, berbuat baik, dan mengetahui adanya siksa dalam kubur bagi mereka yang durhaka terhadap Allah.
Saya dibesarkan dalam lingkungan setiap hari belajar mengaji di langgar, dan dari sana bersama teman sepermainan belajar membaca Al-Qur’an, dan belajar bacaan salat lima waktu. Hal yang paling terkesan sampai saat ini adalah di malam bulan Ramadan menjelang sahur, pelantang di beberapa langgar difungsikan membangunkan warga dan santri. Di antaranya dari pelantang tersebut akan disiarkan syi’ir dari pita kaset dikumandangkan ke seluruh kampung. Saya menyebutnya syi’ir, dan yang paling saya ingat adalah syi’ir tentang orang mati, mayyit ḍâlem kobhur, dan orѐng sѐ bâḍâ ḍâlem naraka.
Kaulâ ngarang asyi’iran/ sѐ aѐssѐ parѐngettan / ka’angghuy ènga’ ḍa’ ka patѐ/ jhâlânnaghi oḍi’ ma’lѐ ngastѐtѐ// (potongan syi'ir Orang Mate – dipopulerlan oleh Raden Muhammad Aminullah Murad).
Puji-pujian kami kenal di langgar dan dari musala kampung dengan menggunakan pengeras suara. Biasanya kami membaca puji-pujian menjelang azan atau setelah azan menunggu imam salat tiba. Pujian kami anggap sebagai doa dan harus bersungguh-sungguh membacanya. Pujian yang dibaca adalah sanjungan kepada Tuhan dan rasul semata.
Masih lekat dalam ingatan, jika malam Syakban tiba, setelah salat Isya berjemaah di langghâr kami diberi tugas guru ngaji untuk membaca doa Lailaha illa anta subhanaka inni kuntu minad dzolimin. Ada yang disuruh membaca seratus kali, ada juga yang sampai sepuluh ribu kali.
Malam bahagia dan menyenangkan. Kami menyebar dari langghâr ke tempat-tempat yang agak sepi. Di langit bulan benderang menyirami latar. Penerang malam yang tak tersaingi lampu listrik, karena waktu itu belum ada aliran listrik di desa. Setelah tugas selesai, kembali lapor ke guru ngaji, baru diizinkan pulang.
Betapa penting arti langghâr bagi kami di Sampang. Langghâr bukan hanya tempat belajar mengaji, tetapi juga di situ kami merayakan ritual keagamaan, kami berkumpul bersama kerabat dan tetangga untuk selamatan, dan untuk menginap tamu laki-laki dari keluarga jauh. Dari langghâr pula kami mengenal bacaan karya sastra.
Barangkali karena masih banyak pendapat yang tidak memperbolehkan mendengarkan lagu-lagu atau bacaan selain bacaan Al-Qur’an. Sastra demikian tertutup di Sampang sehingga karya sastra tumbuh di tempat lain, di sini hanya dikenal dengan sebutan pujian. Dari sana keindahan tumbuh mewarnai masa anak-anak di antara kegaduhan nyanyian orkes melayu.
Saya mengenal sastra lebih luas setelah keluar dari kampung halaman. Di luar saya melihat ke dalam kampung bahwa banyak hal yang menyebabkan sastra tidak bisa tumbuh. Salah satunya berhubungan dengan persepsi masyarakat menganggap kegiatan seni adalah kegiatan yang tidak berguna. Aktivitas para pengkhayal yang tidak punya pekerjaan sehingga tak ada yang kami kenal selain ritual pembacaan Barzanji, Sarafal Anam, Burdah, dan Diba’.
Sedangkan kasidah Burdah lebih banyak dibacakan oleh orang tua kami saat ada anggota keluarga yang sakit dan sulit untuk disembuhkan. Sebuah kasidah yang dilagukan untuk meminta kesembuhan atau jika tidak, diambil kembali oleh Yang Mahakuasa. (*)
*)Guru dan berdiam di Komunitas Sastra Stingghil
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti